BALIPORTALNEWS.COM – Pertumbuhan penduduk tentu membawa dampak pada alih fungsi lahan di Kota Denpasar, hal ini juga berpengaruh pada bergesernya tatanan budaya agraris masyarakat. Melihat hal tersebut Pemkot Denpasar telah melakukan upaya bersinergi dengan tokoh-tokoh masyarakat adat menggalakan budaya pertanian yang juga sebagai warisan nenek moyang agar tetap terjaga di Kota Denpasar.

Penguatan program Subak Lestari menjadi salah satu program Walikota Denpasar I.B Rai Dharmawijaya Mantra lewat gelaran  Lomba Lelakut, Pindekan dan Sunari melalui leading sector  Dinas Kebudayaan Kota Denpasar serangkaian HUT Kota Denpasar Ke- 229 Tahun 2017.

Pelaksanaan lomba dibuka Walikota Denpasar I.B Rai Dharmawijaya Mantra pada Rabu (15/2/2017) di Subak Anggabaya, Desa Pakraman Anggabaya Denpasar, yang juga dihadiri Sekda Kota Denpasar A.AN Rai Iswara, Organisasi Perangkat Daerah Pemkot Denpasar, Sabha Upadesa, serta tokoh masyarakat adat setempat.

Baca Juga :  Melonjak, 44 Orang Sembuh Covid-19 di Denpasar

Walikota Denpasar, I.B Rai Dharmawijaya Mantra mengatakan pergeseran seperti alih fungsi lahan dan berubahnya pola budaya agraris masyarakat merupakan sesuatu yang tak bisa dihindarkan, menanggapi fenomena ini perlu lebih digencarkan inovasi seperti Urban Farming dan pertanian Hidroponik yang tidak memerlukan lahan banyak namun mampu menghasilkan produktivitas hasil pertanian yang sesuai.

“Program Subak Lestari yang digaungkan Pemkot Denpasar, selain juga membenahi segi teknis, juga membantu petani untuk meningkatkan kreativitas dan produktivitas pertanian lewat program asuransi pertanian, serta memberikan program beasiswa bagi anak petani yang masih bersekolah,” ujar Rai Mantra.

Baca Juga :  UMKM Jembrana Mulai Rasakan Manfaat QRIS Bank BPD Bali

Disamping itu dalam lomba kali ini dengan keterlibatan generasi muda dalam penguatan budaya mampu memberikan inovasi dan kreativitas yang baik. Rai Mantra juga mengharapkan lomba ini dapat dilaksanakan secara berkesinambungan lewat kemasan kreatif melibatkan sekaa teruna di banjar-banjar.

Ketua Majelis Subak Kota Denpasar, Wayan Jelantik mengatakan pelaksanaan Lomba Lelakut, Pindekan dan Sunari bertujuan untuk menumbuhkan rasa kepedulian masyarakat untuk melestarikan budaya persubakan berdasarkan konsep Tri Hita Karana di Kota Denpasar.

“Disamping itu pelaksanaan Lomba Lelakut, Pindekan dan Sunari diharapkan mampu merangsang kreatifitas sekaa- sekaa subak maupun sekaa teruna yang berpartisispasi didalamnya, disamping memberikan pemahaman tentang filososfi lelakut, pindekan dan sunari” ujar Wayan Jelantik.

Baca Juga :  Viral Penjualan Pantai Pribadi, PC KMHDI Angkat Bicara

Ketua Tim Penilai Lomba, I Wayan Bhutuantara menjelaskan dalam Lomba Lelakut, Pindekan dan Sunari ini dinilai mulai dari proses pembuatan , bahan baku yang diwajibkan menggunakan bahan ramah lingkungan, estetika bentuk, serta kelengkapan sarana upakara yang mendukungnya.

Hal ini tak terlepas dari keberadaan Lelakut, Pindekan dan Sunari sebagai bagian dari kegiatan keagamaan di Bali. Disamping itu perlu adanya pemahaman mengenai symbol dan makna yang terkandung dalam Lelakut, Pindekan, dan Sunari seperti sepasang lelakut pria wanita yang bermakna Purusa Pradana.

Selain itu Keterlibatan Sekaa Teruna dalam lomba ini diharapkan sebagai penyambung regenarasi antar karma subak dan generasi muda agar aktivitas persubakan di Kota Denpasar tetap terjaga kelestariannya. (esa/humasdps/bpn)