BALIPORTALNEWS.COMBerbagai upaya yang telah diselenggarakan pemerintah bersama masyarakat dalam menjaga dan melestarikan adat, budaya dan agama di Bali, salah satunya pasraman. Media ini diharapkan bisa menjadi ajang bagi generasi muda dalam meningkatkan kualitas  sumber daya manusianya berupa wawasan tentang kearifan lokal yang patut dijaga serta melindungi generasi muda dari ancaman-ancaman perilaku negatif. Demikian disampaikan Wagub Ketut Sudikerta saat menghadiri acara Penutupan  Sekeha Teruna Desa Pakraman Banyuning yang diselenggarakan di Wantilan Desa Pekraman Banyuning, Singaraja, Minggu (9/10/2016).

“Sudah sepatutnya kita melestarikan kearifan lokal yang kita miliki, salah satunya melalui pesraman yang saya harapkan bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) generasi muda dalam menjaga budaya, adat dan  agama dengan cara meningkatkan wawasan yang dimiliki,” cetus Sudikerta. 

Lebih jauh, ditengah persaingan global saat ini, khususnya Bali yang menjadi daerah tujuan wisata internasional rentan  untuk menerima pengaruh budaya dari luar baik budaya yang bagus maupun yang buruk yang bisa menggerus budaya masyarakat Bali. Oleh karena itu, Sudikerta menegaskan pentingnya rasa percaya diri, bangga akan budaya sendiri, yang tumbuh dari dalam diri para generasi muda untuk menjaga dan melestarikannya.

Pengaruh perilaku negatif pun menurutnya menjadi efek samping pariwisata yang dibawa oleh wisatawan, yang bisa dihindari dengan berbagai kegiatan positif dipesraman, disamping ajang pelestarian budaya. Generasi muda yang disasar dalam kegiatan ini yang dinilai cepat menyerap informasi, juga diharapkan bisa  mengetoktularkan kepada generasi muda lainnya dilingkungan tempatnya bergaul.  

Kelian Desa Pekraman Banyuning, Ketut Damuh menyatakan juklak- juklis pelaksanaan pesramaan tahun ini sedikit berbeda dengan pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya, serta dengan anggaran yang lumayan terbatas sekitar 20 juta. Walau hanya dengan dana sebesar itu, Ia mengaku berusaha melaksanakan kegiatan yang maksimal agar bisa bermanfaat bagi generasi muda, dan secara tidak langsung akan bermanfaat bagi lingkungannya.

Lebih jauh, Ia menjelaskan walau pesraman merupakan satu kegiatan non formal, dan banyak wawasan yang sudah didapatkan di lingkungan formal, Ia tetap melaksanakan kegiatan yang bisa menambah wawasan generasi muda terutama yang tidak terlalu didapat dilingkungan formal. Selanjutnya dengan wawasan tersebut,  generasi muda diharapkan bisa menjadi vibrasi dalam melanjutkan pembangunan, yakni generasi yang bisa melaksanakan swadarmanya sebagai generasi muda di sekolah dan masyarakat.

Melalui berbagai kegiatan yang dilaksanakan, peserta diajak melaksanakan kegiatan-kegiatan positif untuk membentuk mental dan karakternya sehingga bisa terhindar dari perilaku negatif. Ditambahkan Ketua Panitia, Nyoman Darwin Setiabudi bahwa kegiatan  Pasraman digelar mulai 25 September s.d 5 Oktober 2016, dengan pkegiatan berupa  sosialisasi tentang penyalahgunaan narkoba dan penyebaranHIV-AIDS.

Sosialisasi ini dianggap penting saat ini karena generasi muda yang paling rentan menjadi korban penyalahgunaan narkoba maupun pergaulan bebas yang menjadi awal penyebaran HIV-AIDS, sehingga dengan adanya sosialisasi diharapkan generasi muda bisa membentengi diri perilaku negatif. Kegiatan yang lain yang dilaksanakan yakni pembinaan tabuh lelongoran yang merupakan tabuh khas daerah Banyuning, sebagai bentuk pelestarian budaya. 

Wagub Sudikerta kala itu juga berkesempatan menghadiri rangkaian Upacara Ngaben Massal di Br. Purwa Kerthi, Ds. Purwa Kerthi, Abang, Karangasem. Pada kesempatan itu sedang berlangsung upacara Ngelanus, sedangkan upacara Ngaben sudah dilangsungkan pada tanggal 29 September 2016. Berikutnya pada tanggal 11 Oktober 2016 akan dilangsungkan upacara Memukur dan Meajar-ajar, yang ditutup dengan upacara Ngelinggihang. Rangkaian upacara tersebut, diikuti sekitar 40 Sawa yang berasal dari satu kelompok Dadya.

Tak hanya itu, Keberadaan pasangan pekak Nengah Dayuh (65) beserta istrinya Wayan Puri (62), yang mengalami gangguan saraf kaki karena faktor umur dan kebetulan  rumahnya bersebelahan dengan lokasi upacara juga mengundang keprihatinan Wagub Sudikerta, dan menyempatkan diri menengok keadaan pasangan tersebut untuk menyerahkan bantuan uang tunai yang diharapkan bisa meringankan beban yang ditanggung beberapa hari kedepan. (hms prov bali/bpn)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini