OJK Waspadai Gejolak Global, Industri Jasa Keuangan Nasional Tetap Tangguh. sumber foto : istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan industri jasa keuangan Indonesia tetap berada dalam kondisi stabil dan resilien meskipun menghadapi tekanan ekonomi global yang semakin meningkat. Ketahanan sektor keuangan nasional terlihat dari pertumbuhan kredit, kuatnya permodalan perbankan, serta terjaganya kinerja berbagai sektor jasa keuangan sepanjang awal tahun 2026.

Dalam hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Mei 2026, OJK mencermati meningkatnya risiko global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah yang masih berlanjut. Situasi tersebut memicu kenaikan harga energi dunia, memperbesar tekanan inflasi, serta mendorong ekspektasi suku bunga tinggi yang berlangsung lebih lama di berbagai negara.

Meski demikian, OJK menilai fondasi ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Aktivitas ekonomi domestik tetap bergerak positif ditopang sektor manufaktur yang kembali ekspansif, inflasi yang masih terkendali, dan neraca perdagangan yang terus mencatatkan surplus.

Baca Juga :  OJK Dorong Penanganan Scam Keuangan Lewat Kolaborasi Indonesia-Australia

Kondisi tersebut turut tercermin pada kinerja industri perbankan. Hingga April 2026, penyaluran kredit tumbuh 9,98 persen secara tahunan menjadi Rp8.755 triliun. Pertumbuhan kredit terutama didorong oleh Kredit Investasi yang melonjak 19,48 persen, menunjukkan aktivitas ekspansi dunia usaha masih berjalan. Kredit korporasi juga mencatat pertumbuhan tinggi sebesar 15,51 persen yoy.

Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 11,39 persen menjadi Rp10.077 triliun. Likuiditas perbankan tetap berada di level yang aman dengan berbagai indikator berada jauh di atas ambang batas yang ditetapkan regulator.

Kualitas aset perbankan juga masih terjaga. Rasio kredit bermasalah (NPL) gross tercatat 2,17 persen, sementara NPL net berada di level 0,84 persen. Di saat yang sama, rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 23,97 persen, memperlihatkan kemampuan perbankan dalam menyerap potensi risiko masih sangat kuat.

Baca Juga :  OJK Dukung Kepastian Hukum Penanganan Kredit Macet Lewat Business Judgement Rule

Di sektor pasar modal, meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi akibat tekanan global, aktivitas investor domestik justru terus meningkat. OJK mencatat jumlah investor pasar modal telah mencapai 27,75 juta orang atau tumbuh 36,27 persen sejak awal tahun. Penambahan investor baru selama Mei 2026 mencapai 1,26 juta orang.

Selain itu, pasar modal tetap berperan penting sebagai sumber pembiayaan dunia usaha. Hingga Mei 2026, nilai penghimpunan dana melalui pasar modal mencapai Rp68,18 triliun, dengan puluhan rencana penawaran umum masih berada dalam pipeline.

Baca Juga :  Satgas PASTI Ungkap Dugaan Penipuan Investasi Modus Impersonasi Magento

Pada sektor keuangan non-bank, industri asuransi mencatat total aset Rp1.202,16 triliun atau tumbuh 3,39 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Sementara aset dana pensiun meningkat menjadi Rp1.690,64 triliun atau tumbuh 6,12 persen yoy.

Sektor pembiayaan juga menunjukkan tren positif. Piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan naik menjadi Rp514,65 triliun, sedangkan industri pinjaman daring (Pindar) membukukan outstanding pembiayaan sebesar Rp102,07 triliun atau tumbuh 26,11 persen secara tahunan.

Di tengah perkembangan tersebut, OJK menegaskan akan terus memperkuat pengawasan, menjaga stabilitas sistem keuangan, serta meningkatkan perlindungan konsumen. Berbagai kebijakan penguatan industri keuangan, literasi keuangan, dan digitalisasi sektor jasa keuangan juga terus didorong agar sektor keuangan semakin berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. (*/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News