
BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Perayaan Hari Tri Suci Waisak 2570 Buddhist Era Tahun 2026 di Bali berlangsung semarak melalui berbagai kegiatan yang diselenggarakan Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia (Mapanbumi) Provinsi Bali di Maha Vihara dan Pusdiklat Buddha Maitreya Bali, Jalan Gunung Soputan, Denpasar, pada 30–31 Mei 2026.
Mengusung konsep yang memadukan nilai spiritual, kesehatan, sosial, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, perayaan tahun ini menghadirkan ritual pemandian rupang Buddha, bazar makanan nabati, donor darah, yoga bersama, hingga berbagai hiburan dan kegiatan edukatif bagi keluarga.
Ketua Persatuan Umat Buddha Indonesia Bali sekaligus Ketua Majelis Mapanbumi Bali, Heri Sudiarto, mengatakan peringatan Waisak tahun ini mengangkat tema “Dharma Menjaga Perdamaian Dunia”. Tema tersebut merupakan tema nasional yang ditetapkan bersama Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI.
Menurutnya, pesan perdamaian menjadi sangat penting di tengah berbagai tantangan global yang terjadi saat ini. Melalui ajaran Buddha yang menekankan kebajikan dan welas asih, umat diajak membangun kehidupan yang harmonis dengan sesama tanpa memandang latar belakang perbedaan.
“Nilai-nilai cinta kasih dan kebajikan yang diajarkan Buddha menjadi fondasi penting untuk menciptakan kedamaian, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.
Salah satu tradisi yang menjadi bagian penting dalam perayaan Waisak adalah ritual pemandian rupang Buddha. Tradisi ini dilaksanakan sebagai simbol penyucian diri dan refleksi spiritual bagi umat Buddha.
Heri menjelaskan bahwa makna utama dari ritual tersebut bukan sekadar membersihkan rupang Buddha secara fisik, melainkan mengingatkan umat agar terus menjaga kemurnian pikiran, ucapan, dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.
“Ketika pikiran manusia bersih dari noda batin, maka segala tindakan dan ucapan yang dihasilkan akan membawa kedamaian bagi lingkungan sekitar,” katanya.
Selain kegiatan keagamaan, perayaan Waisak tahun ini juga diramaikan bazar makanan nabati yang mendapat sambutan positif dari masyarakat. Ketua Panitia Bazar Makanan Nabati, Evi Juliana, mengatakan kegiatan tersebut menjadi sarana memperkenalkan gaya hidup sehat sekaligus mendukung pelaku UMKM yang bergerak di bidang kuliner dan produk ramah lingkungan.
Sebanyak 44 stan berpartisipasi dalam bazar tersebut. Dari jumlah itu, 40 stan menyajikan aneka makanan dan minuman nabati, sedangkan sisanya menawarkan produk pakaian, aksesori, hingga eco enzym.
Pilihan menu yang tersedia pun cukup beragam, mulai dari kuliner khas Bali, masakan Nusantara, Chinese food, Japanese food hingga masakan Padang yang seluruhnya diolah tanpa bahan hewani.
“Hidangan vegan bukan sekadar olahan sayuran, tahu, dan tempe yang sederhana, melainkan dapat dikembangkan menjadi menu tradisional yang kaya rasa seperti nasi Bali versi vegan,” kata Evi.
Menurutnya, bazar ini juga menjadi sarana edukasi bahwa makanan vegan tidak hanya menyehatkan, tetapi juga mampu menghadirkan cita rasa yang beragam dan menarik bagi berbagai kalangan.
Rangkaian kegiatan Waisak turut menghadirkan berbagai aktivitas yang melibatkan masyarakat dari segala usia. Mulai dari yoga bersama, lomba mewarnai untuk anak-anak tingkat TK dan SD kelas rendah, talkshow kesehatan, hingga aksi donor darah.
Suasana perayaan juga semakin meriah dengan penampilan lion dance yang dibawakan para pemain senior berusia di atas 50 tahun serta penampilan musisi Bali, Gus Teja dan Ayu Saraswati.
Melalui berbagai kegiatan tersebut, Mapanbumi Bali berharap perayaan Waisak tidak hanya menjadi momentum spiritual bagi umat Buddha, tetapi juga menjadi ruang mempererat kebersamaan, menumbuhkan kepedulian sosial, dan menyebarkan pesan perdamaian kepada masyarakat luas.(*/bpn)












