
BALIPORTALNEWS,COM, YOGYAKARTA – Menutup tour pemutaran Film ROOTS – One Hundred Years of Walter Spies in Bali yang secara serentak selama bulan Mei 2026 dilaksanakan di empat kota Jakarta, Yogyakarta, Magelang dan Ubud Bali pada 20 Mei 2026 yang lalu. Sebagai akhir pemutaran film yang bertempat di Bale Banjar Sokasi Café Ubud mendapat respond yang luar biasa terutama bagi kalangan ekpatriat dan pengunjung café.
Yudha Bantono yang dipercaya dan diberikan mandat untuk memutar film karya Michael Schindhelm mengatakan Film ROOTS yang tahun lalu telah diputar keliling Bali, tahun ini sukses dilaksanakan setelah pemutaran Bulan April lalu di Perth Australia, kemudian di Jakarta dan di Yoyakarta, Magelang dan kembali ke Ubud Bali.
Lebih lanjut menurut Yudha, rangkaian program pemutaran film ROOTS di Yogyakarta bertempat di Buku Seni Rupa, ISI Yogyakarta, dan Yamie Bang Doel. Sedangkan untuk Magelang bertempat di Museum OHD dan Museum H. Widayat.
Menurut Yudha yang sejak dari awal ingin memutar film ROOTS keliling Jawa ini bahwa perjalanan dari Yogyakarta dan Magelang masih akan berlanjut kembali ke Jakarta dan Bandung. “Antusias publik seni dan budaya memang terlihat sangat tinggi, disamping rencana, kami juga mendapat permintaan tempat baru pemutaran baik di Jakarta dan Bandung”, tambah Yudha.
Film ROOTS yang menelusuri jejak hidup Walter Spies, seniman berkebangsaan Jerman kelahiran Moskow sebelum kedatangan pertamanya di Bali pada 1925, memang telah menginjakkan kakinya terlebih dahulu di Batavia yang sekarang kita kenal Jakarta, kemudian Bandung, dan Yogyakarta. Bila dihubungkan dengan napak tilas kedatangannya, maka film ini tentunya memiliki pertalian sejarah yang sangat kuat.
Pernyataan ini dibenarkan oleh Yudha, bahwa memang salah satu bagian alasan dari pemutaran film ROOTS di Pulau Jawa memang ada kaitannya untuk mengingat kembali sekaligus merangkai cerita kembali tentang kedatangan Walter Spies ke Indonesia yang kemudian menetap di Bali.
Film Roots yang menggabungkan elemen dokumenter dan fiksi telah berhasil menggali peran Walter Spies sebagai katalisator kreatif sekaligus figur kontroversial. Dengan menampilkan arsip, rekonstruksi, dan wawancara dengan tokoh akademisi seni, budayawan, seniman, LSM dan penggerak kepedulian lingkungan hidup, menjadikan Film ini penuh pertanyaan keberadaan tentang Bali dari kunjungan hingga saat ini.
ROOTS tidak hanya menyorot kontribusi artistik Spies dari pelestarian tari hingga estetika visual, tetapi juga membuka diskursus tentang dinamika kuasa budaya, kolonialisme, dan dampak pariwisata. Michael Schindhelm membawa pemirsanya kembali ke titik awal, menghubungkan masa lalu dan masa kini dalam narasi yang benang merahnya menjadi refleksi perkembangan Bali dari seratus tahun kedatangannya.
Menurut Yudha, secara keseluruhan pemutaran Film ROOTS di Yogyakarta dan Magelang banyak mendapat respon dari audien dimana sebagian mempertanyakan peran seniman pasca Walter Spies terhadap perjalanan Bali. Salah satu seniman yang terlibat dalam pembuatan film dan pameran ROOTS di Basel Swiss dan ARMA Museum Ubud Made Bayak telah memberikan respon dari pertanyaan yang telah diajukan audiens. Bayak yang ikut dalam diskusi keliling Pemutaran Film Roots di Yogyakarta dan Magelang memeberikan contoh happening artnya dengan telah melakukan protes pada aksi Bali Tolak Reklamasi.
“Kami berharap pemutaran Roots di Yogyakarta dan Magelang seperti yang telah dilaksanakan film ROOTS dapat menjadi peristiwa sekaligus medan percakapan kritis tentang bagaimana sejarah seni dibaca ulang, diperdebatkan, dan digaungkan dalam praktik yang dapat menghadirkan kesan sensitive terhadap persoalan yang terjadi, khususnya di Bali, bahkan daerah-daerah yang lain ”, ujar Yudha Bantono. (*/bpn)












