
BALIPORTALNEWS.COM, JIMBARAN – Permasalahan sampah, khususnya sampah organik, masih menjadi tantangan serius di Bali yang berdampak pada lingkungan. Menjawab hal tersebut, tim dosen ITB STIKOM Bali melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di PKBM Mentari Fajar Jimbaran melalui inovasi edukasi berbasis teba modern dan media pembelajaran digital.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat (6/3/2026) ini menghadirkan konsep revitalisasi teba sebagai ruang edukasi lingkungan (eco-education space), sekaligus memperkenalkan media digital untuk mendukung pemahaman siswa dalam pengelolaan sampah.
Tim dosen terdiri dari Komang Hari Santhi Dewi, S.Pd., M.Pd., selaku ketua, bersama Dr. I Nyoman Bagus Pramartha, S.Pd., M.Pd., dan Rifky Lana Rahardian, S.Kom., M.T., dengan melibatkan mahasiswa dalam pelaksanaannya.
Ketua tim, Komang Hari Santhi Dewi, menjelaskan bahwa pendekatan ini dirancang untuk menjembatani teori dan praktik dalam pembelajaran lingkungan.
“Permasalahan sampah tidak bisa hanya diselesaikan secara teori. Melalui teba modern, siswa dapat belajar langsung mulai dari pemilahan sampah, proses pembuatan kompos, hingga pemanfaatannya,” ujarnya.
Selain pembangunan teba modern, tim juga mengembangkan media pembelajaran digital berupa video edukasi. Media ini berfungsi sebagai pengantar sebelum praktik lapangan, sehingga siswa dapat memahami konsep secara visual dan lebih mudah diaplikasikan.
Pendekatan ini dinilai efektif untuk menjangkau berbagai gaya belajar siswa, termasuk yang membutuhkan metode pembelajaran lebih interaktif.
Program ini juga dilengkapi dengan pelatihan desain kemasan untuk mendukung pemasaran produk hasil olahan siswa, seperti kompos dan kerajinan berbasis limbah. Langkah ini diharapkan dapat menumbuhkan keterampilan kewirausahaan berbasis lingkungan.

Kepala PKBM Mentari Fajar, Raden Layung Kusuma Maulana, menyambut positif program tersebut karena sejalan dengan kegiatan rutin sekolah.
“Setiap hari Jumat siswa kami belajar di kebun, sehingga teba modern ini bisa langsung diintegrasikan sebagai ruang belajar yang lebih terarah. Media digital juga sangat membantu dalam penyampaian materi,” ungkapnya.
Melalui program ini, siswa diharapkan tidak hanya memiliki kesadaran dalam pengelolaan sampah, tetapi juga mampu mengolahnya menjadi produk bernilai guna dan berpotensi ekonomi.
Inisiatif ini sekaligus menjadi langkah konkret dalam memperkuat edukasi lingkungan berbasis kearifan lokal di Bali, dengan menggabungkan pendekatan tradisional dan teknologi modern.(*/bpn)












