BALIPORTALNEWS.COM, KARANGASEM — Harapan Pemerintah Kabupaten Karangasem untuk menekan persoalan sampah residu melalui pengoperasian mesin incinerator di TPA Linggasana harus kandas. Baru sekitar satu tahun beroperasi, alat pembakar sampah bersuhu tinggi yang menelan anggaran hingga Rp4 miliar tersebut kini resmi dihentikan operasionalnya.
Penghentian dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Karangasem sejak sepekan terakhir, menyusul adanya penyegelan incinerator dengan spesifikasi serupa di Kabupaten Badung.
Kepala DLH Karangasem, I Nyoman Tari, mengungkapkan pihaknya memilih menghentikan operasional alat secara mandiri sebelum ada tindakan penyegelan.
“Kami menghentikan sendiri operasional alat tersebut sebelum disegel, karena di Badung sudah disegel. Alatnya sama, dan menurut informasi disegel karena tidak lulus uji emisi,” ujarnya saat ditemui, Jumat (6/2/2026).
Dengan berhentinya incinerator, persoalan penanganan sampah di Karangasem kembali menemui kebuntuan. Situasi ini semakin kompleks karena rencana pembangunan TPA baru di Desa Datah, Kecamatan Abang, mendapat penolakan dari warga setempat, sehingga belum bisa direalisasikan.
Menghadapi kondisi tersebut, DLH Karangasem kini dipaksa memutar otak untuk mencari solusi jangka pendek agar tumpukan sampah tidak semakin menggunung. Salah satu langkah yang disiapkan adalah rehabilitasi TPA Linggasana seluas sekitar 2,5 hektare.
Rehabilitasi dilakukan dengan cara pengerukan dan pengayakan material sampah yang telah tertimbun selama kurang lebih 10 tahun terakhir.
“Material hasil ayakan rencananya akan kami berikan kepada masyarakat yang membutuhkan, misalnya untuk mengurug lahan bekas galian C,” jelas Tari.
Ia memperkirakan, apabila proses rehabilitasi TPA Linggasana berjalan sesuai rencana, daya tampung TPA tersebut masih mampu menampung sampah residu hingga lima tahun ke depan.
Sambil menunggu solusi jangka panjang, DLH Karangasem juga melakukan pemilahan sampah yang masuk ke TPA. Sampah organik diupayakan untuk dicacah, sampah plastik dipilah agar dapat dimanfaatkan kembali oleh pemulung, sementara sampah residu masih menjadi pekerjaan rumah besar.
“Untuk sementara, sampah yang masuk akan dipilah. Sampah organik dicacah, plastik diupayakan dipilah oleh pemulung agar yang masih bernilai bisa dimanfaatkan. Sedangkan untuk residu, saat ini memang belum ada solusi pasti mau diapakan,” tandasnya.(st/bpn)













