Ngunying “Ganas” di Desa Adat Banjar Bengkel, Antara Bakti, Spiritualitas dan Kehendak Sesuhunan
Ngunying “Ganas” di Desa Adat Banjar Bengkel, Antara Bakti, Spiritualitas dan Kehendak Sesuhunan. Sumber Foto : tis/bpn

BALIPORTALNEWS.COM, TABANAN — Mengulas kekuatan spiritual Bali seakan tak pernah ada habisnya. Salah satu tradisi sakral yang kerap menyita perhatian adalah ngunying, yang biasanya ditampilkan pada akhir pementasan Calonarang dalam rangkaian piodalan Pura Tri Kahyangan di Bali.

Ngunying, yang juga dikenal dengan istilah ngurek, merupakan ritual menusuk diri dengan keris saat seseorang berada dalam kondisi kerauhan (kerasukan). Ritual ini menjadi simbol bakti, persembahan, sekaligus manifestasi kekuatan spiritual, di mana pelaku diyakini kebal terhadap luka fisik. Meski bagian tubuh yang ditusuk bisa beragam, mulai dari perut, dada, kening, hingga alis. Menariknya, tidak terlihat luka ataupun darah, meskipun keris yang digunakan tampak tajam.

Baca Juga :  Bangli Pukau Ribuan Penonton PKB 2026, Sanggar Swara Padma Bhuana Tampilkan Tari Bapang Barong Ket yang Memesona

Tradisi ini secara turun-temurun dilaksanakan di Desa Adat Banjar Bengkel, khususnya saat piodalan di Pura Desa lan Puseh maupun Pura Kahyangan Dalem. Rangkaian upacara biasanya diawali dengan Sesuhunan Napak Pertiwi, lalu ditutup dengan prosesi ngunying.

Dalam beberapa kesempatan, video ngunying di Desa Adat Banjar Bengkel viral di media sosial dan memicu beragam respons dari warganet, baik dari Bali maupun luar daerah. Ada yang kagum, ada pula yang mempertanyakan sisi keselamatan dari ritual tersebut.

Menanggapi hal itu, Bendesa Adat Banjar Bengkel, I Nyoman Dalem Soka Arta, S.Sos., menjelaskan bahwa dinamika ngunying saat ini memang berbeda dibandingkan masa lalu.

“Terus terang, kami sebenarnya berharap ngunying bisa berjalan seperti dulu. Dahulu tidak seganas sekarang, dan tidak ada yang melompat sebelum ngunying. Sekarang, hampir semua yang kerauhan justru melompat lebih dulu,” ujarnya.

Baca Juga :  Calonarang "Geseng Waringin" Duta Badung Memukau Penonton PKB XLVIII 2026

Ia mengungkapkan bahwa prajuru adat dan pengabih desa bahkan telah melaksanakan sembahyang khusus, memohon agar suasana ngunying kembali lebih landai seperti sebelumnya. Namun demikian, pihak desa meyakini bahwa perubahan tersebut merupakan kehendak Ida Sesuhunan.

“Kami yakini kondisi seperti ini adalah kehendak Sesuhunan, sehingga agak sulit dikendalikan secara manusiawi,” lanjutnya.

Meski demikian, Dalem Soka Arta menegaskan bahwa hingga kini pelaksanaan ngunying selalu berlangsung dengan selamat. Tidak pernah terjadi kecelakaan serius selama ritual berlangsung.

Baca Juga :  Peduli Pendidikan, Desa Adat Penatih Puri Salurkan Dana Motivasi Bagi Murid Baru

“Astungkara selama ini kami selalu diberikan keselamatan dan berada dalam tuntunan-Nya. Kami terus memohon agar ke depan juga tidak pernah terjadi kecelakaan, karena ini murni bakti kami kepada Ida Sesuhunan,” tutupnya.

Bagi masyarakat Desa Adat Banjar Bengkel, ngunying bukanlah tontonan, melainkan ritual sakral yang sarat makna spiritual, sekaligus wujud hubungan mendalam antara manusia, alam, dan kekuatan niskala dalam tradisi Hindu Bali.(tis/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News