fogging
Tim Reaksi Cepat (TRC) Relawan Demam Berdarah Buleleng mengadakan fogging di di Desa Pakisan, Kecamatan Kubutambahan, Minggu (21/12/2025). Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, BULELENG – Wabah demam berdarah menyerang tujuh warga di Desa Pakisan, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng beberapa waktu terakhir. Kondisi ini mendorong pihak desa melakukan upaya pencegahan secara cepat bekerjasama dengan Tim Reaksi Cepat (TRC) Relawan Demam Berdarah Buleleng.

Kepala Desa Pakisan, Gede Wijaya menyebut pihaknya menerima laporan ada tujuh warga khususnya di Dusun Sangburni dan Dusun Tegeha terjangkit penyakit demam berdarah bahkan sudah sempat dirawat di rumah sakit. Sejak saat tersebut pihaknya kemudian melakukan koordinasi dengan pihak Puskesmas II Kubutambahan. Namun beberapa waktu menunggu masih belum ada tindakan ataupun respon untuk penanganan.

Baca Juga :  Bupati Sutjidra Resmikan Uji Coba Penerangan, Titik Nol Singaraja Tampil Lebih Menawan

“Sudah kami laporkan sebelumnya agar segera mendapat tindakan, tapi kami terus didesak warga. Jadi kami ambil langkah ini (menghubungi Tim Reaksi Cepat (TRC) Relawan Demam Berdarah Buleleng, red) karena warga kami sangat percaya dan yakin bila terkena DB wajib dilakukan fogging,” jelasnya usai melakukan fogging, Minggu (21/12/2025).

Meski begitu, Wijaya mengaku sudah terus melakukan sosialisasi agar masyarakat bisa melakukan pencegahan dengan langkah 3M plus serta menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Merespon permintaan masyarakat Ketua Tim Reaksi Cepat (TRC) Relawan Demam Berdarah Buleleng, Ketut Putra Sedana atau yang akrab disapa dr. Caput langsung bergerak bersama tim ke lokasi yang dimaksud. Fogging pun tidak hanya menyasar rumah warga yang sudah sempat terjangkit, namun juga rumah dengan radius 100 meter.

Menurutnya demam berdarah memang penyakit musiman, akan tetapi dipandang perlu adanya penanganan serius dan bagaimana masyarakat mau melakukan upaya pencegahan dengan menerapkan 3M-Plus sesuai anjuran.

Baca Juga :  Wali Kota Jaya Negara Hadiri Puncak Karya Padudusan Agung di Segara Rupek

“Fogging hanya salah satu upaya memutus mata rantai penyebaran DB, melalui fogging hanya mampu membasmi jentik-jentik nyamuk. Tapi terpenting masyarakat harus berpola hidup bersih setiap harinya melalui membersihkan genangan air, selokan, mengubur kaleng bekas dan menguras bak kamar mandi secara berkala, bila hal itu dapat diterapkan masing-masing individu, niscaya akan sehat secara lahir dan bathin,” tandasnya.(dar/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News