
BALIPORTALNEWS.COM, GIANYAR — Suasana sederhana di Yayasan Cahaya Mutiara Ubud menjadi saksi bagaimana ruang kecil mampu menumbuhkan percaya diri dan mimpi baru bagi penyandang disabilitas. Di tempat ini, puluhan anggota yayasan berlatih menari, memahat, menganyam, hingga mengelola galeri kerajinan sebuah perjalanan pemulihan yang dibangun dari keyakinan bahwa keterbatasan bukan akhir.
Yayasan yang dikelola sepenuhnya oleh difabel ini sejak awal memegang prinsip kemandirian. Keyakinan itu bertemu dukungan Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal (AFT) Ngurah Rai melalui program Sahabat Disabilitas Ubud, yang fokus memperkuat kapasitas difabel bukan hanya sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai pelaku ekonomi kreatif.
Ketua Yayasan, Ni Nengah Warni, menegaskan bahwa kesempatan berkarya jauh lebih penting daripada sekadar fasilitasi.
“Kami ingin menunjukkan bahwa kami mampu. Bahkan dengan keterbatasan, kami tetap bisa berkarya,” ujarnya.
Program Sahabat Disabilitas Ubud mencakup peningkatan fasilitas ruang latihan dan galeri, penyediaan peralatan catering, smart cashier, hingga pelatihan digital marketing bersama Benlaris.com. Transformasi pun terlihat nyata.
Yande (31), penyandang cerebral palsy, kini mampu mempromosikan kerajinan melalui Instagram dan WhatsApp serta mengoperasikan smart cashier di galeri yayasan.
“Saya jadi lebih percaya diri. Saya belajar percaya pada diri saya sendiri,” katanya.
Sementara itu, Karmen (27), yang sebelumnya pemalu, kini terbiasa siaran langsung di TikTok untuk mempromosikan produk kerajinan yayasan. Dalam satu bulan, omzet penjualan mencapai Rp500.000 per hari.
Salah satu inisiatif terkuat adalah paket wisata edukatif ‘One Day With Difabel’, yang memungkinkan masyarakat belajar, berkarya, dan berinteraksi langsung. Program ini mencatat rata-rata 2–3 kunjungan per bulan dengan pemasukan mencapai Rp6.000.000.
“Pengunjung datang bukan untuk melihat kami, tapi belajar bersama kami,” ujar Karmen.
Selain berkarya, para difabel juga kerap tampil di acara resmi Pertamina, seperti Bulan K3 dan Uma Palak Festival. Kepercayaan itu mendorong yayasan rutin menggelar konser amal dan mengumpulkan dana hingga Rp7.500.000 per bulan.
Di bidang olahraga, tiga atlet yayasan berhasil meraih Juara 1 lomba lari kursi roda pada Maybank Marathon. Pertamina turut memberikan dukungan pembinaan atas prestasi tersebut.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar CSR.
“Pemberdayaan difabel berarti membuka ruang kesempatan yang setara. Ketika akses, pelatihan, dan kepercayaan diberikan, potensi para sahabat di Yayasan Cahaya Mutiara berkembang luar biasa,” ujarnya.
Program ini sejalan dengan semangat Hari Disabilitas Internasional, yang menekankan partisipasi penuh penyandang disabilitas dalam seluruh aspek kehidupan.
Pertamina Patra Niaga AFT Ngurah Rai menunjukkan bahwa inklusi bukan jargon—melainkan pendampingan berkelanjutan yang memberi ruang bagi difabel untuk tidak sekadar hadir, tetapi menentukan arah hidupnya.
Ruang kecil di Ubud ini kini menjadi panggung besar bagi mimpi, keberanian, dan kemandirian. Sahabat Disabilitas Ubud membuktikan bahwa inklusi adalah kolaborasi yang melahirkan peluang ekonomi, rasa percaya diri, serta masa depan yang lebih terbuka bagi penyandang disabilitas.(r/bpn)












