
BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Pemerintah terus memperkuat pembiayaan produktif bagi pelaku usaha kecil melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) 2025. Pada Kamis (6/11/2025), Kementerian UMKM menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Penyaluran KUR Regional Jawa Timur, DI Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) di Gedung Tirta Gangga, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali.
Rakor yang dipimpin Wakil Menteri UMKM Helvi Moraza ini membahas evaluasi penyaluran KUR hingga Oktober 2025 serta strategi percepatan penyaluran menjelang akhir tahun.
Dalam rakor tersebut, Bank Mandiri Taspen menjadi sorotan positif setelah mencatatkan kualitas kredit luar biasa. Kepala Divisi Consumer Business & Recovery, Mohamad Razif, yang hadir mewakili Direktur Utama Bank Mandiri Taspen, menyebutkan bahwa hingga Oktober 2025 pihaknya telah menyalurkan KUR kepada 2.431 debitur baru di Provinsi Bali.
“Dari total penyaluran Rp135 miliar, 94% dialokasikan untuk sektor perdagangan karena plafon internal kami maksimal Rp50 juta. Untuk sektor produksi yang membutuhkan plafon lebih besar, kami rencanakan penyaluran KUR kecil di atas Rp100 juta pada 2026,” jelas Razif.
Razif menegaskan, kualitas kredit Bank Mandiri Taspen sangat terjaga.
“Kami mencatat NPL 0% dan klasifikasi lancar 99,9%. Hanya lima debitur tercatat DPK karena kekurangan angsuran minor. Secara keseluruhan, seluruh debitur tetap lancar,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan tantangan penyaluran KUR super mikro, khususnya bagi pelaku usaha yang telah menerima KUR dari bank lain atau dua kali berturut-turut. Menurutnya, pelaku usaha yang masih produktif idealnya tetap mendapat dukungan tambahan modal kerja.
“Semangat KUR adalah menjaga keberlanjutan usaha, bukan menghentikannya,” tegas Razif.
Wamen UMKM Helvi Moraza melaporkan, hingga 3 November 2025 penyaluran KUR nasional telah mencapai Rp228 triliun, atau 76% dari target Rp300 triliun.
Program ini telah memberikan manfaat bagi 3,87 juta debitur UMKM, terdiri dari:
- 2,01 juta debitur baru (86,25%)
- 1,18 juta debitur graduasi (101,3%)
Helvi menyebutkan, untuk pertama kalinya porsi penyaluran KUR sektor produksi mencapai 60,7% dari total penyaluran.
“Peningkatan ini menunjukkan kualitas manajemen usaha UMKM semakin membaik dan berpotensi menciptakan 7,7–11,6 juta lapangan kerja baru,” tegasnya.
Total penyaluran KUR di wilayah Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, dan DIY mencapai Rp57,6 triliun atau 25% dari total nasional, dengan rinciannya sebagai berikut:
- Jawa Timur: Rp37,5 triliun (715.862 debitur)
- Bali: Rp8,98 triliun (114.927 debitur)
- NTB: Rp4,6 triliun (81.417 debitur)
- DIY: Rp4,02 triliun (76.990 debitur)
- NTT: Rp2,33 triliun (55.172 debitur)
Namun, Helvi menyampaikan bahwa penyaluran KUR untuk sektor produksi di tingkat penyalur masih perlu ditingkatkan. Hanya empat lembaga penyalur yang mampu memenuhi target 60% sektor produksi.
Menurutnya, hal ini terjadi karena sebagian besar penyalur masih didominasi skema KUR Mikro, sementara sektor produksi memerlukan plafon lebih besar.
Wamen Helvi menegaskan bahwa percepatan penyaluran KUR bukan hanya soal pembiayaan, tetapi bagian dari strategi nasional memperkuat UMKM dan membuka lapangan pekerjaan.
“Program KUR adalah strategi besar pemerintah untuk menyejahterakan masyarakat. Kami menegaskan kembali, pinjaman KUR hingga Rp100 juta tidak boleh dipersyaratkan agunan tambahan, sesuai Permenko Perekonomian Nomor 1 Tahun 2023,” tegasnya.(*/bpn)












