BALIPORTALNEWS.COM, SANUR — Di balik kesuksesan penyelenggaraan Liga.Tennis Open 2025 yang digelar di Sanur, Bali, terdapat visi besar yang tengah dibangun oleh Founder Liga.Tennis, Dmitry Shcherbakov. Melalui pengembangan ekosistem olahraga raket (racket sports), Dmitry menegaskan komitmennya untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat olahraga raket dunia, dengan Bali sebagai kantor pusat global (headquarters).
“Di negara lain seperti Malaysia dan Vietnam, industri ini memang berkembang, tetapi belum memiliki sistem dan standar yang konsisten. Tidak ada ekosistem yang terintegrasi dengan misi yang jelas,” ujar Dmitry saat ditemui di sela-sela turnamen, Sabtu (25/10/2025).
Menurutnya, Liga.Tennis dibangun di atas satu ekosistem yang menyatukan standar, sistem, teknologi, dan misi yang sama.
“Misi kami sederhana tapi kuat, yakni: ‘to inspire people to be better with racket sports’. Dengan kata lain, kami ingin mengubah dunia melalui olahraga raket,” tegasnya.
Dmitry menjelaskan bahwa seluruh pengembangan Liga.Tennis berfokus di Indonesia, dengan Bali sebagai jantung operasional global.
“Kantor utama kami akan selalu di Bali. Bukan di Singapura, bukan di Dubai, bukan di London. Karena Bali memiliki energi dan semangat yang berbeda, ini adalah tempat yang menginspirasi,” ungkapnya.
Visi besar ini didukung dengan rencana pengembangan jaringan 77 fasilitas olahraga raket di seluruh Indonesia dalam waktu 9 tahun. Saat ini, sudah terdapat 6 fasilitas yang beroperasi, 6 lainnya dalam tahap konstruksi, dan 8 lagi segera dimulai.
“Tahun depan kami menargetkan minimal 21 klub aktif di seluruh Indonesia. Semua target ini sudah kami tetapkan secara korporat hingga 9 tahun ke depan,” jelas Dmitry.
Untuk merealisasikan rencana tersebut, Liga.Tennis menerapkan dua model pengembangan. Pertama, membangun klub baru dari nol bersama investor, sebagian besar berasal dari luar negeri. Kedua, mengelola klub yang sudah ada dengan sistem manajemen dan standar Liga.Tennis.
“Kami menawarkan model kerja sama yang transparan dan profesional. Banyak investor asing tertarik karena mereka melihat potensi besar olahraga raket di Indonesia,” tambahnya.
Model bisnis Liga.Tennis disebutnya mirip dengan industri maskapai penerbangan. “Kami bekerja seperti maskapai penerbangan. Mereka tidak harus memiliki pesawat, tapi memiliki sistem, manajemen, dan standar operasi yang kuat. Investor senang dengan model ini karena efisien dan berorientasi pada kualitas,” jelas Dmitry.
Meski saat ini fokus utama Liga.Tennis masih pada tenis, Dmitry menegaskan bahwa visi jangka panjang mereka mencakup semua cabang olahraga raket, seperti badminton, padel, dan pickleball.
“Semua racket sport itu punya semangat yang sama. Bukan tentang jenis olahraga, tapi tentang the spirit of the game. Ke depan kami akan menyesuaikan dengan karakter pasar di setiap lokasi, apakah cocok untuk tenis, padel, atau bulu tangkis,” ujarnya.
Dmitry juga menekankan bahwa inisiatif ini bukan semata-mata soal bisnis, melainkan tentang kontribusi sosial dan pembangunan olahraga nasional.
“Kami ingin membantu pemerintah menyediakan lebih banyak fasilitas olahraga publik di seluruh Indonesia. Ini bukan hanya tentang uang, tapi tentang kecintaan terhadap olahraga dan keinginan untuk membangun sesuatu yang berarti,” tutupnya.
Dengan semangat tersebut, Liga.Tennis tak hanya berkembang sebagai jaringan klub tenis modern, tetapi juga sebagai gerakan global yang lahir dari Bali, membawa misi menjadikan Indonesia sebagai pusat olahraga raket dunia.(tis/bpn)













