
BALIPORTALNEWS.COM, GIANYAR – Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) menghadirkan program inovatif untuk menciptakan ruang belajar inklusif dan aman bagi anak-anak penyandang disabilitas, khususnya tunagrahita.
Melalui program bertajuk “Nritya Nadam: Kreasi Seni Dolanan Bali Berbasis Ajaran Ahimsa Mahatma Gandhi bagi Penyandang Tunagrahita di Yayasan Widya Guna Bali”, tim ini menggunakan pendekatan edukatif berbasis budaya lokal untuk menekan praktik kekerasan fisik yang kerap muncul di kalangan anak berkebutuhan khusus.
Program ini menyasar 17 anak tunagrahita berusia 9–12 tahun di Yayasan Widya Guna Bali, Gianyar. Hasil observasi menunjukkan, sebagian anak kerap mengekspresikan emosi dengan perilaku agresif seperti mencubit dan memukul. Hal ini dipengaruhi keterbatasan mereka dalam mengenali bentuk kekerasan sekaligus kesulitan mengendalikan emosi.
Untuk menjawab persoalan tersebut, tim PKM-PM Undiksha yang diketuai I Gusti Ayu Andini Prameswari bersama anggota Sang Ayu Putu Diah Oktayanti, Ni Putu Eka Sulihantini, Ida Bagus Wisnu Dwi Nugraha, dan Dewa Ayu Leoni Paramita, merancang pelatihan seni dolanan Bali. Terinspirasi dari nilai ahimsa (anti-kekerasan) dalam ajaran Mahatma Gandhi, seni ini dikemas dalam bentuk gerak (nritya) dan suara (nadam) yang menyenangkan dan sesuai karakter anak tunagrahita.
Pelaksanaan program berlangsung selama empat bulan dengan tiga tahap utama:
- Pelatihan seni dolanan Bali melalui metode demonstrasi melasi (memperkenalkan, melatihkan, mengkreasikan).
- Pendampingan intensif untuk memastikan pemahaman anak dalam menyalurkan emosi secara positif.
- Pementasan seni sebagai bentuk ekspresi, evaluasi, sekaligus peningkatan kepercayaan diri anak.
Melalui metode ini, anak-anak tidak hanya belajar mengenali bentuk kekerasan, tetapi juga mengasah keterampilan sosial serta menemukan media sehat untuk mengekspresikan diri.
Program ini berjalan di bawah bimbingan dosen pendamping Ni Luh Putu Agetania, S.Pd., M.Pd. Ia menegaskan, “Nritya Nadam” menjadi bukti nyata komitmen Undiksha dalam memperjuangkan hak penyandang disabilitas untuk tumbuh di lingkungan yang ramah, aman, dan penuh makna, sekaligus melestarikan seni dan nilai luhur kebudayaan Bali.(adv/bpn)












