catur lawa
Sabha Catur Lawa Resmi Dibentuk, Pandu Prapanca Lagosa Jadi Ketua. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, KARANGASEM – Upaya memperkuat koordinasi antar pengempon Pura Catur Lawa di kawasan suci Pura Agung Besakih kini memasuki babak baru. Dalam pertemuan penting yang digelar di ruang rapat rumah jabatan Bupati Karangasem, Selasa (29/7/2025), secara resmi dibentuk organisasi Sabha Catur Lawa Pura Agung Besakih. Wakil Bupati Karangasem, Pandu Prapanca Lagosa, didapuk sebagai Ketua.

Pertemuan ini dihadiri para penglingsir dari empat pura utama yang tergabung dalam Catur Lawa, yakni Pura Ratu Pasek, Pura Ratu Bagus Pande, Pura Ratu Penyarikan, dan Pura Ratu Dukuh. Hadir pula Bendesa Adat Besakih, Jro Mangku Widiarta, yang menyampaikan sejumlah persoalan mendesak yang selama ini dihadapi, terutama terkait keterbatasan anggaran dalam pelaksanaan upacara keagamaan.

“Penghabisan satu periode upakara dalam setahun di masing-masing Pura Catur Lawa jumlahnya berbeda-beda. Jika dirata-ratakan bisa mencapai sekitar Rp600 juta. Dari akumulasi kebutuhan tersebut, ada yang kekurangan dana hingga Rp100 juta, ada juga yang lebih,” ungkap Jro Mangku Widiarta.

Ia menjelaskan, hingga saat ini sebagian besar dana upacara berasal dari urunan krama pengempon dan punia umat yang tangkil. Saat pelaksanaan Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK) tahun ini, masing-masing pura hanya menerima dukungan dana sekitar Rp50 juta, jumlah yang jauh dari cukup untuk menutupi seluruh kebutuhan upakara.

Melihat kondisi tersebut, dibentuknya Sabha Catur Lawa diharapkan menjadi solusi untuk memperkuat sinergi serta membuka ruang komunikasi lebih luas, termasuk menjajaki audiensi dengan Gubernur dan Wakil Gubernur Bali selaku murdaning jagat.

Wakil Bupati Pandu Prapanca Lagosa yang ditunjuk sebagai Ketua Sabha Catur Lawa menegaskan pentingnya persatuan dan keselarasan dalam pelaksanaan upacara di empat pura tersebut, yang menurutnya tidak bisa dipisahkan dari Pura Penataran Agung Besakih.

“Kami berkumpul untuk menyatukan persepsi dan terbentuklah wadah ini sebagai tempat komunikasi dan diskusi. Ke depan, keempat pura tersebut akan menjadi satu kesatuan untuk nyangra pujawali IBTK. Kami tidak ingin salah satu dari keempatnya menjadi beban. Ini menjadi konsen kita bersama untuk menyelesaikan persoalan ke depan,” tegas Pandu.

Ia menambahkan, ketergantungan antar pura sangat tinggi. Jika satu mengalami kendala, maka akan berdampak pada keseluruhan rangkaian ritual di Pura Penataran Agung. Karena itu, organisasi ini menjadi penting sebagai ruang komunikasi yang aktif, agar keempat pura tersebut bisa menjalankan peran spiritualnya secara harmonis dan berkelanjutan.(st/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News