Therapy Stress Narapidana
Curhat dengan Psikiater, Warga Binaan Lapas Tabanan Temukan Ketenangan. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, TABANAN – Dalam upaya menjaga kesehatan mental dan jiwa warga binaan, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tabanan kembali melaksanakan kegiatan Therapy Stress Narapidana (Teh Rina) bagi warga binaan, Kamis (17/7/2025). Melalui Teh Rina, yang merupakan layanan bidang kesehatan, warga binaan menceritakan keluh kesah yang dirasakan kepada psikiater, sehingga perasaan mereka jadi lebih tenang.

Bertempat di Klinik Lapas Tabanan, layanan Teh Rina terselenggara bekerja sama dengan Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Udayana (Unud), di mana dalam kegiatan kali ini berfokus pada kegiatan konseling individu. Ada tiga orang psikiater atau Residen FK Unud yang hadir, yakni dr. Nawangsari, dr. Michael Surya, dan dr. Meryanggy Saiba.

Kepala Lapas Tabanan, Prawira Hadiwidjojo menyampaikan, bahwa lapas sebagai lembaga pembinaan bagi warga binaan rata-rata memiliki permasalahan klasik, yaitu over kapasitas. Hal tersebut tentu sangat mudah mempengaruhi keadaan kondisi mental dan jiwa mereka, di mana harus beradaptasi dengan lingkungan yang baru, serta menjalani masa pidana dari atas tindakan yang mereka perbuat.

“Layanan Teh Rina merupakan salah satu jawaban dari perhatian kami terhadap kondisi kesehatan teman-teman warga binaan, terutama dalam bidang kesehatan mental dan jiwa. Tentunya banyak dari mereka yang memiliki kondisi mental yang tidak stabil karena perubahan lingkungan, di mana mereka sekarang harus menjalani masa pidana di dalam lapas dan jauh dari keluarga. Selain itu, di lapas juga terkendala masalah over kapasitas, sehingga dapat menyebabkan stres, kecemasan, depresi, dan gangguan psikologis lainnya,” pungkas Prawira.

Sementara itu Dokter Lapas Tabanan, Luh Putu Tresnadewi menambahkan, bahwa dalam pelaksanaan Teh Rina kali ini terdapat 13 orang warga binaan yang ikut kegiatan konseling individu.

“Dari layanan tadi, teman-teman warga binaan banyak yang curhat terkait masalah keluhan susah tidur, cemas, dan depresi. Selain itu, ada juga yang merasa bersalah dan tidak berguna. Setelah berkeluh kesah dengan residen, mereka tampak kelihatan lebih baik,” ujarnya.

Salah satu orang warga binaan, Made mengatakan, bahwa dirinya merasa lebih baik setelah menceritakan permasalahan serta perasaan yang mengganjal.

“Sebelumnya, saya merasa bingung, saya sangat menyesali perbuatan yang telah saya lakukan. Namun, setelah bertukar pikiran dengan psikiater, saya mencoba untuk menerima keadaan yang saya hadapi dan berusaha untuk memperbaiki diri, sehingga menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan,” ucapnya.(ita/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News