
BALIPORTALNEWS.COM, BULELENG – Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) STIKOM Bali terus menunjukkan komitmennya dalam memberdayakan masyarakat melalui kegiatan pengabdian nyata. Kali ini, melalui Program Studi Sistem Informasi, ITB STIKOM Bali menggelar program bertajuk Peningkatan Produksi dan Pengembangan Pemasaran Industri Rumah Tangga Jamu Herbal Keluarga Kolok di Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng.
Kegiatan ini masuk dalam skema Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dan difokuskan pada peningkatan kualitas usaha jamu herbal yang dikelola oleh Ibu Made Samiasih, seorang anggota komunitas Kolok, penyandang disabilitas tunarungu yang telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat inklusif Bengkala selama berabad-abad.
Meski memiliki nilai tradisional tinggi, usaha jamu herbal Ibu Samiasih masih menghadapi tantangan, seperti keterbatasan alat produksi dan strategi pemasaran yang belum optimal. Menjawab hal tersebut, tim pengabdian ITB STIKOM Bali hadir dengan serangkaian program pemberdayaan menyeluruh.
Dipimpin oleh dosen Ni Putu Linda Santiari, bersama I Putu Ramayasa, I Wayan Kayun Suwastika, dan Sindyawati Rari Duli Goran Tokan, serta dua mahasiswa, Kadek Wangun Pattusianugraha dan Putu Anggie Novelia Ardana, tim ini memberikan dukungan berupa alat produksi seperti blender, panci, dan kompor gas.
Selain itu, tim juga membantu memperbarui desain kemasan produk jamu agar lebih menarik dan informatif. Kini, kemasan jamu mencantumkan komposisi bahan, manfaat, cara penyimpanan, hingga kontak pemesanan secara lengkap.
Tak berhenti pada aspek produksi, program ini juga menyasar penguatan pemasaran melalui pelatihan digital marketing berbasis media sosial, khususnya Facebook. Pelatihan mencakup pembuatan akun bisnis, teknik pengambilan foto dan video produk, pembuatan konten promosi, hingga cara memasarkan produk melalui marketplace digital.
Pendampingan dilakukan secara daring dan luring agar mudah dipahami serta dapat langsung dipraktikkan oleh pelaku usaha, termasuk komunitas Kolok yang memiliki kebutuhan komunikasi khusus.
Menurut Ni Putu Linda Santiari, hasil kegiatan ini sudah mulai menunjukkan dampak positif. Produk jamu herbal kini tampil dengan kemasan baru yang profesional, dan pemasaran mulai dilakukan melalui media sosial.
“Program ini menjadi bukti nyata kontribusi ITB STIKOM Bali dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat desa, khususnya komunitas disabilitas, melalui teknologi tepat guna dan literasi digital,” ujarnya.
Linda berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai program sesaat, melainkan bisa terus berlanjut dan memberi manfaat ekonomi jangka panjang bagi masyarakat Desa Bengkala.(r/bpn)












