
BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – BASAbali Wiki kembali menggelar Dialog Pembelajaran pada Jumat (23/5/2025), sebagai ruang reflektif untuk mengevaluasi pelaksanaan program Wikithon Partisipasi Publik – Bali Lestari, khususnya dalam penerapan Pangeling-eling atau pengingat publik akan pentingnya kebersihan lingkungan dalam aktivitas keagamaan. Dialog ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom dan difasilitasi oleh Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali.
Dialog ini bertujuan untuk menilai capaian, tantangan lapangan, serta menyusun strategi penguatan dan replikasi program ke wilayah lain di Bali. Kegiatan ini sekaligus menjadi forum penguatan komitmen para pemangku kepentingan dalam mendukung pengurangan sampah berbasis kearifan lokal.
Kepala UPTD Balai Pengembangan Teknologi Pendidikan Disdikpora Bali, Luh Made Seriarningsih, S.Kom., MAP., mengapresiasi peran aktif generasi muda dalam implementasi Pangeling-eling. Ia menegaskan pentingnya kebijakan lingkungan yang berkelanjutan, inklusif, dan berbasis budaya Bali.
Sebelumnya, BASAbali Wiki telah menyelenggarakan dua sesi Dialog Kebijakan yang menghasilkan Policy Brief Bali Lestari (bit.ly/PBbalilestari). Dokumen ini merangkum lima strategi utama: penguatan regulasi, edukasi berkelanjutan, kemitraan masyarakat-pemerintah, revitalisasi nilai lokal, serta pendampingan UMKM. Policy brief tersebut telah menjadi landasan penyusunan Pangeling-eling Panca Pamahayu Pura di Pura Ulun Danu Batur, serta Catur Pamahayu Pura di Pura Agung Besakih dan Desa Kubutambahan.
BASAbali Wiki juga aktif dalam kegiatan “Malasti Resik” di Pura Agung Besakih, bertepatan dengan rangkaian upacara Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK) 2025. Gerakan ini memicu inisiatif serupa di berbagai desa adat, termasuk Desa Adat Ulakan dan Desa Adat Temega di Karangasem.
Dalam Dialog Pembelajaran, tiga implementator wilayah turut berbagi pengalaman:
- Jero Penyarikan Duuran Batur (Pangamong Pura Ulun Danu Batur) menilai bahwa kampanye Pangeling-eling efektif mengubah perilaku masyarakat, khususnya melalui media sosial.
- Gede Pariadnyana (Perbekel Kubutambahan) menyampaikan bahwa keterlibatan pemuda sebagai duta kebersihan sangat penting. Penyebarluasan pesan dilakukan melalui media sosial, baliho, serta sosialisasi langsung.
- Kadek Sudiartawan, pemuda dari Desa Adat Ulakan, menjelaskan bahwa gerakan ini murni inisiatif pemuda, dan bahkan menarik perhatian wisatawan asing yang mengapresiasi praktik kebersihan di pura.
Sebanyak 31 peserta dialog dibagi dalam tiga kelompok berdasarkan wilayah implementasi: Kubutambahan, Batur, dan Besakih. Masing-masing kelompok membahas dinamika di lapangan, tantangan yang dihadapi, serta solusi dan inovasi lokal yang telah dilakukan.
Meski menunjukkan dampak positif, sejumlah tantangan masih ditemukan. Distribusi sampah yang belum merata dan keterbatasan fasilitas pengolahan menjadi hambatan utama dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah keagamaan yang berkelanjutan.
Untuk itu, diperlukan kolaborasi erat antara pemerintah provinsi, desa dinas dan adat, serta peran aktif masyarakat dan generasi muda. Hadir dalam dialog ini perwakilan dari Bappeda Provinsi Bali, Majelis Desa Adat Provinsi Bali, PHDI Provinsi Bali, DKLH Provinsi Bali, komunitas lingkungan, serta pemenang Wikithon Bali Lestari.
K.L Herdayatamma, Program & Engagement Director BASAbali Wiki, menegaskan bahwa Dialog Pembelajaran ini merupakan bagian penting dari metodologi Wikithon Partisipatif. Ia berharap bahwa praktik baik dari tiga wilayah implementasi dapat terus diperkuat dan direplikasi di wilayah lain sebagai gerakan bersama menuju Bali yang lebih lestari.(r/bpn)












