BALIPORTALNEWS.COM, KARANGASEM – I Nengah Wartawan (52), pecalang yang menjadi korban pemukulan saat bertugas di Pura Agung Besakih, hingga kini masih belum bisa kembali menjalankan tugasnya. Meski secara fisik telah pulih, trauma mendalam yang dialaminya menjadi alasan utama dirinya belum sanggup ngayah lagi.
Korban mengalami kekerasan fisik berupa pukulan keras di bagian pipi kanan hingga sempat tak sadarkan diri dan harus mendapatkan penanganan medis di Puskesmas Rendang. Kejadian tersebut terjadi saat ia menjalankan tugas pengaturan pemedek dalam rangkaian Karya Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK).
Kondisi psikologis korban dibenarkan oleh Ketua Pecalang Desa Adat Besakih, Wayan Mangku Wira, yang menyampaikan bahwa korban saat ini masih dalam masa pemulihan trauma.
“Beliau masih mengalami trauma berat. Kami bersama rekan-rekan pecalang, MDA Bali, dan MDA Kecamatan Selat sudah menjenguk ke rumahnya. Sampai sekarang beliau belum sanggup untuk ngayah kembali,” ujar Mangku Wira, Jumat (18/4/2025).
Insiden pemukulan terjadi di kawasan Bencingah Agung Pura Besakih. Saat itu, korban mengarahkan tiga pemedek yang merupakan satu keluarga, masing-masing berinisial IGLAED (30), IGLR (56), dan IGNAAP (21) asal Banjar Dinas Selat Kelod, Desa Selat, Kecamatan Selat, agar keluar melalui arah barat dari areal Bencingah.
Namun arahan tersebut ditanggapi sinis oleh salah satu pemedek yang berkata, “Joh dong?” (Jauh, ya?). Korban kemudian membalas, “Ke Lempuyang mare joh mejalan” (Ke Lempuyang baru terasa jauh berjalan).
Jawaban itu rupanya memicu emosi salah satu pelaku yang merasa tersinggung. Adu mulut pun tak terhindarkan. Tak berselang lama, salah satu dari mereka yang tidak terima karena orang tuanya ikut adu argumen, langsung memukul korban hingga terjatuh.
Korban sempat tersungkur dan dilarikan ke Puskesmas Rendang. Ketiga pelaku kini telah ditahan di Polres Karangasem dan kasus ini masih dalam proses penanganan hukum lebih lanjut.(st/bpn)













