Dharmasadhana
Dharmasadhana Ke-5 Digelar di Buleleng, Wujudkan Green Dharma dan Kemenag Berdampak. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, BULELENG – Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Buleleng kembali menggelar Dharmasadhana ke-5, sebuah kegiatan triwulanan yang berfokus pada pembinaan spiritual dan kepedulian sosial. Acara ini berlangsung di Pura Bukit Pucak Emas, Desa Adat Bale Agung Tenaon, Kecamatan Buleleng.

Menurut Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, I Kadek Satria, S.Ag., M.Pd.H., Dharmasadhana ke-5 mengusung slogan Green Dharma dan Kemenag Berdampak, sejalan dengan program Kementerian Agama Republik Indonesia, khususnya Dirjen Bimas Hindu.

“Kegiatan ini mendapat sambutan antusias dari warga Bale Agung Tenaon, perangkat desa, dan prajuru adat. Selain itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng turut memberikan Dharmawacana. Kami juga memiliki platform media sosial Nirwasita Gantari yang memuat berbagai informasi dan bimbingan penyuluhan agama bagi masyarakat,” ujar Kadek Satria.

Sebagai program rintisan dari Penyuluh Agama PPPK yang telah diangkat, Dharmasadhana bertujuan untuk memperkuat nilai-nilai keagamaan dan sosial. Salah satu bentuk kepedulian sosial dalam kegiatan ini adalah pembagian paket sembako kepada lansia kurang mampu, penyandang disabilitas, serta ibu hamil sebagai bagian dari upaya pengentasan stunting.

Selain itu, kegiatan juga melibatkan penanaman pohon, tirtayatra, serta berbagai aktivitas keagamaan seperti Dharmayatra, Dharmawacana, Dharmatula, Dharmasantih, Dharmagita, dan Dharmasadhana di pura-pura di berbagai kecamatan. Program ini semakin berkembang dan mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk PT Bisi, Pasraman Pasir Ukir, serta komunitas sosial seperti Buleleng Sosial Community (BSC).

Salah satu program unggulan dalam Dharmasadhana ke-5 adalah Green Dharma, yang berfokus pada pelestarian lingkungan melalui aksi nyata. Kegiatan ini mencakup aksi bersih-bersih lingkungan dan penanaman pohon matoa (Pometia pinnata), spesies endemik yang memiliki nilai ekonomi dan ekologi tinggi. Upaya ini bertujuan untuk menjaga keanekaragaman hayati serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian lingkungan.

Selain pohon matoa, peserta juga menanam bibit kelapa hybrida yang mampu berbuah dalam 3–5 tahun. Kelapa ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan sarana upakara secara mandiri, mengingat kelapa merupakan komponen penting dalam berbagai ritual keagamaan Hindu. Ke depan, program ini diharapkan dapat diperluas dengan penanaman di lahan desa adat dan pelaba pura.

Kegiatan Dharmasadhana ke-5 ditutup dengan sesi ramah tamah dan Dharmatula yang membahas berbagai aspek ajaran Hindu serta tantangan yang dihadapi masyarakat. Tim penyuluh agama juga melakukan kunjungan sosial ke warga penyandang disabilitas dan kurang mampu, menyerahkan bantuan sembako sebagai bentuk kepedulian.

Dengan adanya program Dharmasadhana, diharapkan nilai-nilai agama dapat lebih terinternalisasi dalam kehidupan masyarakat melalui aksi nyata yang bermanfaat bagi lingkungan dan sesama. (r/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News