BALIPORTALNEWS.COM, BADUNG –FINNS Bali menunjukkan komitmennya dalam pengelolaan lingkungan dengan berhasil mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dari 80% menjadi hanya 15%.
Keberhasilan ini dicapai melalui program ESG (Environment, Social, and Governance) yang menitikberatkan pada aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola.
ESG Manager FINNS Bali, M. Abdul Manaf, menjelaskan bahwa sebelumnya Finns menghasilkan sekitar 2-3 ton sampah per hari, dengan mayoritas berakhir di TPA. Kini, berkat berbagai upaya pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan, hanya 15% dari total sampah yang masih berakhir di TPA, sementara sisanya didaur ulang atau dimanfaatkan kembali.
“Salah satu langkah utama yang diambil FINNS Beach Club adalah pelarangan penggunaan plastik sekali pakai,” terang Manaf kepada awak media pada Selasa (18/3/2025).

Pengunjung tidak diperbolehkan membawa botol plastik sekali pakai ke dalam area beach club, dan jika membawa, harus menitipkannya di valet atau guest service.
Selain itu, penggunaan kantong plastik dilarang bagi pengunjung maupun staf, dengan sanksi razia bagi karyawan yang masih menggunakan plastik.
“FINNS juga menghentikan penggunaan sedotan plastik untuk mendukung gerakan pengurangan sampah plastik,”lanjut Manaf.
Selain kebijakan larangan plastik, FINNS juga berupaya meningkatkan kesadaran lingkungan melalui edukasi kepada karyawan. Melalui aplikasi “FINNS Academy”, karyawan diberikan pelatihan tentang kebijakan lingkungan, cara memilah sampah, serta pentingnya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Pelatihan dilakukan secara online maupun offline, dengan sesi khusus yang diberikan kepada staf agar lebih memahami konsep keberlanjutan. Sebagai bagian dari kampanye “One Plastic Solution”, FINNS juga membagikan tumbler gratis kepada seluruh karyawan dalam rangka perayaan anniversary ke-8.
Dalam pengelolaan sampah, FINNS memilah sampah menjadi organik dan anorganik. Sampah organik diolah menjadi kompos atau pakan ternak, sementara sampah anorganik didaur ulang menjadi berbagai produk bermanfaat.
Misalnya, kain bekas diolah menjadi peredam suara dengan bekerja sama dengan perusahaan di Jakarta, sedangkan cork stick didaur ulang menjadi coaster oleh perusahaan di Bali. FINNS juga bermitra dengan beberapa pihak dalam pengolahan sampah, termasuk Urban Compost yang menerima sampah organik tiga kali seminggu untuk diolah menjadi kompos, serta Potato Head yang mendukung berbagai inisiatif daur ulang dan pengelolaan limbah.
Untuk memastikan pemilahan sampah berjalan optimal, FINNS memiliki tim khusus yang terdiri dari 14 karyawan yang bertugas memilah sampah setiap hari.
Delapan di antaranya fokus pada pemilahan sampah dari beach club, memastikan bahwa gelas kaca dipisahkan berdasarkan jenisnya, serta aluminium, plastik, kertas, dan kardus dipilah agar dapat dijual kembali sebagai bahan daur ulang.
“Upaya ini tidak hanya membantu mengurangi beban TPA yang sudah penuh, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi dari limbah yang sebelumnya terbuang sia-sia,” papar Manaf.
Dengan inisiatif ini, FINNS Bali berharap dapat menjadi contoh bagi industri pariwisata lainnya dalam menerapkan praktik yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. (ads/bpn)













