Giri Prasta
Giri Prasta Janji Tuntaskan Krisis Air di Kuta Selatan pada 2025. Sumber Foto : ads/bpn

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASARIsu krisis air bersih di Kuta Selatan, Kabupaten Badung, kembali menjadi sorotan menjelang Pilkada Serentak 2024. Persoalan ini tidak hanya menjadi masalah teknis, tetapi juga telah memasuki ranah politik. I Nyoman Giri Prasta, Bupati Badung dua periode yang kini maju sebagai calon Wakil Gubernur Bali dari PDI Perjuangan, menjadikan isu ini sebagai salah satu fokus kampanyenya.

Kendati berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Badung, masalah air bersih di Kuta Selatan tetap menjadi tantangan besar. Perkembangan pesat di wilayah Pecatu membutuhkan ketersediaan air yang lebih besar. Namun, kondisi reservoir di Well Site dan Ungasan serta pompa booster belum beroperasi maksimal karena suplai air dari Instalasi Penguat Pompa (IPP) TB4 yang terbatas.

Selain itu, masalah lain muncul dari jaringan pipa yang tidak ideal. Jalur Pura Kulat menggunakan pipa berdiameter 4 inci dengan kondisi medan berbukit, sementara jalur dari Pecatu ke Pura Uluwatu menggunakan pipa berdiameter 3 inci. Medan yang sulit serta topografi berbukit memerlukan tekanan air yang tinggi, menambah kompleksitas sistem perpompaan. 

Baca Juga :  Resmi Dilantik Pimpin KONI Bali 2026-2030, Giri Prasta Diharapkan Bawa Bali Tembus Lima Besar PON

Jarak yang jauh antara sumber produksi air dan wilayah Pecatu serta adanya lima tahap perpompaan menyebabkan sistem perpompaan rentan terganggu. Kebocoran pada jaringan pipa pun kerap terjadi, memperburuk distribusi air. Saat ini, kemampuan pipa dan sistem perpompaan yang ada telah mencapai batas maksimal.

Meskipun begitu, Giri Prasta menegaskan bahwa permasalahan ini tidak pernah diabaikan. Dengan optimisme tinggi, ia yakin bahwa pada tahun 2025, masalah air bersih di Kuta Selatan akan tuntas. Ia memerintahkan Direktur PDAM Badung dan jajarannya untuk menuntaskan permasalahan ini dengan membagi tarif menjadi tiga kategori: tarif perusahaan, rumah tangga, dan sosial.

Salah satu solusi yang ditawarkan adalah pembangunan Bendungan Sidan, yang disebut Giri Prasta sebagai kunci dari penyelesaian masalah ini. Bendungan tersebut, yang telah ia perjuangkan sejak tahun 2017, diharapkan mampu menyediakan suplai air yang memadai bagi masyarakat Kuta Selatan. 

Baca Juga :  Resmi Dilantik Pimpin KONI Bali 2026-2030, Giri Prasta Diharapkan Bawa Bali Tembus Lima Besar PON

“Bendungan Sidan dapat menampung 3,2 juta meter kubik air dengan kapasitas suplai air baku sebesar 1,75 m3/detik. Kabupaten Badung sendiri akan menerima suplai air sebesar 500 liter/detik,” ujar Giri Prasta.

Pembangunan jaringan distribusi air juga terus dilakukan, termasuk peningkatan kapasitas debit air dari 750 liter per detik menjadi 1.000 liter per detik. Giri Prasta optimis bahwa dalam dua bulan ke depan, akan ada tambahan minimal 250 liter per detik lagi, yang dapat memenuhi kebutuhan air di Kuta Selatan.

Baca Juga :  Resmi Dilantik Pimpin KONI Bali 2026-2030, Giri Prasta Diharapkan Bawa Bali Tembus Lima Besar PON

Selain itu, PDAM Badung telah merencanakan beberapa langkah strategis untuk mengatasi krisis air ini. Beberapa di antaranya adalah penyediaan pompa cadangan di Reservoar Pecatu, peningkatan daya pompa di IPP Teluk Benoa, dan pemasangan pipa baru dari IPA Estuary hingga Pintu Tol Nusa Dua.

Tak hanya itu, berbagai pembangunan reservoar kapasitas besar juga sedang dalam proses, seperti di Labuan Sait dan Uluwatu, yang diharapkan dapat meningkatkan distribusi air di Kuta Selatan. Dengan upaya yang terus berjalan, Giri Prasta yakin bahwa masalah air bersih di wilayah ini akan segera teratasi dan masyarakat Badung akan menikmati ketersediaan air yang lebih baik pada tahun 2025.

“Kami akan memastikan bahwa seluruh wilayah Badung, termasuk Kuta Selatan, akan terlayani dengan baik. Ketergantungan pada sumur bawah tanah pun akan berkurang,” tegasnya. (bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News