BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global akibat dinamika geopolitik dan tekanan inflasi dunia. Hal itu disampaikan dalam hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK April 2026.
Dalam siaran pers yang diterbitkan pada Selasa (5/5/2026), OJK menyebut kondisi global masih dibayangi konflik geopolitik, meski telah terjadi kesepakatan gencatan senjata antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel pada 8 April 2026. Namun, penutupan Selat Hormuz yang masih berlangsung menyebabkan gangguan distribusi energi global dan memicu volatilitas harga minyak dunia.
International Monetary Fund (IMF) dalam laporan World Economic Outlook April 2026 bahkan memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,1 persen. Risiko stagflasi meningkat seiring fragmentasi geopolitik, tekanan utang, dan gangguan rantai pasok global.
Di tengah tekanan global tersebut, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan kinerja solid dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61 persen. Pertumbuhan ditopang konsumsi rumah tangga dan peningkatan belanja pemerintah. Cadangan devisa Indonesia juga tercatat kuat di level USD148,2 miliar dengan surplus neraca perdagangan sebesar USD1,2 miliar.
Pada sektor pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 6.956,80 pada April 2026 atau terkoreksi 1,30 persen secara bulanan. Meski demikian, likuiditas pasar dinilai tetap terjaga. Nilai transaksi harian rata-rata mencapai Rp18,51 triliun, sementara investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp17,02 triliun di pasar saham.
Di industri pengelolaan investasi, Asset Under Management (AUM) meningkat menjadi Rp1.072,64 triliun. Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana tercatat Rp711,89 triliun atau tumbuh 5,41 persen secara tahunan. Jumlah investor pasar modal juga terus bertambah menjadi 26,49 juta investor.
Sementara itu, sektor perbankan mencatat pertumbuhan kredit sebesar 9,49 persen secara tahunan menjadi Rp8.659 triliun pada Maret 2026. Pertumbuhan tertinggi berasal dari kredit investasi yang tumbuh 20,85 persen. Dana pihak ketiga (DPK) juga tumbuh 13,55 persen menjadi Rp10.231 triliun.
Kualitas kredit perbankan tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) gross sebesar 2,14 persen dan NPL net sebesar 0,83 persen. Permodalan bank juga masih kuat dengan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 25,09 persen.
Di sektor asuransi dan dana pensiun, total aset industri asuransi mencapai Rp1.195,75 triliun atau tumbuh 4,38 persen secara tahunan. Sementara total aset dana pensiun naik 10,49 persen menjadi Rp1.684,89 triliun.
Pada sektor pembiayaan digital, outstanding pinjaman daring atau peer to peer lending tumbuh 26,25 persen menjadi Rp101,03 triliun dengan tingkat kredit macet terjaga di 4,52 persen. Sedangkan transaksi aset kripto pada Maret 2026 tercatat Rp22,24 triliun dengan jumlah akun konsumen mencapai 21,37 juta akun.
OJK juga terus memperkuat perlindungan konsumen dan pemberantasan aktivitas keuangan ilegal. Hingga April 2026, Satgas PASTI telah menghentikan 951 entitas pinjaman online ilegal dan tiga investasi ilegal. Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) juga telah menerima lebih dari 548 ribu laporan penipuan transaksi keuangan dan berhasil memblokir dana korban sebesar Rp614,3 miliar.
Ke depan, OJK menegaskan akan terus menjaga stabilitas sektor jasa keuangan melalui penguatan pengawasan, stress test terhadap industri jasa keuangan, serta memperkuat manajemen risiko di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.(bpn)













