Gala Premiere "Ki Ai Nirnur" Angkat Refleksi Budaya Bali di Tengah Era Teknologi dan AI
Gala Premiere "Ki Ai Nirnur" Angkat Refleksi Budaya Bali di Tengah Era Teknologi dan AI. Sumber Foto : tis/bpn

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Film dokumenter “Ki Ai Nirnur: Ogoh-Ogoh – A Manifestation of Art in Culture” resmi diperkenalkan kepada publik melalui gala premiere yang digelar di Cinepolis Plaza Renon, Denpasar, Minggu (31/5/2026).

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), film garapan Mahatma Pictures tersebut hadir sebagai ruang refleksi mengenai hubungan antara budaya, teknologi, dan kesadaran manusia. Karya ini mendokumentasikan proses kreatif penciptaan ogoh-ogoh “Ki Ai Nirnur” karya seniman Bali, Marmar Herayukti, bersama STT Gemeh Indah Denpasar.

Konseptor sekaligus maestro ogoh-ogoh, Marmar Herayukti, mengungkapkan bahwa lahirnya film dokumenter tersebut berawal dari pertemuan sederhana dengan tim Mahatma Pictures saat proses pembuatan Ogoh-ogoh Laliaran.

Menurutnya, saat itu muncul gagasan untuk membuat dokumentasi yang lebih serius dan mendalam mengenai proses penciptaan karya seni ogoh-ogoh.

“Awalnya kami bertemu secara kasual saat pembuatan Ogoh-ogoh Laliaran. Waktu itu kami merasa sayang karena banyak proses kreatif yang tidak terdokumentasikan dengan baik. Setelah itu saya dipertemukan dengan Herda Martin oleh Mba Ekaristi, lalu kami berdiskusi untuk membuat dokumentasi yang lebih proper dan akhirnya sepakat menggarap film ini,” ujar Marmar.

Marmar menjelaskan, selama proses produksi film, tim dokumentasi tidak mengetahui secara detail bentuk akhir maupun sketsa ogoh-ogoh yang sedang dikerjakan. Mereka hanya dibekali gambaran besar mengenai cerita dan konsep yang ingin disampaikan.

Baca Juga :  Pande Kirana Tunggadewi Widura, Ning Ayu 2026 yang Siap Ajak Generasi Muda Lestarikan Budaya Bali

“Saya hanya menjelaskan cerita besarnya. Mereka tidak tahu seperti apa bentuk akhirnya nanti. Tim dibagi di beberapa lokasi, ada yang standby di studio dan ada yang di banjar untuk merekam seluruh proses yang berlangsung secara alami,” kata Marmar.

Lebih jauh, Marmar menuturkan bahwa pesan utama yang ingin disampaikan melalui Ki Ai Nirnur berkaitan dengan perkembangan teknologi yang saat ini semakin dekat dengan kehidupan manusia.

Menurutnya, kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kesadaran agar tidak mengikis nilai-nilai kemanusiaan.

“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi kita bisa memprediksi apa yang menentukan langkah kita ke depan. Teknologi yang sekarang kita sukai dan gunakan bisa perlahan mengikis kesadaran manusia jika tidak disikapi dengan bijak. Padahal manusia dinilai bukan dari fisiknya, melainkan dari akal budi, pikiran, dan kesadaran yang dimilikinya,” jelas Marmar.

Ia menambahkan, film ini tidak dibuat untuk menghakimi atau menentukan mana yang benar dan salah, melainkan sebagai bahan perenungan bersama mengenai arah perkembangan peradaban manusia.

Baca Juga :  Pande Kirana Tunggadewi Widura, Ning Ayu 2026 yang Siap Ajak Generasi Muda Lestarikan Budaya Bali

“Target kami bukan jumlah penonton. Siapa pun yang menonton dan membawa pulang pesan dari film ini untuk direnungkan di rumah, itu sudah menjadi pencapaian bagi kami. Film ini bukan tentang benar atau salah, tetapi tentang bagaimana kita merenungkan berbagai perubahan yang terjadi,” ujar Marmar.

Terkait antusiasme masyarakat, Marmar menyebut pemutaran perdana dilakukan melalui sistem undangan terbatas. Namun sejumlah tiket juga dibuka untuk umum melalui informasi yang disebarkan di Instagram resmi Ki Ai Nirnur.

maestro ogoh-ogoh, Marmar Herayukti
Maestro ogoh-ogoh, Marmar Herayukti. Sumber Foto : tis/bpn

Ke depan, ia berharap ekosistem perfilman Bali semakin berkembang dan mampu menjadi media untuk menyampaikan berbagai gagasan budaya kepada masyarakat luas.

“Saya melihat film adalah media yang sangat kuat untuk bercerita dan menyampaikan ide-ide besar. Banyak film futuristik yang sesungguhnya mengajak kita merenungkan kehidupan manusia. Begitu juga Ki Ai Nirnur, yang ingin menceritakan bagaimana budaya Bali menjadi jejak peradaban yang sangat berharga,” kata Marmar.

Marmar juga mengajak masyarakat Bali untuk memberikan dukungan terhadap perkembangan industri film lokal sekaligus semakin menghargai kekayaan budaya yang dimiliki.

“Melalui film ini saya berharap masyarakat tergerak untuk mendukung ekosistem film di Bali. Selain itu, kita juga harus semakin menghargai budaya sendiri sehingga keberadaan budaya Bali semakin diterima dan dihargai oleh masyarakat luas,” pungkas Marmar.

Baca Juga :  Pande Kirana Tunggadewi Widura, Ning Ayu 2026 yang Siap Ajak Generasi Muda Lestarikan Budaya Bali

Sementara itu, Sutradara sekaligus Produser film, Herda Martin, mengungkapkan bahwa film ini berawal dari pertemuannya dengan Marmar Herayukti pada 2025. Dari pertemuan tersebut lahir gagasan untuk mendokumentasikan proses penciptaan ogoh-ogoh secara lebih mendalam dan profesional.

“Ogoh-ogoh bagi saya bukan sekadar objek budaya, tetapi bagian dari memori masa kecil yang tumbuh bersama kehidupan saya di Bali. Film ini menjadi perjalanan panjang yang penuh pembelajaran,” ungkap Herda.

Ia berharap semakin banyak sineas, fotografer, dan pegiat dokumentasi di Bali yang ikut mendokumentasikan fenomena ogoh-ogoh sebagai bagian penting dari warisan budaya Bali.

“Setelah diarak dan dibakar, yang hilang bukan hanya bentuk fisiknya, tetapi juga sebuah peristiwa budaya yang sangat besar. Dokumentasi menjadi cara agar generasi mendatang tetap bisa memahami bagaimana Bali merayakan kebudayaan dan keseniannya,” jelasnya.

Dari sisi visual, tim produksi berupaya menghadirkan dokumenter yang tidak hanya informatif, tetapi juga mampu menyentuh sisi emosional penonton. Senada dengan itu, Executive Producer sekaligus Founder Mahatma Pictures, Kadek Bisma, mengatakan bahwa Ki Ai Nirnur menjadi langkah awal Mahatma Pictures dalam menghadirkan karya-karya bertema budaya Bali yang kaya akan nilai dan pemikiran.(tis/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News