BALIPORTALNEWS.COM, KARANGASEM – Meski layanan shuttle bus telah disediakan selama pelaksanaan karya Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK) di Pura Agung Besakih, keberadaan tukang ojek lokal tetap eksis dan menjadi pilihan utama bagi sebagian pemedek.
Sejak pagi hingga malam hari, ratusan tukang ojek terlihat berjajar di sejumlah titik strategis seperti Manik Mas, Bencingah, hingga jalur menuju Padma Bhuana. Mereka memanfaatkan momentum rangkaian karya besar tersebut untuk mencari penghasilan.
Keberadaan shuttle bus ternyata tidak sepenuhnya menggantikan peran ojek. Banyak pemedek tetap memilih jasa ojek karena dinilai lebih cepat, fleksibel, dan mampu menjangkau titik-titik tertentu yang tidak dilalui kendaraan besar.
Salah satu tukang ojek, I Nyoman Sudana, mengaku telah mulai beroperasi sejak awal April. Dengan tarif sekitar Rp10 ribu sekali angkut, pendapatannya cukup fluktuatif.
“Kalau sepi bisa dapat Rp100 ribu, tapi kalau ramai pernah sampai Rp600 ribu sehari,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Wayan Widana. Ia menyebut meski harus antre panjang hingga puluhan meter, peluang mendapatkan penumpang tetap terbuka, terutama saat puncak keramaian.
“Kadang dari pagi sampai malam kalau ramai. Penghasilan bisa sampai Rp500 ribu,” jelasnya.
Dengan jumlah tukang ojek yang mencapai ratusan orang, persaingan memang cukup ketat. Namun demikian, keberadaan mereka tetap menjadi bagian penting dalam mendukung mobilitas pemedek serta kelancaran aktivitas persembahyangan di kawasan suci Besakih.(st/bpn)













