Film Dokumenter
Co-Producer, Narator, dan Etnografer Film ‘The Sacrifice’, Gus Indra. Sumber Foto : dnd/bpn

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Isu kesehatan mental seperti Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Bali sering kali masih dianggap sebagai aib yang tabu untuk dibicarakan. Beranjak dari keresahan tersebut, seorang seniman dan pembuat film asal Kesiman, Gus Indra menghadirkan sebuah film dokumenter etnografi berjudul ‘The Sacrifice’ yang menyoroti kehidupan seorang penyandang ODGJ bernama Ketut Sudirta.

Film ini tidak hanya menjadi dokumentasi kehidupan seseorang dengan gangguan jiwa, tetapi juga berfungsi sebagai studi antropologi visual yang menelaah hubungan antara kesehatan mental, budaya Bali, serta dinamika keluarga dalam menghadapi kondisi tersebut.

Selaku Co-Producer, Narator, dan Etnografer Film ‘The Sacrifice’, Gus Indra menjelaskan, bahwa proyek dokumenter ini dimulai oleh pamannya pada tahun 1996, ketika keluarga mulai melakukan pengamatan terhadap kehidupan Ketut Sudirta. Penelitian tersebut kemudian dilanjutkan oleh Gus Indra secara aktif mulai 2006 hingga akhirnya film rampung setelah perjalanan hidup Ketut Sudirta berakhir.

Menurut Gus Indra, kedekatan personal menjadi alasan utama mengapa ia memilih Ketut Sudirta sebagai subjek utama dalam film tersebut. Ketut Sudirta merupakan tetangga sekaligus kakak dari teman sekolahnya sejak kecil.

“Sebenarnya sederhana, karena saya dekat dengan adiknya. Kami satu sekolah dari SD sampai SMA. Jadi saya pikir, kenapa harus jauh-jauh cari subjek? Tetangga kita sendiri saja bisa kita teliti,” ujar Gus Indra saat screening film ‘The Sacrifice’ yang digelar oleh Lembaga Tujuh Karakter Undhira bersama Program Studi Psikologi dan Elemental Production, Rabu (4/3/2026) di Universitas Dhyana Pura.

Melalui dokumentasi yang berlangsung selama 15 tahun itu, film ini merekam perjalanan hidup Ketut Sudirta mulai dari aktivitas kesehariannya, pengalaman menjalani perawatan di rumah sakit jiwa, hingga peristiwa tragis penusukan yang melibatkan anggota keluarganya. Dokumentasi juga berlanjut hingga akhir kehidupan Ketut Sudirta, termasuk prosesi Ngaben, Memukur, hingga Melinggih.

Baca Juga :  Sekda Eddy Mulya Hadiri Pengukuhan Pengurus Kodrat Bali Masa Bakti 2025-2029

Gus Indra menilai, bahwa salah satu persoalan utama dalam penanganan ODGJ di Bali adalah stigma sosial yang memilih menyembunyikan anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa karena khawatir dipandang negatif oleh lingkungan.

“Kalau kita berbicara tentang ODGJ, banyak orang langsung menganggap itu sebagai aib keluarga. Padahal masyarakat sering tidak tahu apa sebenarnya yang membuat seseorang mengalami kondisi seperti itu,” jelasnya.

Ia menegaskan, bahwa persoalan kesehatan mental tidak dapat dilihat hanya dari sisi medis semata, tetapi juga perlu dipahami melalui perspektif budaya dan hubungan keluarga.

Baca Juga :  Wali Kota Jaya Negara Sambut Delegasi Kota Guangzhou untuk Jajaki Peluang Kerja Sama

“ODGJ itu bukan hanya persoalan medis. Kita juga harus melihatnya dari segi budaya dan keluarga, karena faktor-faktor itu sangat mempengaruhi bagaimana seseorang bisa mengalami gangguan jiwa,” tambahnya.

The Sacrifice
Screening film ‘The Sacrifice’ pada Rabu (4/3/2026) di Universitas Dhyana Pura. Sumber Foto : dnd/bpn

Menurut Gus Indra, masih terdapat pandangan yang mengaitkan gangguan jiwa dengan aspek spiritual, seperti anggapan bahwa seseorang mengalami kondisi tersebut karena ‘kurang melukat’ atau kurang menjalani ritual pembersihan diri.

“Masyarakat sering mengatakan seseorang ‘kurang melukat’. Tapi pertanyaannya, apa yang membuat dia harus melukat? Di sini saya lebih menekankan pentingnya pendekatan keluarga dalam menangani orang dengan gangguan jiwa,” ujarnya.

Film ini juga menampilkan sudut pandang seorang guru spiritual yang memberikan perspektif berbeda terhadap ODGJ. Menurut Gus Indra, pendekatan tersebut dapat membantu mengubah cara pandang masyarakat.

“Ada seorang guru spiritual yang mengatakan bahwa orang dengan gangguan jiwa itu pembawa rezeki. Ketika kita mengaitkannya dengan rezeki, otomatis orang-orang menjadi lebih memperhatikan dan peduli kepada mereka,” kata Gus Indra.

Meski mengangkat isu lokal di Kesiman, film dokumenter yang menggunakan tiga bahasa (Bali, Indonesia, dan Inggris) ini telah mendapat pengakuan luas di kancah internasional. Film ini telah ditayangkan di institusi pendidikan ternama seperti Harvard University dan UCLA, serta menjadi finalis kategori film etnografi terbaik di The Orient Film Festival, Australia. Selain itu, karya ini juga telah diputar di Yerusalem, Michigan, Jerman, dan dalam pertemuan Antropologi Internasional di Yogyakarta.

Baca Juga :  Wali Kota Jaya Negara Ngayah Nyangging di Pura Dalem Pengaotan pada Karya Pedudusan Agung

Film dokumenter ini diproduksi di bawah naungan Elemental Production, sebuah kolektif yang fokus pada isu kesehatan jiwa serta keterkaitannya dengan budaya dan lingkungan sosial di Indonesia.

Gus Indra menjelaskan, bahwa sebagian besar proyek yang dikerjakan oleh Elemental memang berfokus pada upaya memahami kehidupan orang-orang yang hidup dengan gangguan jiwa serta hubungan mereka dengan keluarga dan masyarakat.

Untuk saat ini, film dokumenter tentang Ketut Sudirta tersebut belum direncanakan untuk ditayangkan kepada publik luas. Gus Indra menyebut sasaran utama film ini adalah sebagai bahan pembelajaran di lingkungan perkuliahan.

“Saat ini tujuan utamanya memang untuk proses pembelajaran di perkuliahan,” katanya.

Bagi masyarakat yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai proyek-proyek bertema kesehatan jiwa dan budaya lainnya, Elemental Production menyediakan berbagai informasi dan cuplikan karya melalui situs resmi mereka serta kanal YouTube Elemental.(dnd/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News