
BALIPORTALNEWS.COM, TABANAN – Memasuki musim tanam pertama pada Januari 2026, Manajemen Operasional Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih menunjukkan komitmen dalam menjaga kelestarian pertanian berkelanjutan. Dari manajemen menyerahkan bantuan pupuk secara langsung kepada para petani yang tergabung dalam tujuh tempek subak di kawasan Jatiluwih.
Manajer Operasional DTW Jatiluwih, Jhon Ketut Purna, Senin (12/1/2026), mengatakan bahwa langkah ini guna memastikan ketersediaan nutrisi tanaman yang optimal, demi menjaga kualitas beras merah khas Jatiluwih yang telah mendunia.
“Penyerahan pupuk kepada kelian subak masing-masing tempek di Jatiluwih sejak 30-31 Desember 2025, dan 6 Januari 2026,” ungkapnya.
Menurutnya, total luasan lahan yang mendapatkan bantuan kali ini mencapai 227,41 hektare. Namun, dalam penyaluran tahun ini, pihak manajemen mengambil kebijakan khusus dengan memberikan tambahan volume pupuk sebagai bentuk apresiasi kepada petani.
“Kami ingin memastikan petani memiliki cadangan yang cukup, sehingga setiap tempek kami berikan kelebihan pupuk sebesar 10 kilogram dari perhitungan standar luasan lahan mereka,” ujar Jhon Ketut Purna.
Berdasarkan kebijakan tambahan tersebut, total pupuk yang diserahkan oleh DTW Jatiluwih mencapai 22.811 ton. Distribusi jumlah pupuk ini dilakukan secara transparan dan proporsional, berdasarkan perhitungan luas wilayah masing-masing tempek. Hal itu dilakukan agar seluruh petani mendapatkan hak yang adil, sesuai dengan besaran lahan yang mereka kelola pada musim tanam Januari 2026.
Penyaluran dilakukan kepada tujuh tempek dengan jumlah umum satu kilogram per are, dengan rincian sebagai berikut; Subak Gunung Sari dengan 4,859 ton, Subak Kedamaian 2,216 ton, dan Subak Besikalung 3,763 ton. Selanjutnya, Subak Kesambi 1,396 ton, Subak Umakayu 2,204 ton, Subak Telabah Gede 6,51 ton, serta Subak Umaduwi 1,863 ton.
Seluruh perwakilan tempek hadir langsung untuk menerima bantuan yang jadi nyawa bagi produktivitas lahan petani.
Jhon Ketut Purna menekankan, bahwa pemberian bantuan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari sinergi antara sektor pariwisata dan pertanian. Sebagai kawasan Warisan Budaya Dunia UNESCO, Jatiluwih sangat bergantung pada keberlangsungan sistem subak.
“Pariwisata di sini ada karena petani masih tetap menjaga warisan leluhur berupa sawah, yang dikerjakan secara alami dan tradisional. Oleh karena itu, sudah jadi kewajiban manajemen untuk mendukung penuh kebutuhan sarana produksi para petani, terutama pupuk, pada awal musim tanam seperti sekarang,” tambahnya.
Kegiatan penyerahan pupuk ini ditutup dengan harapan agar hasil panen pada periode pertama Tahun 2026 ini dapat melimpah dan terhindar dari kendala yang berarti. Para petani pun menyambut baik inisiatif pemberian kelebihan 10 kilogram per tempek tersebut, yang dinilai sangat membantu dalam mengantisipasi kekurangan pupuk di tengah fluktuasi harga sarana produksi pertanian.
Ditambahkan bahwa dengan dukungan kuat dari manajemen, Jatiluwih optimis dapat mempertahankan eksistensinya sebagai lumbung pangan, sekaligus destinasi wisata hijau utama di Bali.(ita/bpn)












