ITB STIKOM Bali Lepas Tiga Mahasiswa Program Kuliah-Magang ke Jepang
ITB STIKOM Bali Lepas Tiga Mahasiswa Program Kuliah-Magang ke Jepang. Sumber Foto : tis/bpn

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Dalam upaya mempererat silaturahmi dengan insan pers sekaligus menyampaikan program strategis kampus, ITB STIKOM Bali menggelar kegiatan Coffee Morning bertema ‘Bincang Santai, Sinergi Berkelanjutan’, Rabu (7/1/2026) di Aula ITB STIKOM Bali, Renon.

Kegiatan ini dirangkaikan dengan pelepasan tiga mahasiswa peserta program kuliah sambil magang ke Jepang, yakni Ni Kadek Anita Setyari, Tarsisius Danrianus Tupen Lanan, dan Ni Made Ratih Purwasih. Program tersebut merupakan bagian dari komitmen kampus dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) Bali yang unggul dan berdaya saing global.

Rektor ITB STIKOM Bali, Dr. Dadang Hermawan, menegaskan pentingnya peningkatan kualitas SDM Bali agar tidak sekadar berada pada level rata-rata nasional.

“Saya sangat berharap SDM Bali tidak rata-rata, tetapi harus di atas rata-rata. Salah satu indikatornya adalah meningkatnya angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi. Saat ini sebenarnya sudah tidak ada lagi hambatan besar, baik waktu, sistem pembelajaran yang sudah online, maupun pembiayaan karena tersedia KIP, beasiswa yayasan, hingga program kuliah sambil magang,” ujar Dadang.

Baca Juga :  Bali Innotech 2026 Jimbaran Chapter Perkuat Kolaborasi Akademisi dan Industri Dorong Inovasi Digital

Menurutnya, program kuliah sambil magang menjadi solusi ideal karena mahasiswa tidak hanya memperoleh gelar sarjana, tetapi juga pengalaman kerja, penghasilan, dan jejaring internasional.

“Ini model paling ideal. Kuliah dapat, pengalaman dapat, kerja dapat, penghasilan juga dapat. Jadi sebenarnya sudah tidak ada alasan lagi untuk tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi,” tegas Dadang.

Dadang juga menyoroti perubahan minat mahasiswa terhadap program studi yang kini lebih mengarah pada bidang bisnis digital dan teknologi informasi, seiring pesatnya perkembangan industri digital dan kecerdasan buatan (AI).

“Perkembangan teknologi itu seperti pisau bermata dua, ada sisi positif dan negatif. Karena itu kami menekankan pembentukan karakter, agar penguasaan AI dan IT benar-benar digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat,” jelas Dadang.

Terkait program magang ke luar negeri, Dadang mengungkapkan bahwa biaya pemberangkatan sekitar Rp40 juta dan biaya kuliah sekitar Rp60 juta untuk empat tahun. Namun, kampus menyediakan skema pembiayaan dan pinjaman sehingga mahasiswa tidak terbebani di awal.

“Mahasiswa cukup menyiapkan biaya awal sekitar Rp6 juta. Sisanya dapat dicicil setelah mereka bekerja di Jepang. Bahkan ada mahasiswa yang selama tiga tahun magang bisa membawa pulang hingga Rp350 juta,” ungkap Dadang.

Baca Juga :  Bali Innotech 2026 Jimbaran Chapter Perkuat Kolaborasi Akademisi dan Industri Dorong Inovasi Digital

Salah satu peserta program, Tarsisius Danrianus Tupen Lanan, mengaku memilih program ini karena sesuai dengan kondisi ekonomi keluarga sekaligus keinginannya untuk mandiri.

“Program ini sangat membantu. Saya bisa kuliah, kerja, dapat pengalaman, dan membantu membayar biaya kuliah sendiri tanpa memberatkan orang tua,” ujarnya.

Tarsisius menyebutkan, dirinya akan menjalani kontrak magang selama tiga tahun di bidang finishing interior konstruksi di Jepang. Selama proses persiapan, ia telah mengikuti pendidikan dan pelatihan selama sekitar empat bulan sebelum dinyatakan lulus dan siap berangkat.(tis/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News