
BALIPORTALNEWS.COM, BADUNG – Warisan budaya kuliner Indonesia terus hidup dan berkembang sebagai bagian penting dari identitas daerah. Di Bali dan Nusa Tenggara, kekayaan cita rasa tumbuh dari kedekatan masyarakat dengan alam, mulai dari pemanfaatan bahan pangan lokal, teknik memasak tradisional, hingga penggunaan alat sederhana yang diwariskan secara turun-temurun dari dapur rumah tangga.
Sejak lama, masyarakat Bali dan Nusa Tenggara memanfaatkan teknologi pangan berbasis alam. Lesung dan alu digunakan untuk menumbuk bumbu, bambu menjadi alat masak, serta teknik pengasapan diterapkan untuk menjaga keawetan makanan sekaligus memperkaya rasa. Di Bali, sistem Subak turut berperan menjaga keberlanjutan pangan melalui pengelolaan air dan pertanian yang selaras dengan alam.
Tradisi memasak tersebut lekat dengan peran para ibu yang menjadi penjaga dapur sekaligus pewaris pengetahuan kuliner lokal. Dari dapur rumah, para ibu merawat cara mengolah bahan, menggunakan alat tradisional, serta memanfaatkan alam secara bijak demi ketahanan pangan keluarga.
Berangkat dari semangat tersebut, Amartha menginisiasi kompetisi memasak pangan lokal pertama bersama Ibu Mitra UMKM di wilayah Bali–Nusa Tenggara. Mengusung tema “Cerita Rasa”, program ini menjadi bagian dari upaya Amartha dalam merawat pangan lokal sekaligus memperkuat peran UMKM perempuan dalam perekonomian daerah.

Chief Risk and Sustainability Officer Amartha, Aria Widyanto, mengatakan bahwa pangan lokal bukan sekadar bahan masakan, melainkan bagian dari kehidupan masyarakat.
“Dari dapur, para ibu terus menjaga tradisi untuk menghadirkan masakan rumahan yang menemani tumbuh kembang anak dan menjadi kenangan di setiap keluarga. Amartha percaya perempuan memiliki peran penting dalam menjaga warisan rasa. Lewat program Cerita Rasa, kami ingin memastikan pangan lokal tetap bermakna sebagai bagian dari kehidupan, penghidupan, dan harapan bagi keluarga serta komunitas,” ujarnya.
Lebih dari sekadar ajang memasak, kompetisi ini membawa pesan tentang ketahanan dan keberlanjutan pangan lokal. Di tengah perubahan alam dan zaman yang membuat sebagian bahan pangan semakin sulit ditemukan, para ibu UMKM tetap mengolah apa yang tersedia di sekitarnya. Rempah-rempah, umbi-umbian, jagung, hingga hasil laut diolah menjadi hidangan segar yang menopang kebutuhan keluarga dan komunitas.
Kompetisi Cerita Rasa melibatkan lebih dari 1.000 Ibu Mitra UMKM dari berbagai daerah dan menghasilkan 75 cerita rasa dari dapur rumah tangga. Para peserta diseleksi melalui penilaian teknik memasak dan pemahaman pangan lokal di tingkat regional, sebelum melaju mewakili provinsi masing-masing ke tingkat nasional di Jakarta.
Pada tahap regional Bali–Nusa Tenggara, kompetisi mempertemukan lima kelompok ibu mitra UMKM dari berbagai wilayah. Masing-masing kelompok menghadirkan sajian berbahan pangan lokal yang mengangkat cerita, tradisi, dan kekayaan kuliner daerah asalnya. Seluruh proses dan kisah di balik kompetisi ini dapat disaksikan melalui kanal YouTube Amartha.
Salah satu peserta asal Gianyar, Alda Aries, mengaku bangga dapat berpartisipasi dalam ajang tersebut.
“Kami sangat senang dan bangga bisa mewakili daerah masing-masing. Sebagai ibu yang sehari-hari dekat dengan dapur dan pangan lokal, ajang ini memberi ruang untuk menunjukkan bahwa masakan rumahan juga punya nilai dan cerita,” ungkapnya.
Puncak kompetisi akan digelar di Jakarta dalam rangkaian peluncuran Amartha Prosper, di mana para finalis akan berkompetisi di hadapan juri utama dan calon investor. Skema ini tidak hanya menampilkan kemampuan kuliner Ibu Mitra UMKM, tetapi juga memperkuat narasi pangan lokal, pemberdayaan ekonomi perempuan, serta konektivitas antara UMKM akar rumput dan ekosistem investasi berkelanjutan.
Amartha Prosper merupakan platform investasi berkelanjutan yang menghubungkan masyarakat dengan pembiayaan UMKM perempuan di ekonomi akar rumput. Melalui platform ini, investasi tidak hanya memberikan imbal hasil, tetapi juga berdampak langsung pada penguatan ekonomi keluarga dan keberlanjutan komunitas desa.
Melalui kompetisi Cerita Rasa, Amartha menghadirkan dampak tersebut secara nyata dengan dapur sebagai simbol kehidupan ekonomi masyarakat. Program ini mengangkat kisah Ibu Mitra yang menjaga warisan rasa, mengolah pangan lokal, sekaligus menggerakkan ekonomi keluarga.
“Berangkat dari dapur-dapur sederhana para ibu, Amartha membuka akses layanan keuangan yang inklusif agar tradisi pangan lokal tidak hanya hadir di meja makan, tetapi juga menjadi sumber penghidupan. Dari rasa rumahan inilah kami berharap masa depan pangan Indonesia tetap terjaga,” tutup Aria.
Hingga tahun 2025, Amartha telah menyalurkan lebih dari Rp37 triliun modal usaha kepada 3,7 juta UMKM perempuan untuk memperkuat kewirausahaan mikro, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif di Indonesia.
Tentang Amartha Financial
Didirikan pada 2010, Amartha Financial menghadirkan layanan keuangan digital untuk UMKM perempuan di lebih dari 50.000 desa di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, serta Bali–Nusa Tenggara melalui aplikasi AmarthaFin. Layanannya mencakup pembiayaan modal kerja, pembayaran digital, PPOB, penyaluran zakat, hingga fitur investasi yang menghubungkan masyarakat desa dengan investor nasional dan global, dengan seluruh entitas berizin dan diawasi oleh OJK dan Bank Indonesia. (*/bpn)












