SNIA 2025: Auditor Internal Hadapi Era Risk Convergence, AI Governance Hingga ESG Jadi Mandat Baru
SNIA 2025: Auditor Internal Hadapi Era Risk Convergence, AI Governance Hingga ESG Jadi Mandat Baru. Sumber Foto : tis/bpn

BALIPORTALNEWS.COM, KUTA – Yayasan Pendidikan Internal Audit (YPIA), lembaga yang telah tiga dekade menjadi pilar penguatan profesionalisme auditor internal Indonesia, kembali menggelar Seminar Nasional Internal Audit (SNIA) 2025 pada 3–4 Desember 2025 di The Stones Hotel, Kuta. Pelatihan internal audit ini diikuti regulator, auditor internal, praktisi BUMN/BUMD/BUMS, akademisi, dan sektor publik, untuk membahas lanskap risiko baru serta arah tata kelola organisasi menuju era digital 2026.

Ketua Umum YPIA, Dr. Setyanto P. Santosa, SE., MA., QIA., menjelaskan bahwa profesi auditor internal kini memasuki fase perubahan struktural signifikan. Hal ini dipicu oleh percepatan teknologi seperti artificial intelligence (AI), machine learning, perluasan digital payment, hingga disrupsi model bisnis.

Selain itu, implementasi Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025 tentang BUMN mulai 6 Oktober 2025 membawa perubahan besar pada tata kelola sektor BUMN, yang menuntut auditor internal memiliki kemampuan adaptif, foresight, serta maturity level lebih tinggi dalam mendukung governance yang efektif.

Berdasarkan laporan PwC Risk Roadmap 2026, dunia memasuki fase risk convergence, yakni ketika risiko teknologi, geopolitik, perubahan iklim, green economy, dan governance failure saling memperkuat satu sama lain.

Indonesia berada dalam kategori Accelerated Exposure with Transitional Readiness: peluang pertumbuhan ekonomi besar, namun eksposur risiko juga meningkat, terutama dalam hal tata kelola digital, cyber resilience, sustainability accountability, dan outcome-based governance.

Perubahan global dan nasional tersebut berkaitan dengan enam dinamika risiko utama:

  1. Ekspansi QRIS global dan kebutuhan digital trust architecture
  2. Penguatan AI governance dan mitigasi bias algoritmik
  3. Transformasi ESG dan green finance
  4. Peningkatan kualitas kebijakan sektor publik melalui policy impact auditing
  5. Reposisi BUMN pasca UU 16/2025 serta dinamika Danantara sebagai sovereign wealth fund
  6. Penguatan kompetensi auditor generasi mendatang berbasis foresight & digital fluency

Menurut Setyanto, era disrupsi digital telah mengubah cara auditor memahami risiko, dari sekadar memantau kepatuhan menjadi kemampuan memprediksi dampak.

“Auditor internal sekarang wajib bergerak cepat, mampu menghubungkan data lintas ekosistem, mengantisipasi risiko baru dari AI dan digital payment, serta memastikan efektivitas governance dan keberlanjutan,” ujar Setyanto.

Berikut enam rekomendasi SNIA 2025 untuk memperkuat tata kelola dan peran auditor internal:

  1. AI Governance & Algorithmic Accountability
    • Auditor harus mampu:
      • melakukan evaluasi bias algoritma
      • menilai etika data & integritas model
      • menguji risiko penyalahgunaan teknologi
  1. ESG Oversight & Green Risk Assurance
    • ESG kini menjadi fondasi governance:
      • auditor wajib menguji greenwashing
      • memastikan kredibilitas data emisi & sustainability
  1. Policy Impact Auditing untuk Sektor Publik
    • Audit tidak hanya proses administrasi, tetapi hasil & manfaat kebijakan bagi masyarakat:
      • selaras mandat Pasal 33 UUD 1945 tentang kemakmuran rakyat
  1. Memperkuat Digital Trust Architecture
    • Ekspansi QRIS, BI-FAST, SNAP menuntut:
      • mitigasi fraud digital
      • model pengawasan cross-border payment
      • standar keamanan internasional
  1. Risk Oversight BUMN Pasca UU 16/2025
    • Auditor harus memperkuat:
      • integrasi risk management antar anak perusahaan
      • governance readiness pada model investasi Danantara
  1. Penguatan Talent Pipeline Auditor Internal
    • Melalui sertifikasi QIA, QGIA, QHIA, PQIA, dan CPIA:
      • membangun kompetensi foresight, agility, & digital fluency

Rangkaian pembahasan SNIA 2025 menegaskan bahwa tantangan tata kelola kini lintas sektor dan saling terhubung. Auditor internal diharapkan tidak hanya menjadi watchdog, namun menjadi mitra strategis dalam pengambilan keputusan organisasi.

“Melalui SNIA 2025, praktik audit internal diharapkan dapat memperkuat budaya risiko yang matang serta mempercepat transformasi tata kelola menuju organisasi yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan,” tutup Setyanto.(tis/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News