
BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Seniman muda Bali, Marmar Herayukti, kembali menorehkan kontribusi besar bagi seni rupa Indonesia melalui karya monumental ‘Diorama Puputan Badung’ yang kini terpasang pada pedestal Patung Pahlawan di Lapangan Puputan Badung, Denpasar. Patung pahlawan tersebut merupakan karya maestro patung Indonesia, Edhi Sunarso, yang menggambarkan kepahlawanan rakyat Bali dalam perang heroik melawan pasukan kolonial Belanda.

“Kami ingin menjadikan karya ini sebagai reinterpretasi artistik atas peristiwa bersejarah Puputan Badung 1906, menghadirkannya dengan cara baru agar masyarakat dapat kembali mengenang keberanian dan kehormatan rakyat Badung dalam menghadapi kolonialisme,” ungkap Marmar dalam Jumpa Pers yang digelar pada Sabtu (15/11/2025) di Tetuek Sangmong, Denpasar.

Marmar menegaskan, bahwa dalam penataan terbaru, patung pahlawan kini menghadap ke Utara, menggantikan orientasi sebelumnya yang menghadap ke selatan. Perubahan arah ini bukan semata pertimbangan estetika, tetapi upaya agar monumen dapat berinteraksi lebih kuat dengan publik dan memancarkan daya tarik sejarah ke seluruh penjuru kota.
“Sebuah monumen akan hidup ketika berinteraksi dan mudah diakses publik. Daya tariknya harus terpancar ke segala arah, bukan hanya bagi yang berada di areal monumen, tetapi juga bagi mereka yang melintasi kota. Sejarah kota ini harus menggema lebih jauh dan menyentuh lebih dalam,” jelas Marmar.
Diorama yang melengkapi monumen ini diwujudkan melalui panel-panel logam berukuran besar yang dicor dengan detail presisi. Karya tersebut menggambarkan rangkaian perlawanan tragis namun penuh kehormatan dari keluarga kerajaan dan rakyat Badung sebagai simbol abadi persatuan, loyalitas, serta pengorbanan masyarakat Bali.
“Bagi saya, diorama ini bukan hanya pelestarian sejarah, tetapi cara jujur menghadirkan kembali fakta, artefak, dan cerita masa lalu dalam bahasa visual tiga dimensi yang lebih mudah dipahami generasi muda,” jelas Marmar.
Ia menambahkan, bahwa setiap panel diorama dibuat sepenuhnya dengan tangan dan dicor dalam logam sebagai proses yang melambangkan keteguhan serta keabadian nilai perjuangan. Relief-relief tersebut menyajikan rangkaian adegan mulai dari persiapan, konfrontasi, ritual, hingga klimaks pertempuran, menghadirkan perjalanan visual yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini secara emosional dan mendalam.
Revitalisasi Monumen Puputan Badung juga menekankan aspek inklusivitas dengan menghadirkan fasilitas ramah disabilitas seperti ramp, guiding block, narasi Braille, serta barcode yang dapat dipindai untuk mengakses versi cerita lebih panjang.
“Tim kami juga tengah menyiapkan fitur voiceover sebagai dukungan bagi penyandang tuna netra. Karena bagi kami, penyandang disabilitas memiliki peran yang sama pentingnya dalam sejarah perlawanan Bali. Kekuatan sejati tidak terletak pada fisik, tetapi pada semangat yang tidak pernah padam,” ujar Marmar.

Proses penciptaan diorama ini melibatkan 20 anggota tim produksi yang bekerja sama dengan sejarawan, budayawan, arsitek Bali, keluarga Puri, serta keluarga Edhi Sunarso. Persiapan dilakukan melalui riset mendalam selama hampir dua tahun dan pengerjaan selama tujuh hingga delapan bulan, termasuk menelusuri arsip foto berusia seabad, lokasi bersejarah, hingga artefak era Puputan yang kini tersimpan di Museum Nasional. Seluruhnya memperkaya detail visual diorama sehingga bukan sekadar representasi sejarah, tetapi penghidupan kembali semangat perjuangan masyarakat Badung.
Marmar Herayukti menegaskan, bahwa ‘Diorama Puputan Badung’ adalah persembahan bagi masa lalu, pengingat ketangguhan budaya Bali, sekaligus peneguh pentingnya menjaga kepatutan dan kedaulatan.
“Saya berharap, revitalisasi ini membangkitkan minat masyarakat terhadap sejarah lokal, menumbuhkan rasa memiliki, serta mendorong publik untuk menjaga monumen sebagai warisan budaya yang tak ternilai,” pungkas Marmar.
Setelah seluruh revitalisasi rampung, Monumen Perjuangan Puputan Badung akhirnya diresmikan oleh Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara melalui penandatanganan prasasti pada 14 November 2025 bertepatan dengan Hari Sugihan Bali. Prosesi melaspas dan mecaru juga digelar sebagai penyucian ruang sakral.
Wali Kota Jaya Negara juga menyampaikan apresiasi atas kerja sama berbagai pihak dan berharap monumen ini menjadi ruang edukasi, refleksi sejarah, dan pusat interaksi budaya yang memperkuat identitas serta semangat perjuangan masyarakat Bali.(dnd/bpn)












