BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali menilai kinerja industri jasa keuangan di Bali hingga Juli 2025 tetap menunjukkan ketahanan dan pertumbuhan positif. Fungsi intermediasi perbankan berjalan baik, sementara likuiditas serta permodalan lembaga keuangan masih berada pada level yang kuat.
Kepala OJK Provinsi Bali, Kristrianti Puji Rahayu, menjelaskan bahwa penyaluran kredit perbankan di Bali mencapai Rp116,26 triliun atau tumbuh 6,50 persen year-on-year (yoy).
“Pertumbuhan ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap prospek ekonomi Bali yang terus membaik,” ujarnya.
Dari sisi penggunaan, pertumbuhan kredit didorong oleh kredit investasi yang naik 13,61 persen yoy, sedangkan kredit kepada UMKM menyumbang 51,19 persen dari total kredit, tumbuh 3,17 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional.
Sektor penerima kredit terbesar masih berasal dari Bukan Lapangan Usaha (33,71 persen) dan Perdagangan Besar serta Eceran (28,03 persen). Kredit pada sektor akomodasi dan makan minum juga meningkat tajam sebesar 13,14 persen yoy, seiring membaiknya sektor pariwisata Bali.
Kualitas kredit perbankan terjaga dengan NPL gross 3,06 persen, lebih rendah dibanding tahun lalu (3,32 persen). Rasio Loan at Risk (LaR) juga turun ke 10,43 persen dari 14,51 persen pada Juli 2024, menandakan perbaikan kualitas pembiayaan.
Sementara itu, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp202,85 triliun, tumbuh 9,42 persen yoy, ditopang peningkatan tabungan sebesar Rp10,19 triliun. Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di 57,31 persen, menunjukkan kondisi intermediasi yang sehat.
Dari sisi Bank Perkreditan Rakyat (BPR), permodalan juga tetap kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) 31,87 persen dan Cash Ratio (CR) 14,60 persen, menandakan daya tahan tinggi terhadap risiko.
Jumlah investor pasar modal di Bali terus meningkat. Hingga Juli 2025, terdapat 163.889 investor saham atau tumbuh 25,87 persen yoy, dengan nilai kepemilikan saham mencapai Rp6,21 triliun (naik 30,43 persen yoy). Nilai transaksi saham juga melonjak 65,27 persen yoy.
Di sisi lain, piutang perusahaan pembiayaan mencapai Rp11,89 triliun, naik 8,55 persen yoy, dengan NPF 1,37 persen yang masih terkendali. Penyaluran melalui modal ventura juga tumbuh 9,52 persen yoy dengan tingkat pembiayaan bermasalah rendah, yaitu 1,25 persen.
OJK Bali terus memperluas program literasi dan inklusi keuangan, termasuk bagi penyandang disabilitas. Sepanjang 2025 hingga Agustus, OJK telah menggelar 133 kegiatan edukasi yang menjangkau lebih dari 18.494 peserta, serta kampanye digital yang menjangkau 166.015 orang.
Bersama lembaga keuangan, program Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN) telah menghasilkan 1.404 kegiatan edukasi dengan total 610.870 peserta di seluruh Bali. Selain itu, TPAKD di berbagai kabupaten melaksanakan 637 kegiatan dengan 52.635 peserta untuk mendukung program UMKM, KURDa, dan inklusi pasar modal.
Dalam hal perlindungan konsumen, OJK Bali menerima 425 pengaduan hingga Agustus 2025. Sebagian besar terkait perilaku penagihan dan kasus penipuan eksternal. Dari jumlah tersebut, 404 kasus telah diselesaikan.
OJK juga mencatat peningkatan permintaan data iDeb SLIK dengan 7.420 layanan, naik 18,42 persen yoy, menandakan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap rekam jejak kredit.
OJK kembali mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati terhadap penawaran investasi ilegal.
“Selalu pastikan lembaga dan produknya Legal dan Logis sebelum berinvestasi,” tegas Kristrianti. (*/bpn)













