ilustrasi Beli Air
Ilustrasi warga membeli air bersih. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, KARANGASEM – Musim kemarau mulai dirasakan dampaknya oleh warga Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem. Persediaan air hujan yang biasanya ditampung dalam cubang kini semakin menipis, bahkan sebagian sudah kering. Kondisi ini membuat banyak warga terpaksa membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Seperti dialami Jro Mangku Ketut Pageh, warga Banjar Batumadeg, yang sudah tujuh kali membeli air sejak cubangnya tidak lagi mampu menyimpan cukup air hujan.

“Satu truk air harganya Rp190 ribu. Itu paling hanya cukup untuk sepuluh hari, dipakai untuk masak, mandi, dan kebutuhan ternak,” ujarnya, Selasa (2/9/2025).

Baca Juga :  Tiga Hari Tanpa Air, Ratusan Pelanggan PDAM di Seraya Karangasem Kesulitan Air Bersih

Hal serupa dirasakan I Nengah Sudarta. Ia bersama keluarganya sudah tiga kali membeli air bersih untuk mencukupi kebutuhan tiga kepala keluarga.

“Satu truk air hanya bertahan sekitar dua minggu, setelah itu beli lagi,” tuturnya.

Sementara itu, I Nengah Suartana mengaku cubang kecil yang dimilikinya tak mampu menampung banyak air hujan. Persediaan airnya habis lebih cepat dari perkiraan.

“Air di cubang baru seminggu lalu habis, saya baru sekali beli air. Satu truk paling cukup 20 hari,” ungkapnya.

Situasi ini membuat sebagian besar warga Besakih kini menggantungkan kebutuhan air bersih pada pasokan air tangki. Cadangan air hujan yang biasanya menjadi tumpuan di musim kemarau sudah tak mencukupi lagi.

Meski harga air per truk dinilai cukup memberatkan, warga tidak memiliki pilihan lain. Air yang dibeli harus digunakan secara hemat untuk keperluan memasak, mandi, hingga memberi minum ternak.(st/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News