BALIPORTALNEWS.COM, KINTAMANI – Beberapa hari pascabanjir besar yang melanda Bali, Prana Indonesia menyerukan refleksi tentang arah pembangunan di pulau ini. Melalui filosofi ‘Membangun dengan Bijak’, brand properti berbasis kayu bekas ini menghadirkan solusi nyata lewat dua eco-stays ikoniknya, Nirata Treehouse dan Calidas Hill di kawasan Kintamani.
Founder Prana Indonesia, I Nyoman Jatiguna, menyebut banjir Bali menjadi pengingat penting akan perlunya perubahan pola pembangunan.
“Banjir kemarin adalah pengingat keras bahwa cara kita membangun harus berubah. Kami ingin menunjukkan langsung solusinya lewat Nirata dan Calidas bukan sekadar bicara,” ujar Jatiguna, Jumat (12/9/2025).
Prana Indonesia memusatkan karya pada kayu bekas (reclaimed wood) sebagai material utama. Filosofi ini diwujudkan berbeda di setiap eco-stay:
- Nirata Treehouse: sekitar 70–80% strukturnya dari kayu bersejarah yang diselamatkan, dibangun sebagai rumah pohon magis yang menjaga tanah tetap berfungsi sebagai area resapan air.
- Calidas Hill: menggabungkan kayu daur ulang dengan dinding tanah vulkanik lokal, menciptakan hunian sehat yang berpadu dengan alam di perbukitan Kintamani.

Kedua properti tidak hanya menawarkan pengalaman menginap dengan panorama Gunung Batur, tetapi juga menjadi ruang edukasi bagi tamu tentang bagaimana material ramah lingkungan bisa hidup berdampingan dengan alam.
Prana Indonesia mencatat sejumlah capaian dari gerakannya:
- Lebih dari 30.000 kg kayu diselamatkan dari limbah.
- Sekitar 2 hektare lahan alami terjaga dari pembetonan.
- 10+ proyek berkelanjutan berhasil diwujudkan.
- 30+ pengrajin lokal diberdayakan melalui pengolahan kayu tua.
Sebagai informasi, didirikan oleh I Nyoman Jatiguna, Prana Indonesia dikenal sebagai pionir properti berkelanjutan di Bali. Brand ini membawa visi mendefinisikan ulang masa depan properti dengan menciptakan ruang regeneratif, melestarikan budaya lokal, sekaligus menginspirasi hidup sadar lingkungan.(*/bpn)













