
BALIPORTALNEWS.COM, TABANAN – Menjadi salah satu sekolah inklusi di Tabanan, Bali, membuat RA Khadijah terus berbenah dalam proses penyelenggaraan layanan pendidikan inklusi. Sebelumnya, mereka telah mendapatkan dua kali pelatihan tentang layanan inklusi, yakni tentang layanan pendidikan inklusi, serta pengenalan ragam anak berkebutuhan khusus.
Kali ini, mereka diberikan pelatihan tentang bagaimana melakukan deteksi dini anak berkebutuhan khusus nonmedis, sebagai screening awal kondisi tumbuh kembang anak.
Nur Syarifah, S.Pd.I., selaku kepala sekolah RA Khadijah mengatakan, adanya peningkatan jumlah siswa yang memiliki kebutuhan khusus di sekolah yang dia pimpin. Ini menjadikan satu hal yang perlu mendapat perhatian khusus, terutama pada orang tua agar tau proses tumbuh kembang anaknya.
“Masih ada orang tua yang menyangkal kondisi anaknya kalau anak tersebut memiliki kebutuhan khusus. Penting bagi kami untuk bisa melakukan deteksi dini sebagai langkah awal pemberitahuan bagi orang tua terhadap kondisi anaknya”, ujarnya.
Ditambahkan juga oleh Hj. I.G.A. Pramitari, S.Pd., selaku Ketua Yayasan Pendidikan Muslimat NU Kabupaten Tabanan, bahwa pelatihan ini jadi harapan agar kompetensi guru juga semakin meningkat.
“Guru-guru kami ini tidak ada yang memiliki latar belakang pendidikan khusus (luar biasa, red). Tentu kami menyambut baik kegiatan ini sebagai bentuk tanggung jawab guru terhadap pendidikan anak, khususnya anak usia dini,” jelasnya dalam sambutan yang diberikan, sekaligus membuka acara.
Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 11-12 Agustus 2025 ini diikuti oleh seluruh guru RA Khadijah yang berjumlah 15 orang. Para guru antusias dengan kegiatan ini, sebab mereka langsung melakukan praktik dengan menghadirkan beberapa siswa dengan kebutuhan khusus, untuk bisa melihat dan mendeteksi apakah siswa tersebut benar-benar memiliki kebutuhan khusus.
Kegiatan yang diketuai oleh Ali Syahidin Mubarok, M.Si., dan beranggotakan Choirul Rozi, M.Pd., dan Akhmad Farroh Hasan, M.Si., menghadirkan Retno Sulistiyaningsih, M.Si., sebagai narasumber utama dalam kegiatan.
Pada hari pertama, para peserta dibekali dengan pengetahuan tumbuh kembang anak, terutama yang terkait dengan golden age, usai tumbuh kembang utama yang akan berdampak pada perkembangan anak selanjutnya. Pada materi ini, peserta juga dikenalkan dengan aplikasi yang dapat membantu memantau tumbuh kembang anak, salah satunya aplikasi PRIMAku yang dirancang sebagai bentuk digital dari buku kesehatan ibu dan anak.
Peserta dikenalkan bagaimana cara memahami apa yang ada pada aplikasi tersebut, serta bagaimana memahami secara sederhana. Sebab, pelatihan ini hanya digunakan untuk deteksi awal saja, bukan sebagai diagnose medis.
Dalam paparannya, Tiya, sapaan akrab Retno Sulistiyaningsih, menjelaskan pentingnya orang tua memahami apa yang tertulis di dalam buku kesehatan ibu dan anak. Apa yang tertulis dalam buku tersebut akan jadi catatan bagi guru dalam proses pembelajaran di sekolah.
“Dalam buku tersebut, kita akan tahu tumbuh kembang anak apakah dalam kurva normal atau tidak. Misalnya, berat badan yang naik-turun, tinggi badan yang tidak bertambah, itu akan berdampak pada kemampuan kognitif anak,” paparnya.
Pada hari kedua, peserta membawa anak yang terindikasi memiliki kebutuhan khusus. Selain itu, dihadirkan juga mereka yang memiliki tumbuh kembang normal. Tujuannya untuk bisa membedakan anak yang normal dan anak yang memiliki kebutuhan khusus.
Pada sesi praktik ini, para guru diminta untuk mencermati formulir yang telah disiapkan. Formulir ini dibuat berdasarkan beberapa referensi yang bisa digunakan sebagai identifikasi awal anak berkebutuhan khusus. Beberapa peserta dapat mempraktikkan dengan baik, meskipun peserta lain masih memerlukan pendampingan khusus terkait identifikasi anak berkebutuhan khusus.
Pada akhir sesi, para peserta merasa sangat terbantu dengan diberikannya pelatihan ini. Target besarnya, peserta didik baru akan dilakukan serangkaian screening awal tumbuh kembang untuk identifikasi peserta didik baru, jika peserta tidak memiliki catatan tumbuh kembang.
Para peserta juga setuju pentingnya pemberitahuan tentang tumbuh kembang anak bagi para orang tua, agar mereka juga dapat memahami proses tumbuh kembang anak.
“Kami ingin memberikan pelayanan pendidikan yang terbaik yang bisa kami berikan, namun butuh keterlibatan aktif orang tua juga, agar proses pendidikan ini berkesinambungan antara sekolah dan rumah”, tutup Nur Syarifah.(ita/bpn)












