Ganjar Pranowo Buka Pameran Seni “The Art of Harmony: Living Earth, Living Culture”
Ganjar Pranowo Buka Pameran Seni “The Art of Harmony: Living Earth, Living Culture” . Sumber Foto : ads/bpn

BALIPORTALNEWS.COM, BADUNG – Kawasan Canggu sore ini menjadi saksi lahirnya sebuah perhelatan seni rupa bertajuk The Art of Harmony: Living Earth, Living Culture.

Pameran yang berlangsung di The LUC Berawa pada Jumat (22/8/2025) ini menampilkan karya lukisan hasil kolaborasi dua seniman lintas budaya, Untoro dari Indonesia dan Mickael Couturier dari Prancis. Kehadiran Ganjar Pranowo yang secara resmi membuka pameran menambah nilai istimewa dari ajang seni tersebut.

Pameran ini mengusung gagasan tentang harmonisasi seni, budaya, dan alam di tengah derasnya arus perubahan sosial dan lingkungan. Untoro, salah satu seniman penggagas, menuturkan bahwa tema tersebut lahir dari keprihatinan atas situasi dunia saat ini.

“Kita hidup di masa perubahan yang begitu cepat. Di satu sisi kita memiliki kekayaan seni dan budaya, namun di sisi lain kita juga dihadapkan pada persoalan sosial dan lingkungan yang luar biasa. Harapan saya, seni, budaya, dan alam bisa berjalan selaras dan harmonis,” ungkap Untoro.

Ganjar Pranowo Buka Pameran Seni “The Art of Harmony: Living Earth, Living Culture” . Sumber Foto : ads/bpn

Karya-karya yang dipamerkan tidak hanya menampilkan satwa, tetapi juga manusia, lingkungan, hingga eksplorasi artistik berbasis daur ulang sampah. Mengusung gaya ekspresionis, Untoro juga melibatkan rekan-rekan seniman dengan pendekatan berbeda, menjadikan pameran ini semakin kaya perspektif.

Alasan pemilihan Canggu sebagai lokasi juga memiliki pertimbangan tersendiri. Menurut Untoro, kawasan ini masih berkembang dan jarang digunakan sebagai ruang pamer seni rupa, berbeda dengan Ubud, Sanur, atau Kuta yang sudah lebih dulu dikenal sebagai pusat kegiatan seni.

“Kami ingin menghadirkan suasana seni yang baru dan memberikan nuansa art di Canggu,” tambahnya.

Bagi Untoro, setiap karya yang dipamerkan memiliki cerita dan ekspresi unik. Perjalanan seninya sendiri dimulai sejak kecil di Yogyakarta, meski secara akademis ia menempuh studi sejarah di Universitas Gadjah Mada. Ia mengasah keterampilan seni rupa secara otodidak, banyak belajar dari seniman senior maupun rekan sejawat.

Sementara itu, Mickael Couturier menampilkan karya yang sarat pesan sosial dan lingkungan. Koleksi karyanya terinspirasi dari anak-anak pemulung di Kubah Suwung, Denpasar, yang sehari-hari mengais plastik dari sampah. Dari perjumpaan tersebut, Mickael memutuskan menjadikan plastik dan limbah pantai sebagai medium karyanya.

“Kami memiliki sekitar 30 karya, beberapa di antaranya berukuran sangat besar. Semua material berasal dari sampah plastik di pantai Bali. Melalui karya ini, saya ingin menyebarkan kesadaran tentang polusi plastik sekaligus membantu anak-anak yang hidup di lingkungan penuh sampah,” jelas Mickael.

Untoro dari Indonesia dan Mickael Couturier dari Prancis. Sumber Foto : ads/bpn

Ia juga menambahkan, karyanya kini berkembang menjadi pengalaman multimedia. Beberapa lukisan bahkan dapat dihidupkan kembali melalui teknologi ponsel pintar, menghadirkan interaksi unik bagi pengunjung.

Mickael yang tiba di Bali pada masa pandemi awalnya terlibat dalam kegiatan sosial membantu masyarakat yang kehilangan pekerjaan. Dari pengalaman itu, ia menemukan inspirasi untuk menghubungkan seni dengan isu lingkungan serta pemberdayaan anak-anak.

“Saya pikir semua orang harus mulai mengambil tanggung jawab terhadap sampah. Bali sangat indah, tapi kita menghadapi konsumsi berlebihan dan belum memiliki fasilitas pengelolaan sampah yang cukup cepat. Seni bisa menjadi cara untuk menyuarakan kesadaran ini,” pungkasnya.

Pameran The Art of Harmony: Living Earth, Living Culture diharapkan dapat menjadi ruang refleksi sekaligus inspirasi, agar masyarakat lebih peduli terhadap pentingnya menjaga kelestarian budaya dan lingkungan, tanpa meninggalkan nilai estetika seni. (ads/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News