
BALIPORTALNEWS.COM, BADUNG – Upaya menjaga Bali agar tetap lestari kini tidak lagi sebatas slogan. FINNS Bali membuktikan keseriusan itu melalui sederet program nyata, mulai dari pengelolaan sampah bertanggung jawab, pemberdayaan masyarakat, hingga menjaga ekosistem pantai.
Hasilnya cukup mencengangkan. Dalam setahun terakhir, volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) berhasil ditekan drastis, dari 80% menjadi hanya 20%. Pada 2026, target ambisius sudah ditetapkan: hanya 5% sampah yang masuk TPA.
“Ini perjalanan panjang, tapi hasilnya nyata. Sejak awal berdiri, kami sadar bahwa CSR saja tidak cukup. Bali butuh komitmen ESG yang lebih serius,” ujar Direktur FINNS Bali, Wayan Asrama, dalam peluncuran robot pembersih pantai bertenaga listrik bernama BeBot, Selasa (19/8/2025).
Untuk menopang program tersebut, FINNS membangun fasilitas pemilahan sampah seluas 200 meter persegi dengan kapasitas 5 ton per hari. Hingga kini, lebih dari 1 juta kilogram sampah berhasil dialihkan dari TPA, jumlah setara dengan berat 200 ekor gajah.
Inovasi lainnya adalah BeBot, robot listrik yang bertugas menyisir Pantai Berawa untuk mengangkat sampah kecil seperti puntung rokok, plastik, hingga pecahan kaca yang kerap tersembunyi di bawah pasir.
Wakil Bupati Badung, Bagus Alit Sucipta, bersama Duta Sampah Kabupaten Badung, Ny. Rasniati Adi Arnawa, yang meninjau langsung fasilitas ‘Finns Crycle’, mengapresiasi langkah ini.
“Sampah yang berakhir di TPA tinggal 15%. Ini luar biasa. Apalagi BeBot bisa menyedot sampah kecil yang terkubur di pasir. Teknologi ini bisa jadi acuan kami ke depan,” ujarnya.

Selain fokus pada lingkungan, FINNS juga bergerak di bidang sosial. Melalui kerja sama dengan Stella’s Child, lebih dari 250 anak muda kurang mampu mendapat pelatihan kewirausahaan dan perhotelan. Bersama SoleFamily, ribuan paket makanan telah disalurkan hampir satu dekade terakhir. Program Kids’ Fun Days pun rutin menghadirkan keceriaan bagi 400 anak berkebutuhan khusus di Bali.
Untuk mendukung ekosistem, FINNS menanam lebih dari 800 pohon mangrove dan 750 terumbu karang di perairan Bali. Donasi tamu yang terkumpul hampir Rp720 juta juga telah disalurkan ke NGO dan komunitas lokal.
Di bidang transportasi, layanan publik gratis “FINNS Loop” hasil kolaborasi dengan Grab sudah mengangkut lebih dari 20 ribu penumpang—jumlah yang setara populasi sebuah kota kecil.
Dari sisi ekonomi, FINNS menjadi tumpuan hidup bagi ribuan keluarga. Saat ini, 2.038 tenaga kerja lokal bergabung, menjadikan FINNS bukan hanya destinasi hiburan, tetapi juga sumber penghidupan.
“Artinya, lebih dari 2.000 keluarga bisa hidup layak sekaligus berkontribusi pada komunitas mereka,” jelas Wayan Asrama.
Manager ESG FINNS Bali, Manaf, menambahkan bahwa semua proses pengolahan sampah dilakukan secara terstruktur.
“Sampah organik dan anorganik dipisah dari awal. Plastik, kaleng, kardus, kertas—semua dipilah untuk didaur ulang. BeBot membantu di pesisir pantai, tapi tetap, kolaborasi manusia dan teknologi yang membuatnya efektif,” ujarnya.
Dengan berbagai terobosan itu, FINNS Bali ingin membuktikan bahwa bisnis, budaya, dan alam bisa tumbuh bersama. Harapannya, kehadiran wisatawan di Pulau Dewata bukan hanya menikmati keindahan, tetapi juga memperkuat misi keberlanjutan Bali. (bpn)












