BALIPORTALNEWS.COM, BADUNG – Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) 3R milik Desa Adat Seminyak kini menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah yang terus meningkat, terutama dari sektor pariwisata.
Ketua TPST 3R Desa Adat Seminyak, I Komang Ruditha Hartawan, menyebutkan bahwa volume sampah yang masuk ke TPST mencapai sekitar 179 meter kubik per hari, dengan komposisi yang didominasi oleh sampah dari hotel, restoran, dan villa.
“Volume sampah yang kami terima mencapai sekitar 179 meter kubik per hari. Sampah ini datang bukan hanya dari Seminyak, tapi juga dari Denpasar dan sekitarnya. Karena TPST ini milik desa adat, kami prioritaskan dulu sampah dari warga, baru kemudian dari sektor pariwisata,” ungkap I Komang Ruditha Hartawan saat ditemui di lokasi, Sabtu (26/7/2025).
Ia menjelaskan bahwa kondisi pariwisata sangat memengaruhi jumlah sampah yang masuk. Saat musim sepi (low season), volume sampah cenderung turun, namun saat high season bisa melonjak tajam hingga menyebabkan TPST mengalami kelebihan kapasitas.
“Kalau Seminyak lagi ramai wisatawan, otomatis sampah meningkat drastis, dan ini yang bikin kami overload. Sebaliknya saat low season, volumenya bisa turun cukup signifikan,” jelasnya.
Komposisi sampah yang masuk pun beragam dan sangat tergantung dari kondisi wilayah. Di daerah wisata seperti Seminyak, sampah anorganik seperti plastik, botol, kardus, dan aluminium lebih mendominasi. Sementara di wilayah pedesaan, sampah organik seperti sisa makanan dan dedaunan lebih banyak.
“Karakteristik sampah itu beda-beda tergantung daerah. Di Seminyak, anorganik lebih banyak karena dominasi sektor pariwisata, sedangkan di desa biasanya organik yang lebih dominan,” ujarnya.

Ia juga mengakui bahwa masih banyak sampah yang belum dipilah saat masuk ke TPST. Sampah organik terbagi menjadi dua, yakni organik basah dan kering, sementara anorganik terdiri dari berbagai jenis seperti kardus, botol plastik, hingga plastik kresek.
“Untuk plastik kresek, kami punya mesin bantuan untuk mengolah jadi papan dan balok, tapi kapasitasnya masih kecil. Anorganik lainnya, kebanyakan kami kirim ke pabrik. Kalau organik, kami bikin kompos, targetnya minimal 8,4 ton. Tapi belum pernah penuh karena lahan fermentasinya kurang luas,” bebernya.
Dari sisi ekonomi, penjualan sampah anorganik sangat tergantung jenisnya. Aluminium disebut sebagai jenis yang memiliki nilai jual tertinggi.
Sementara itu, TPST Seminyak memiliki total 28 unit armada pengangkut, namun yang aktif beroperasi hanya 22 unit karena sebagian dijadikan cadangan.
Untuk tenaga kerja, TPST ini mempekerjakan sekitar 52 orang. Namun, pengelolaan sumber daya manusia sempat menghadapi kendala saat hari raya keagamaan, karena pada awalnya hampir seluruh pekerja adalah warga lokal beragama Hindu.
“Waktu hari raya, banyak pekerja libur dan itu jadi masalah karena sampah enggak pernah libur. Saya akhirnya minta izin untuk merekrut teman-teman dari luar Bali, dari Jawa. Tapi pas Lebaran juga libur. Akhirnya sekarang kami punya tim yang lebih beragam, ada yang Muslim, Nasrani, bahkan dari wilayah Timur,” ungkapnya.
Namun, menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah pengelolaan residu, yaitu sampah yang tidak bisa didaur ulang dan tidak memiliki nilai ekonomi.
Ia berharap ada dukungan dari pemerintah maupun pihak swasta untuk menghadirkan teknologi yang mampu mengolah residu tersebut.
“Yang paling saya inginkan di TPST ini adalah adanya teknologi untuk mengolah residu. Karena kalau TPA ditutup, kami bingung harus buang ke mana. Sebenarnya idealnya TPA itu hanya menampung residu, jadi TPST harus memilah maksimal. Tapi kami juga perlu alat atau mesin untuk residu ini,” pungkasnya.
Dengan kondisi yang terus berkembang dan volume sampah yang semakin meningkat, TPST 3R Desa Adat Seminyak kini membutuhkan perhatian lebih agar tetap mampu menjalankan fungsinya sebagai garda depan pengelolaan sampah terpadu di wilayah yang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan Bali tersebut. (ads/bpn)













