Retno Marsudi
Menteri Luar Negeri RI periode 2014–2024, Retno Marsudi. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, NUSA DUA – Perempuan memainkan peran krusial dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif di negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia. Namun, potensi besar ini masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ketimpangan gender di bidang ekonomi hingga keterwakilan politik yang rendah. Isu ini menjadi salah satu fokus pembahasan dalam Asia Grassroots Forum 2025 yang digelar Amartha pada 21–23 Mei 2025 di Nusa Dua, Bali.

Menteri Luar Negeri RI periode 2014–2024, Retno Marsudi, dalam paparannya menyebutkan ada empat bidang utama yang masih menghadapi kesenjangan gender signifikan: pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan politik. Berdasarkan data Global Gender Gap Report, kesenjangan gender di bidang pendidikan saat ini sekitar 10 persen, dan di bidang kesehatan hanya sekitar 6 persen. Namun, partisipasi perempuan dalam ekonomi baru mencapai 65 persen, sementara di ranah politik angkanya bahkan lebih rendah, yakni hanya 22,5 persen.

Baca Juga :  Tanam 250 Bibit Mangrove, ITDC Nusantara Utilitas Perkuat Komitmen Pelestarian Ekosistem Pesisir

“Peningkatan partisipasi perempuan di sektor ekonomi akan memperkuat resiliensi perekonomian nasional. Sementara meningkatnya partisipasi di sektor politik berarti perempuan memiliki ruang lebih besar dalam proses pengambilan kebijakan,” ujar Retno.

Ia juga menyoroti rendahnya partisipasi perempuan Indonesia di bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM). Mengacu pada data UNESCO 2024, hanya 35 persen perempuan Indonesia yang terlibat di sektor ini. Selain itu, hanya 3,1 persen perempuan yang menduduki posisi CEO di Indonesia, menunjukkan masih rendahnya keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan di sektor ekonomi.

Baca Juga :  ITDC Pastikan Pantai The Nusa Dua Tetap Aman, Dugaan Kemunculan Hiu Masih Belum Terverifikasi

Retno menekankan pentingnya pemberdayaan perempuan untuk menciptakan ekonomi yang inklusif. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, terdapat sekitar 65 juta pelaku UMKM di Indonesia, dengan lebih dari 64 persen dikelola oleh perempuan.

“Sektor UMKM, terutama yang dijalankan oleh perempuan, merupakan kelompok rentan. Apa yang dilakukan Amartha untuk melindungi dan memberdayakan pelaku UMKM perempuan patut diapresiasi. Amartha telah menjadi jembatan untuk meningkatkan peran perempuan dalam perekonomian,” tambahnya.

Senada dengan Retno, Direktur Eksekutif IBEKA sekaligus anggota Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Tri Mumpuni, menyampaikan bahwa data menunjukkan perempuan memiliki tanggung jawab lebih tinggi dan perspektif kepemimpinan yang lebih inklusif.

“Yang terpenting adalah menciptakan ekosistem yang setara, di mana laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama. Langkah awal bisa dimulai dari rumah, dengan menghapus tradisi yang mendahulukan anak laki-laki dibandingkan perempuan,” tandas Tri.(tis/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News