Kak Seto
Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi yang juga dikenal dengan sebutan Kak Seto(tengah) didampingi Sekretaris Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, Titik Suhariyati dan Jowanda Harahap Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Sumber Foto : ads/bpn

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi yang akrab disapa Kak Seto, kembali menegaskan urgensi pengendalian tembakau sebagai bagian dari upaya menyelamatkan generasi muda Indonesia dari jerat bahaya rokok dan potensi kecanduan narkoba.

Hal ini disampaikannya dalam Simposium Nasional bertajuk “Mengawal Generasi Sehat Menuju Indonesia Emas” yang digelar di Kampus Universitas Udayana, Denpasar, Selasa (27/5/2025).

Dalam kesempatan tersebut, Kak Seto didampingi oleh Sekretaris Umum LPAI Titik Suhariyati dan Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM), Jowanda Harahap.

“Pengendalian tembakau sangat penting dan mendesak dilakukan, karena dampak negatifnya terhadap anak-anak sangat serius. Bila dibiarkan, ini akan menjadi pintu masuk bagi penyalahgunaan zat berbahaya lainnya seperti narkoba,” tegas Kak Seto.

Ia menyoroti lemahnya perlindungan anak di Indonesia, baik dari sisi kebijakan maupun dari komitmen kolektif masyarakat. Menurutnya, komitmen pemerintah terhadap regulasi pengendalian industri rokok dinilai masih kurang tegas, sementara partisipasi masyarakat, khususnya dari lingkungan terkecil seperti keluarga juga harus lebih digalakkan.

“Kita harus mulai dari rumah, dari keluarga. Orang tua harus menjadi pelindung pertama anak-anaknya dari bahaya rokok. Kita semua harus bergerak bersama. Ini bukan hanya tugas pemerintah, tapi tugas moral seluruh lapisan masyarakat demi menciptakan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya penuh semangat.

Isu tak kalah mengkhawatirkan turut disampaikan oleh Sekretaris Umum LPAI, Titik Suhariyati. Ia mengungkapkan bahwa tren penggunaan rokok elektrik berbahan cair di kalangan generasi muda menjadi perhatian serius. Menurutnya, rokok elektrik tidak bisa dianggap remeh karena potensi bahayanya yang tersembunyi.

“Kami di LPAI sangat khawatir, karena saat ini narkoba juga sudah ada dalam bentuk cair. Bayangkan jika bahan cair dalam rokok elektrik tersebut disusupi zat narkotik — ini sangat membahayakan,” jelas Titik.

Ia menambahkan, popularitas rokok elektrik di kalangan anak muda meningkat tajam karena kemasannya yang modern dan aromanya yang menarik, namun tanpa disadari mereka bisa saja menghirup zat berbahaya yang memicu ketergantungan bahkan kerusakan organ.

“Rokok elektrik ini sudah menjadi gaya hidup anak muda, padahal bahayanya tak kalah dari rokok konvensional. Bahkan bisa lebih parah karena tidak semua kandungannya jelas dan terpantau,” pungkasnya.

Mewakili suara generasi muda, Jowanda Harahap selaku Sekretaris Jenderal PP IPM menyoroti masifnya pertumbuhan industri rokok, termasuk produk rokok elektrik, yang kian agresif membidik kalangan remaja dan pelajar.

“Industri rokok sekarang ini berkembang sangat pesat dan canggih. Mereka tahu bagaimana mempengaruhi psikologis anak-anak muda, termasuk melalui iklan dan media sosial,” ujar Jowanda.

Ia menegaskan bahwa peningkatan penggunaan rokok elektrik di kalangan pelajar adalah ancaman nyata bagi masa depan bangsa dan bisa menjadi hambatan besar bagi program pembangunan sumber daya manusia unggul yang tengah diupayakan pemerintah dalam rangka menyongsong Indonesia Emas 2045.

“Oleh karena itu, kita sebagai pelajar juga harus mengambil peran. Kita harus ikut mengkampanyekan bahaya rokok, baik rokok konvensional maupun elektrik, kepada teman sebaya. Kampanye ini harus dilakukan terus menerus agar generasi muda sadar dan berani mengatakan tidak pada rokok,” tegasnya.

Simposium ini menjadi momen penting bagi semua pihak, baik dari lembaga perlindungan anak, institusi pendidikan, maupun organisasi kepemudaan, untuk bersatu dalam gerakan menyelamatkan anak-anak Indonesia dari ancaman rokok dan narkoba. Semua narasumber sepakat bahwa tanpa langkah konkret dari berbagai pihak, terutama keluarga dan lembaga pendidikan, bahaya ini akan terus mengintai dan mengancam potensi generasi penerus bangsa.

“Kita tak boleh diam. Sudah saatnya kita bersama-sama menjadi pelindung dan penggerak perubahan untuk masa depan anak-anak Indonesia,” tutup Kak Seto.(ads/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News