
BALIPORTALNEWS.COM, KARANGASEM – Suasana hening menyelimuti Desa Adat Geriana Kangin, Desa Duda Utara, Kecamatan Selat, Karangasem, pada Jumat (4/4/2025) pagi. Jalanan yang biasanya dilintasi warga kini tampak sunyi, tanpa lalu lalang kendaraan maupun aktivitas masyarakat. Semua toko dan warung tutup, sementara sejumlah pecalang bersama aparat kepolisian tampak berjaga di perbatasan desa.
Keheningan ini merupakan bagian dari pelaksanaan Nyepi Adat oleh seluruh krama (warga adat) Desa Adat Geriana Kangin. Nyepi ini menjadi bagian dari rangkaian Karya Tawur Agung Tabuh Gentuh Padudusan Agung, Suda Bumi, Yama Raja yang digelar sehari sebelumnya di Pura Puseh Geriana Kangin.
Bendesa Adat Geriana Kangin, Jro Mangku Sudharma Yasa, menjelaskan bahwa brata penyepian atau Nyepi Adat ini berlangsung selama 12 jam, dimulai sejak pukul 00.01 WITA hingga pukul 12.00 WITA.
“Secara esensi, Nyepi Adat ini mirip dengan Hari Raya Nyepi nasional. Krama tidak diperbolehkan keluar rumah dan wajib menjalankan tapa brata penyepian. Bedanya, durasi waktunya hanya setengah hari,” terang Sudharma Yasa.
Selain itu, selama Nyepi berlangsung, warga adat tidak diperkenankan menerima tamu dari luar. Bagi masyarakat non-krama yang melintas di wilayah desa, diperbolehkan melintasi jalan desa, asalkan tidak berhenti atau membunyikan klakson.
Karya Tawur Agung ini bukan sembarang upacara. Menurut Sudharma Yasa, upacara besar ini termasuk dalam upacara Bhuta Yadnya yang bertujuan untuk ‘jagat kertih’ atau menyucikan alam semesta dari pengaruh negatif.
“Upacara ini kami laksanakan secara rutin setiap sepuluh tahun sekali. Selain sebagai upaya menjaga keharmonisan alam, ini juga menjadi bagian dari tanggung jawab spiritual krama adat terhadap kesucian wilayah,” jelasnya.
Prosesi utama dilakukan di areal jabe tengah Pura Puseh, tepatnya di pempatan agung. Terdapat sembilan sulinggih (pemuka agama Hindu) yang memimpin seluruh tahapan upacara, dengan sembilan jenis caru (sarana upacara) yang dipersembahkan. Hewan kerbau menjadi sarana utama dalam upacara ini, sebagai bagian dari simbol pengorbanan dalam menyucikan alam.
“Persiapan upacara sudah kami lakukan sejak dua bulan lalu secara bergotong royong bersama seluruh krama. Ini bagian dari warisan leluhur yang terus kami lestarikan,” tambahnya.(st/bpn)












