Muchamad Saparis Soedarjanto, mengungkapkan visi ambisius dalam menyelamatkan hutan Indonesia
Muchamad Saparis Soedarjanto, mengungkapkan visi ambisius dalam menyelamatkan hutan Indonesia. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Di tengah ancaman deforestasi dan dampak perubahan iklim, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam mengelola hutan seluas 116 juta hektar. Untuk menjawab tantangan ini, paradigma pengelolaan hutan perlu diubah demi keberlanjutan ekologi dan ekonomi.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari Kementerian Kehutanan, Muchamad Saparis Soedarjanto, mengungkapkan visi ambisius dalam menyelamatkan hutan Indonesia. Ia menekankan pentingnya perlindungan hutan tidak hanya untuk kesejahteraan rakyat, tetapi juga sebagai pilar ekonomi global.

“Sejak 1970, hutan telah menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi kita. Namun, kini kita dihadapkan pada tantangan besar, yaitu mengintegrasikan pengelolaan hutan dan industri sawit,” ungkapnya dalam International Conference on Oil Palm and Environment (ICOPE) Series 2025 Day 2 di Bali Beach Convention, Bali, Rabu (12/2/2025).

Dengan lebih dari 95 persen kawasan hutan berfungsi sebagai penyangga kehidupan, hutan Indonesia tidak hanya menyediakan air bersih, tetapi juga energi dan bahan pangan. Namun, pesatnya perkembangan industri, terutama perkebunan sawit, menuntut perhatian serius.

“Hutan dan sawit harus dilihat sebagai satu kesatuan lanskap yang saling mendukung,” jelas Saparis.

Dengan pertumbuhan budidaya sawit yang mencapai 1,25% per tahun, keseimbangan ekologis menjadi semakin mendesak. Oleh karena itu, integrasi antara hutan dan perkebunan sawit menjadi hal yang tidak dapat dihindari.

“Keduanya harus menjadi bagian dari lanskap yang harmonis, berkontribusi pada ekonomi lokal tanpa mengorbankan lingkungan,” tambahnya.

Saparis mendorong transisi dari pengelolaan berbasis kayu menuju model berbasis masyarakat, di mana semua pihak terlibat dalam menjaga keberlanjutan hutan. Perubahan kebijakan menjadi langkah penting agar hutan dan hasil non-kayu dapat dikelola secara berkelanjutan.

“Paradigma pengelolaan harus bergeser dari berbasis kayu menjadi berbasis masyarakat,” tegasnya.

Langkah-langkah perlindungan hutan nilai konservasi tinggi (High Conservation Value/HCV) dan mitigasi bencana alam menjadi bagian dari strategi besar ini. “Kami percaya bahwa integrasi antara hutan dan sawit bukan hanya diperlukan, tetapi juga mendesak untuk masa depan yang lebih baik,” katanya.

Menurutnya, dengan upaya dan komitmen yang tepat, menjaga keanekaragaman hayati dan mengurangi emisi karbon bukanlah sekadar mimpi. “Kita harus aktif melibatkan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam,” pungkas Saparis.(ads/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News