BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Representasi visual suatu lingkup atau wilayah dengan menggunakan elemen titik, garis, bidang, dan simbol guna menampilkan informasi geografis dan navigasi adalah definisi dari peta itu sendiri.
Informasi yang ditampilkan harus lugas, jelas, dan sesuai dengan situasi lingkungannya, itu menandakan sebuah peta tidak rancu dan mudah dipahami. Judul yang tersematkan pada pameran ini dimulai ketika salah satu dosen kami melontarkan sebuah kalimat “Kalian ini seperti peta tanpa arah”.
Kata-kata tersebut sedikit nyelekit bagi kami para mahasiswa seni rupa angkatan 2021 yang mengisyaratkan bahwa kami masih rancu dan tidak memiliki strategi bersiap menghadapi kelulusan serta tugas akhir yang sudah di depan mata. Tuduhan itu membuat kami mengiris kecut, karena memang benar adanya. Dalam dunia kartografi, peta yang baik mengandung detil-detil landmark yang lugas dan legenda yang tidak rancu.
Angkatan kami layaknya sebuah armada besar tanpa navigasi kapal yang tahu di mana letak pelabuhannya namun tidak pada rutenya. Pelabuhan yang dimaksud adalah sebuah panggung apik untuk gebrakan yang ciamik 22 mahasiswa, dengan awal titik berangkat yang berbeda-beda, tentu ketiadaan rute tersebut tidak akan membuat kami sampai pada tempat berlabuh.
Peta konvensional pada umumnya berisikan orientasi arah yang jelas; utara, timur, selatan, dan barat, dengan tambahan detail figur yang memudahkannya. Lebih dari itu, peta yang benar tahu dimana “harta karun”nya dan di mana si pembawa peta berada. Harta karun kami jelas, menampilkan gebrakan. Seolah meraba arah, situasi kami bukan tentang melalui jalan tidak jelas atau buntu, namun kami mencoba menjadi pionir dalam arah perjalanan.

Tuduhan itu adalah pecut yang membuat kami mencari peran dalam armada besar ini. Ada yg perang ada yg scouting. Pionir dalam penjelajahan sebuah armada, utusan yang menampuk tugas vital dalam logistik penjelajahan untuk membuka jalur dan menengarai titik-titik strategis.
Garis awal perjalanan tersebut dibedakan oleh banyak jenis aluan, seperti; seni lukis, seni patung, seni keramik, prasimologi, seni tekstil, photografi, serta desain komunikasi visual.
Jika kita menilik karya perkarya dari tiap anggotanya yang memiliki aliran yang berbeda-beda, semua serasa memiliki keterikatan bukan pada alirannya, melainkan pada konsep yang diusung. Kita ambil contoh karya dari Dwipayana dan Agus Mahardikha, walau dibedakan oleh aliran seni lukis dan prasimologi, karya mereka bisa dibilang menyinggung isu yang sama, yaitu tentang “paradox”.
Dwipayana menagih janji manis cybernetics 1960an, cita-cita di mana mesin menjadi perpanjangan tangan, menjadi tungkai manusia. Namun, yang ia dapati adalah manusia menjadi tungkai mesin.
Lalu Agus melihat kembali wiracarita Mahabrata, sosok-sosok Suri tauladan yang dalam sejarah tuturannya tersandung pada suatu logical fallacy: appeal to authority. Kesempurnaan dewata yang dalam kacamata kritis sebenarnya memiliki cela dalam keagungannya.
Manusiawi alih-alih ilahiyah. Konsep mereka seakan sama perihal pernyataan yang seolah-olah bertentangan (berlawanan) dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran layaknya sebuah paradox.
Kita beranjak melihat tiga karya lukis yang digarap oleh Mahesa, Sahsi, dan Saka yang tentunya memiliki kesinambungan dari segi konsep. Pertama mari menyimak seri lukisan Mahesa, kita seolah diajak berpikir retrospektif dalam beribadah, yg mapan ingin meningkatkan kemapanannya, sombong, sehingga lupa akan harkat manusia yg hanya bisa meminta izin tuhan dalam mencari rezeki,
jangan ditanya untuk apa anak kecil beribadah, hanya untuk diizinkan ortunya untuk bermain sepulang sembahyang. Sudah jelas terlihat bahwasanya manusia tak akan pernah jauh dari sebuah hasrat, Sahsi dalam hal ini juga menampilkan hasrat manusia yang berjenis laki-laki dalam memandang tubuh wanita. Dari kejauhan lukisan Sahsi sukses mengundang apresiator untuk mendekat, terlebih yang lelaki.
Namun apa daya mereka akan segera tertegun, tersandung dalam male gaze nya sendiri. Yang awalnya menikmati tubuh gemulai wanita muda hingga sadar terdapat Seonggok yang tersaji on a silver platter membuat mereka tersadar ada jebakan dalam undangan hasrat ini. Lalu sedikit menggeser mata, kita akan melihat pojok interior bernuansa boho yang juga nyaman mengundang, tetapi masih lekat diingatan jebakan lukisan sasih membuat kita mencari-cari udang di balik batu, intensi dari makrame vanessa Egga yang mengambil desain komunikasi visual sangat dekat dengan tiga pematung pada pameran ini Dewa Agung, Adi Maha, serta Cening.
Payung mereka bisa dibilang sama, menerangkan kembali cerita lama yang telah dikenal banyak kalangan, sebuah spekulatif biografi—namun dalam penggambarannya Egga menekankan taktik otobiografi dengan menampilkan karyanya, bagaimana jika dirinyalah yang diceritakan menjadi sosok luhur, sosok kindness, dan sosok yang menumpas buruk sebagai awatara.
Dibandingkan dengan Dewa Agung, Adi Maha, serta Cening, yang setiap karyanya menceritakan tentang spekulatif biografi orang lain dalam karyanya. Menceritakan ulang kisah apik dari cerita Jaya Pangus dan Ki Barak Panji Sakti. Kedekatan konsep ini juga sama seperti karya milik Bayuna, menceritakan dengan lugas sejarah tentang tarian sisiye–tarian dari murid lakon terkenal “Calon Arang”. Yang ia tampilkan dalam visual fotografi light painting art bernuansa gelap.
Jauh kita melangkah, keterikatan lainnya kita dapati pada karya yang mengulik dalam sebuah sejarah menjadi nuansa baru yang kurang dipandang sebelumnya. Reka yang tanah kelahirannya selalu mengagunggung-agungkan alat musiknya yang bernama jegog yang juga mulai terlupakan oleh kawula muda di sana, ia berusaha menghidupkan kembali sejarah tersebut dengan nuansa baru ke dalam bentuk Prasimologi.
Lalu sama halnya dengan Andi, ia sangat minim melihat karya perihal “kanda pat” yang digambarkan secara gamblang dalam bentuk logis–yang sehari-harinya ia lihat penggambarannya dalam bentuk mistis. Sehingga tergerak untuk menampilkan karyanya dengan perwujudan kanda pat dalam visual patung yang nyata, tentang awal mula kelahiran sebuah fisik.
Keresahan terhadap tanah kelahiran tidak hanya dialami oleh Reka atau Andi, namun juga bisa dilihat dari karya Alex dan Fira. Dalam Alex ia resah dan gelisah dengan lahannya yang terus tergerus oleh eksploitasi lahan penggalian di Karangasem yang bertahun-tahun bekerja menggerus menjadi semakin masif, entah kapan akan berakhir. Seakan telah kebas, Alex akhirnya mencipatakan closure sendiri dalam hatinya.
Pandangan dunianya terlihat dari kacamata seorang seniman yang menarik hikmah damai, estetis. Alih-alih kemarahan yang terpelihara dari seorang aktivis lingkungan. Berbeda dengan Fira, tanah kelahirannya sebetulnya masih damai dan tentram, namun entah bagaimana terasa keresahan dalam kacamata seorang Fira. Atau lebih tepatnya; anxiety. Mungkin ia dengan pandangan matanya sendiri, ia seakan belum berdamai dengan eksploitasi dari tanah tercintanya dari domestikasi wisatawan. Gambar rampak kembar landscape Fira adalah dua versi sudut pandangnya; realitas-romantisasi;
Kembali pada tema tulisan ini, seolah meraba arah, angkatan yang awalnya tidak memiliki arah terhadap peta yang dipunya ternyata memiliki keterikatan dan kesinambungan arah yang belum terlihat jelas. Namun jalan yang dibabat untuk menjadi seorang pionir sudah mulai terbuka sedikit demi sedikit, kesamaan arah inilah yang menjadi kunci dari harta karun yang ingin dicari. Serangan kata seperti “kalian ini seperti peta tanpa arah” memang seperti menyerang, namun kami berusaha membalikkan serangan kata tersebut dengan halus. Memang benar kami tanpa arah, maka dari itu kamilah yang akan merancang arah.
“KAMI TAHU MAU DIBAWA KEMANA SENI RUPA UNDIKSHA 2021”
Penulis: insaneart21













