evakuasi hewan liar
Petugas Damkar Buleleng saat melakukan proses evakuasi terhadap hewan liar yang masuk ke rumah warga. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, BULELENG – Selama musim hujan di Kabupaten Buleleng tidak hanya membuat masyarakat resah akan terjadi bencana. Namun kehadiran hewan liar seperti biawak serta ular memasuki rumah juga banyak membuat masyarakat kian resah.

Bedasarkan data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Buleleng sejak November hingga pertengahan Desember 2024 sudah ada sebanyak 28 laporan dari masyarakat terkait masuknya dua hewan melata tersebut. Namun rata-rata laporan masuk paling banyak di Kecamatan Buleleng atau masih di seputaran wilayah Kota Singaraja.

Baca Juga :  Bupati Sutjidra Resmikan Uji Coba Penerangan, Titik Nol Singaraja Tampil Lebih Menawan

Kepala Dinas Damkar dan Penyelamatan Buleleng, I Gede Arya Suardana menyebutkan, bahwa selama beberapa waktu terakhir saat memasuki musim hujan. Pihaknya sering kali mendapat permintaan untuk evakuasi gangguan hewan liar dari masyarakat. Dari banyaknya laporan yang masuk tercatat hewan seperti ular hingga biawak menjadi yang terbanyak.

“Sesuai data masuk ada sebanyak 21 ular dan 7 biawak itu selama dua bulan terakhir atau sudah memasuki musim hujan,” sebut dia.

Menurutnya, banyaknya hewan-hewan melata masuk rumah selama dua bulan terakhir tidak hanya disebabkan musim hujan. Akan tetapi khususnya di Wilayah Kota Singaraja rata-rata karena habitat dari hewan-hewan tersebut mulai berkurang.

“Laporan untuk minggu-minggu ini cukup banyak. Itu kemungkinan karena faktor hujan dan disebabkan juga habitat hewan tersebut sudah mulai berkurang,” terang dia.

Baca Juga :  Wali Kota Jaya Negara Hadiri Puncak Karya Padudusan Agung di Segara Rupek

Sementara jika melihat penanganan ular dan biawak sepanjang tahun 2024 ini, Suardana menyebut untuk evakuasi ular masuk rumah sudah ada 151 laporan. Sedangkan biawak 39 laporan. Selain menerima dua laporan tersebut tidak jarang juga pihaknya dapat laporan untuk evakuasi sarang tawon yang total hingga Desember ini ada 28 laporan.

Kemudian terkait dengan tindakan pasca evakuasi, Suardana menjelaskan, semua hewan liar khususnya ular dan biawak dibawa langsung ke Kantor Damkar. Setelah itu pihaknya menyerahkannya ke pihak penangkaran hewan liar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA).

Baca Juga :  Bupati Sutjidra Fokus Benahi Sempadan Pantai Singaraja demi Kawasan Pesisir yang Lebih Tertata

“Jadi setelah dievakuasi, langsung diserahkan ke KSDA. Sedangkan untuk sarang tawon langsung kami lepaskan,” pungkas dia.(dar/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News