
BALIPORTALNEWS.COM, BADUNG – Pameran seni rupa bertajuk Double Flame menampilkan perjalanan artistik keluarga seniman Uut Bambang Sugeng dan putra sulungnya, Sinaga Gaotama, yang akrab disapa Dully. Diselenggarakan di Galeri Zen1 Bali, Tuban, Badung, pameran ini berlangsung selama sebulan dan menjadi momen istimewa bagi publik seni rupa untuk menyaksikan karya-karya Uut yang untuk pertama kalinya dipamerkan kepada umum.
Uut Bambang Sugeng lahir pada 1951 di Yogyakarta dari keluarga berdarah Cirebon dan Bojonegoro. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia pindah ke Bali untuk menemukan kebebasan berekspresi, khususnya dalam seni rupa dan musik. Pada 1979, kecintaannya pada musik membawanya ke India untuk mempelajari alat musik tradisional. Sekembalinya ke Bali, ia menikah dengan Desa Maya Waltraud Maler, seorang perempuan Austria, dan dikaruniai tiga anak: Sinaga Gaotama, Tipi Jabrik Noventin, dan Luna Maya Sugeng.
Luna Maya dikenal luas sebagai pekerja seni multitalenta yang menekuni dunia perfilman, musik, dan modeling. Sementara itu, Tipi Jabrik berkarier sebagai atlet selancar berprestasi internasional dan kini menjadi pelatih selancar. Istri Uut, Desa, juga memiliki kontribusi artistik melalui Boutique Banana, butik yang menjual batik rancangan Uut di Kuta, Bali.
Karya-karya Uut dalam Double Flame memperlihatkan kepekaannya terhadap momen-momen keseharian. Lukisan dan sketsa Uut menghadirkan objek-objek sederhana seperti orang duduk, manusia tidur, suasana warung, hingga pemandangan dari balik jendela. Dengan warna-warna cerah dan garis-garis ekspresif, Uut berhasil menangkap esensi psikologis dan estetika objek-objek tersebut. Baginya, yang utama bukanlah keakuratan visual, melainkan penghayatan dan penjiwaan.
Dully, putra sulung Uut, juga menunjukkan bakat artistik yang kuat. Selain melukis, ia mencintai musik dan sempat aktif sebagai gitaris dan vokalis band The Gotham. Dully juga pernah menjadi atlet selancar yang berkompetisi di berbagai negara, seperti Prancis, Spanyol, Amerika Serikat, dan Jepang.
Minatnya pada seni rupa muncul sejak muda. Saat tidak ada ombak, ia mengisi waktu dengan membuat sketsa di pantai. Meskipun sempat ditolak dari akademi seni rupa, Dully belajar melukis secara otodidak. Kini, dengan lebih banyak waktu setelah pensiun dari selancar, ia fokus mengembangkan bakat melukisnya dan telah menggelar beberapa pameran tunggal di Bali dan Jakarta.

Dalam Double Flame, Dully menampilkan seri lukisan bertema ombak dan tarian yang mencerminkan perpaduan dunia selancar, musik, dan seni. Karya-karya ini penuh warna cerah dan figur-figur abstrak dinamis yang menonjolkan semangat kebebasan.
Ditemui sela-seal acara, Senin (9/12/2024) malam, Director Galeri Zen1 Bali, Nicolaus Kuswanto mengungkapkan bahwa Double Flame menjadi penghormatan terhadap karya seni Uut yang selama ini hanya tersimpan di rumah.
“Melukis pada zaman itu sangat jujur. Karya Uut merekam kehidupan sehari-hari dengan sederhana, dan koleksinya sangat komplit,” ujar Nico kepada awak media.
Ia juga menambahkan bahwa karya-karya Uut tidak pernah dijual karena istrinya, Desa, ingin menjaga dan menghargai peninggalan suaminya.
“Pameran ini adalah kali pertama karya-karya ini diperlihatkan kepada publik. Kami merasa sangat terhormat dapat menjadi bagian dari apresiasi ini,” tutup Nico dalam wawancara tersebut.(tis/bpn)












