BALIPORTALNEWS.COM, KARANGASEM – Manusia yang beradab setidaknya memiliki common sense tentang pendidikan, bahwa pendidikan memiliki pearanan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan dapat mempengaruhi perkembangan manusia dalam seluruh aspek kepribadian dan kehidupannya. Pendidikan memiliki kekuatan (pengaruh) yang dinamis dalam kehidupan manusia di masa depan. Pendidikan dapat mengembangkan berbagai potensi individu yang dimilikinya secara optimal, yaitu pengembangan potensi individu yang setinggi-tingginya dalam aspek fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual, sesuai dengan tahap perkembangan serta karakteristik lingkungan fisik dan lingkungan sosiobudaya dimana dia hidup.
UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional menegaskan bahwa
pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, penyerahan diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Usaha sadar yang disebutkan tentu sebagai seorang guru harus secara sadar mempersiapkan segala sesuatu seperti membuat perencanaan yang benar dan baik sebelum mengajar.
Perlu diingat bahwa untuk bisa melakukan sesuatu agar berhasil haruslah giat mengupayakannya. Untuk hal tersebut dituntut keuletan, keilmuan, kemampuan, kecekatan dalam merencanakan dan mengaplikasikan apa yang diketahui sesuai keilmuan yang dikuasai.

Setiap peserta didik mempunyai kemampuan dan memiliki kecerdasan. Hal tersebut harus diupayakan lewat kegiatan pembelajaran agar mampu diaplikasikan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Apabila orang sudah memiliki pengetahuan maka mereka akan mampu mengarungi kehidupannya kelak.
Seperti telah dijelaskan di paragraf sebelumnya bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Untuk dapat mewujudkan tujuan tersebut, dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan diperlukan berbagai upaya aktif dari pendidik untuk mewujudkan pembelajaran yang efektif dan efisien. Proses pembelajaran di kelas akan berhasil jika dalam pelaksanaannya guru memahami dengan baik peran, fungsi dan kegunaan mata pelajaran yang diajarnya. Di samping mengetahui peran, fungsi dan kegunaan mata pelajaran, guru juga diharapkan mampu menerapkan berbagai metode ajar sehingga paradigma pengajaran dapat dirubah menjadi paradigma pembelajaran.
Untuk mampu melakukan semua hal yang diharapkan oleh pemerintah, maka sebagai seorang guru harus memiliki keterampilan dalam melaksanakan pembelajaran. Wardani dan Siti Julaeha menjelaskan tujuh syarat keterampilan yang mesti dikuasai guru dalam melaksanakan pembelajaran untuk disebut profesional, yaitu: 1) keterampilan bertanya, 2) keterampilan memberi penguatan, 3) keterampilan mengadakan variasi, 4) keterampilan menjelaskan, 5) keterampilan membuka dan menutup pelajaran, 6) keterampilan membimbing diskusi, dan 7) keterampilan mengelola kelas. Keterampilan-keterampilan ini berhubungan dengan kemampuan guru untuk menguasai dasar-dasar pengetahuan yang dapat memudahkan mereka untuk melakukan persiapan dan pelaksanaan proses pembelajaran untuk memberikan dukungan terhadap cara berpikir siswa yang kreatif dan imajinatif (Modul IDIK 4307: 1-30).
Rendahnya prestasi belajar siswa bisa saja disebabkan oleh rendahnya kemauan guru untuk menerapkan model dan strategi pembelajaran yang benar yang bisa membuat siswa aktif dalam belajar. Masih banyak guru lebih cenderung berperan sebagai penyampai materi ajar ketimbang sebagai seorang guru sejati yang seharusnya bertugas sebagai pendidik dan pengajar. Hal tersebut terjadi akibat rendahnya kemauan guru menyiapkan bahan yang lebih baik, termasuk kemauan guru itu sendiri untuk menerapkan metode-metode ajar yang lebih konstruktivis. Selain itu, guru kurang berkeinginan untuk mengembangkan keterampilan mengajar yang dapat menarik perhatian siswa dan merangsang siswa lebih aktif dalam belajar. Pengamatan peneliti terhadap siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Abang pada semester I tahun pelajaran 2021/2022 ternyata masih sangat rendah dengan pencapaian rata-rata 64,8 Hasil ini jauh di bawah KKM mata pelajaran Agama Hindu di sekolah ini yaitu 75 Adanya kesenjangan antara harapan-harapan yang telah disampaikan dengan kenyataan lapangan sangat jauh berbeda, dalam upaya memperbaiki mutu pendidikan yaitu pada mata pelajaran Agama Hindu, sangat perlu dilakukan perbaikan cara pembelajaran. Salah satunya adalah perbaikan pembelajaran dengan menggunakan metode Problem Based Learning (PBL). Metode ini berpijak pada dasar pemikiran bahwa semua manusia dilahirkan dengan rasa ingin tahu yang tidak pernah terpuaskan, serta mempunyai alat-alat yang diperlukan untuk memuaskannya. Pembelajaran dengan menerapkan metode Problem Based Learning (PBL). sebagai salah satu model, strategi, dan pendekatan pembelajaran khususnya menyangkut keterampilan guru dalam mematangkan materi lewat penyelesaian masalah. Dengan cara tersebut penelitian ini mampu menciptakan suasana pembelajaran yang efektif dan menggairahkan. Semua penjelasan di atas diupayakan sebagai solusi dalam mengatasi masalah prestasi belajar siswa yang masih rendah.
Metode
Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 2 Abang, BD Kebon, Desa Kertha Mandala, Kecamatan. Abang, Kabupaten. Karangasem. Waktu penelitian Bulan Nopember-Desember. Penelitian ini di lakukan pada semester Ganjil tahun ajaran 2021/2022. Jenis penelitian ini yaitu penelitian tindakan kelas (PTK), karena relevan dengan upaya pemecahan masalah pembelajaran. PTK bertujuan untuk perbaikan dan peningkatan layanan profesional guru dalam menangani kegiatan belajar mengajar. Desain penelitian tindakan kelas yang di gunakan adalah model dari Kurt Lewin, sebab model ini sangat sederhana serta mudah untuk di pahami. Model yang dikembangkan oleh Kurt Lewin terdiri dari empat komponen, dan keempat komponen tersebut memiliki ikatan yang menunjukkan adanya siklus. Adapun desain penelitian yang dimaksud adalahsebagai berikut:
- Planning (perencanaan)
Tahap ini merupakan tahapan awal yang telah di rumuskan. Berikut kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan yaitu:
- a) Menyiapkan perangkat perangkat pembelajaran (RPP, media pembelajaran, dan materi).
- b) Membuat naskah pembelajaran serta menentukan masalah yang hendakdigunakan pada saat penerpan pembelajaran problem based learning.
- c) Menyiapkan alat perekam berupa kamera untuk dokumentasi.
- d) Menyiapkan soal-soal untuk bahan evaluasi guna mengukur hasil belajarsiswa.
- b. Acting (pelaksanaan)
Aktivitas yang di lakukan pada tahap ini yaitu:
- a) Penyajian suatu masalah
(1) Membahas tujuan pembelajaran.
(2) Menjelaskan materi kepada siswa.
(3) Memberikan masalah terkait materi yang sedang di pelajari.
- b) Mengorganisasi pendidik
(1) Para siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang setiap kelompokterdiri dari 5 siswa.
(2) Membagi lembar kerja kepada setiap kelompok.
- c) Membimbing siswa
(1) Mengarahkan siswa saat belajar.
(2) Mengarahkan siswa saat diskusi kelompok.
- d) Berbagi informasi antar siswa
(1) Mengarahkan informasi yang sesuai dengan masalah.
(2) Memberikan feedback pada siswa.
- e) Menyajikan solusi permaslahan
(1) Mengarahkan siswa untuk menyiapkan hasil diskusi kelompok.
(2) Mengatur jalannya pemaparan hasil diskusi.
- f) Analisis dan tinjauan ulang
(1) Mejelaskan permasalahan yang di pecahkan.
(2) Meninjau kembali solusi permasalahan yang di pecahkan.
- c. Observation (pengamatan)
Kegitan ini di lakukan oleh pengamat yang menggunakan lembar observasi yang sudah dipersiapkan, sistem yang dilakukan oleh pengamat yaitu untuk mengamati aktivitas- aktivitas guru dan siswa di dalam kelas selama proses pembelajaran Agama Hindu melalui model problem based learning.
- d. Reflecting (refleksi)
Hasil yang dilakukan pada tahap pengamatan dikumpulkan dan dianalisis pada tahap ini. Demikian pula pada hasil evaluasi, hal-hal yang masih perlu dikembangkan serta diperbaiki dengan tetap mempertahankan hasil yang diperoleh dari sikap pertemuan.
PEMBAHASAN
Pada bagian ini, akan dipaparkan data yang diperoleh dari penelitian tindakan ini secara rinci berdasarkan penelitian yang dilakukan di SMP Negeri 2 Abang Sebelum menyampaikan hasil-hasil penelitian ada baiknya dilihat dahulu pendapat para ahli pendidikan berikut: dalam menyampaikan hasil penelitian dan pembahasan, perlu menyajikan uraian masing-masing siklus dengan data lengkap mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi yang berisi penjelasan tentang aspek keberhasilan dan kelemahan yang terjadi. Perlu ditambahkan hal yang mendasar, yaitu hasil pembahasan (kemajuan) pada diri siswa, lingkungan, guru, motivasi dan aktivits belajar, situasi kelas dan hasil belajar, kemukakan grafik dan tabel hasil analisis data yang menunjukkan perubahan yang terjadi disertai pembahasan secara sistimatis dan jelas (Suharsimi Arikunto, Suhardjono, Supardi, 2006: 83). Melihat paparan ini jelaslah apa yang harus dilihat dalam Bab ini yaitu menulis lengkap mulai dari apa yang dibuat sesuai perencanaan, hasilnya apa, bagaimana pelaksanaanya, apa hasil yang dicapai, sampai pada refleksi berikutnya semua hasilnya. Oleh karenanya pembicaraan pada bagian ini dimulai dengan apa yang dilakukan dari bagian perencanaan.
- 1. Siklus I
- 1. Rencana Tindakan I
Pelaksaan pembelajaran siklus I terdiri dari 4 tahap yaitu, perencanaan, pelaksanaan (tindakan), pengamatan (observasi) dan refleksi
- a. Perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan berbagai hal yang mendukung berjalannya penetilian yang menggunakan problem based leraning dalam
meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Agama Hindu dan Budi pekerti. Persiapan tersebut yaitu:
1) Menyiapkan instrumen pembelajaran yang terdiri dari rencana pelaksanaan
model problem based learning. Menyediakan lembar pengamatan yaitu lembar pelaksanaan pembelajaran.
2) Mempersiapkan pertanyaan yang sesuai pada materi pembelajaran.
3) Membuat soal tes hasil belajar untuk mengukur pemahaman siswa.
- b. Pelaksanaan (tindakan) pembelajaran
1) Pertemuan I
Siklus I dilaksakan tepat pada hari senin tanggal 13 desember 2022 pada jam
08:30 – 10.30 wita.
- a) Kegiatan awal
Guru memberi salam dan meminta ketua kelas untuk menyiapakan kelas serta memimpin doa. Kemudian guru mengecek kehadiran para siswa. Setelah itu, guru menjelaskan materi pembelajaran. Guru menjelaskan menginformasikan materi lalu dikaitakan dengan masalah yang biasa ditemui oleh siswa. Guru mendorong para siswa untuk terlibat aktif dalam proses belajar mengajar. Selanjutnya, guru membegi siswa kedalam beberapa kelompok setelah itu guru meminta kepada siswa untuk berkumpul ke kolompoknya masing-masing.
- b) Kegiatan inti
Guru menjelaskan materi tentang Kitab Suci Weda. Guru memberikan pertanyaan terkait dengan materi. Setelah itu, Guru menjelaskankegiatan apa yang akan dilakukan siswa dalam kelompok. Selanjutnya, guru memberikan lembar permasalahan untuk didiskusikan kepada setiap kelompok. Guru mengarahkan siswa untuk berdiskusi sesuai dengan kelompoknya. Adapun kelompok yang kurang paham dalam mengerjakan tugas yang diberikan, kemudian guru menjelaskan kembali maksud dari tugas tersebut. Guru mendorongsiswa agar lebih aktif dan memperbolehkan siswa mencari informasi untuk menyelesaikan kasus permasalahan tersebut dari berbagi sumber seperti buku. Setelah semua kelompok selesai memecahkan kasus permasalahan yang telah diberikan, kemudian guru mempersilakan perwakilan dari setiap kelompok untuk membacakan hasil diskusinya dan meminta kelompok lain untuk menanggapi kelompok yang sedang memaparkan hasil diskusinya.
Guru mengamati siswa selama proses pembelajaran. Setelah semua kelompok selesai memaparkan hasil diskusinya, kemudian guru mengemukakan pendapatnnya tentang hasil diskusi pada setiap kelompok. Siswa dipersilahkan menata ulang bangku sesuai dengan semestinya.
- c) Kegiatan akhir
Guru mengajak siswa untuk menyimpulkan pembelajaran yang sudah didiskusikan. Guru memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk bertanya terkait dengan pembelajaran yang kurang dipahami. Guru melakukan evaluasi untuk mengetahui pencapain hasil belajar siswa. Guru memberikan tes untuk di kerjakan siswa perindividu. Setelah selesai mengerjakan soal evaluasi, guru menutup proses pembelajaran
- c. Pengamatan (observasi)
Pengamatan di lakukan terhadap kegiatan guru dan siswa saat proses pembelajaran (kegitan mengajar guru) berlangsung. Pengamatan dilakukan untuk melihat tingkat keberhasilan dalam menggunakan model pembelajaran problem based learning. Berdasarkan pengamatan tersebut di peroleh data bahwa dalam melaksanakan aktivitas guru selama kegiatan belajar mengajar di laksanakan dapat di lihat pada lampiran 4 memperlihatkan keterlaksanaan pembelajaran pada siklus terdapat tanda centang (ya) ada 10 aspek dan nilai presentasenya 58,8 yang memasuki kategori tidak tuntas, hal ini dikarenakan siswa masih ragu dan malu dalam menanyakan masalah yang dihadapi dalam proses pembelajaran.
- d. Hasil evaluasi
Evaluasi di laksanakan dengan berpedoman pada kriteria penilain pada siklusI hasil belajar siswa pada pelaksanaan mengerjakan soal, siklus I dapat kita lihat pada lampiran 5 menunjukan bahwa hasil belajar siswa pada siklus I belum mencapai kategori ketuntasan. Pada siklus I nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah 64,8.
Tabel 2: Nilai statistik deskriptif hasil belajar siklus I
Statistik Nilai Statistik deskriptif
Subjek : 30
Nilai tertinggi : 80
Nilai terendah : 40
Nilai rata- rata : 64,8
Jumlah siswa yang tuntas : 18
Jumlah siswa yang belum tuntas : 12
Presentase ketuntasan siswa : 60%
Sumber : Data primer setelah diolah (2022)
Berdasarkan tabel diatas, jumlah siswa dalam penelitian ini yaitu 30, adapun nilai tertinggi yang diperoleh dari para siswa yaitu 80, sedangkan untuk nilai terendah yang diperoleh dari para siswa yaitu 40. Hal ini menunjukan bahwa belum terjadi peningkatan nilai rata-rata siswa, terdapat 18 siswa yang sudah mencapai batas KKM ≥ 75, sedangkan 12 siswa yang belum mencapai kategori ketuntasan. Presentase ketuntasan siklus I sebesar 60%. Hal tersebut menunjukan bahwa siklus I belum memenuhi kriteria indikator keberhasilan yaitu sebesar lebih dari 75% jumlah siswa.
- e. Refleksi
Penelitian pada siklus I menunjukan bahwa proses belajar mengajar dengan berpatokan pada RPP berjalan cukup baik. Berdasarkan hasil evaluasi masih ada siswa yang hasil belajarnya belum mencapai kategori ketuntasan. Pengamatan hasil belajar pada siklus I yang diikuti 30 orang siswa, hasil yang di peroleh yaitu dimana ada 18 siswa yang mencapai KKM baru 60%. Permasalahan yang terdapat pada siklus I yaitu masih terdapat kekurangan sehingga menuntut adanya perbaikan pada siklus selanjutnya. Dimana beberapa siswa yang ragu dalam menanggapi permasalahan serta menjawab pertanyaan yang diberikan. Sehingga hasil belajar siswa pada siklus I siswa yang mencapai KKM yaitu 60% dan sisahnya masih di bawah KKM.
Hasil refleksi dari siklus I di simpulkan bahwa hasil belajar siswa masih dikatakan rendah karena siswa yang mampu mencapai KKM yaitu 60% dan sisahnya masih di bawah KKM, hasil belajar perlu untuk ditingkatkan lagi. Maka dari itu penelitian akan berlanjut pada siklus II dan harus lebih baik dari pada sikl
- 2. Siklus II
- a. Perencanaan
Siklus II ini dilanjutkan karena hasil yang di peroleh pada siklus I belum memuaskan dan masih masuk pada kategori tidak tuntas. Namun ada beberapa perbaikan yang dilakukan agar hasil belajar siswa bisa meningkat. Berdasarkan hasil pengamatan dan refleksi yang telah dilakukan pada siklus I, ada beberapa hal yang perlu di lakukan dan ditingkatkan lagi pada siklus II, adapun persiapan perencanaan yaitu:
1) Menyusun perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelaksanaan model
problem based learning
2) Membuat lembar pengamatan berupa lembar pelaksanaan pembelajaran
3) Menyiapkan soal tes hasil belajar
4) Peneliti memotivasi siswa dengan cara memberikan pemahaman bahwadiskusi dan presentasi sangat dibutuhkan dalam kerja kelompok.
- 1. Pelaksanaan siklus II
Siklus II dilakukan tepat pada hari senin tanggal 23 Desember 2022 pukul
09:00 – 11:00 wita.
- Kegiatan awal
Guru memberi salam dan meminta ketua kelas untuk menyiapakan kelas serta memimpin doa. Kemudian guru mengecek kehadiran para siswa. Setelah itu,guru menjelaskan materi pembelajaran. Guru menjelaskan tujuan prosedur pembelajaran yang akan dilaksanakan. Guru menanyakan kesiapan belajar siswa. Selanjutnya, guru membagi siswa kedalam beberapa kelompok setelah itu guru meminta kepada siswa untuk berkumpul ke kolompoknya masing- masing.
- Kegiatan inti
Guru menjelaskan materi tentang Upaya-upaya Mengajarkan Weda. Guru mempersilahkan siswa untuk menyampaikan pemahaman mereka yang terkait padamateri yang telah diberikan, kemudian guru memberikan pertanyaan terkait dengan materi. Setelah itu, Guru menjelaskan secara rinci kegiatan yang akan dilakukan siswa disetiap kelompok. Selanjutnya, guru memberikan lembar permasalahan untuk didiskusikan dengan teman kelompok. Dalam proses diskusi, guru mendorong siswa untuk lebih aktif serta lebih giat lagi dalam mencari informasi, salah satunya yaitu dari berbagai sumber buku agar setiap kelompok bisa memecahkan permasalahan. Setelah semua kelompok selesai mengerjakan tugas yang diberikan, lalu guru mempersilakan perwakilan di setiap kelompok untuk membacakan hasil diskusi mereka lalu meminta kepada kelompok lain untuk menanggapi kelompok yang sedang menyampaikan hasil diskusi. Setelah semua kelompok selesai memaparkan hasil diskusinya, siswa dipersilahkan menata ulang bangku sesuai dengan semestinya. Guru mengevaluasi jalannya diskusi dengan cara memberikan penjelasan terkait kekurangan atau kelebihan siswa dalam berdiskusi maupun pada saat membacakan serta menjelaskan pembelajaran yang telah dilakukan.
- Kegiatan akhir
Guru bersama siswa menyimpulkan hasil pembelajaran yang telah di diskusikan. Guru mempersilahkan siswa bertanya jika masih ada pembelajaran yang tidak di pahami. selanjutnya guru memberikan soal tes yaitu pilihan ganda untuk dikerjakan siswa secara individu. Setelah mengerjakan soal tersebut, guru mengakhiri proses pembelajaran dengan memberikan salam.
- b. Pengamatan (observasi)
Pengamatan siklus II dilaksanakan serupa pada siklus I, dilaksanakan saat proses pembelajaran sedang berlangsung. Pengamatan dilaksanakan untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah model pembelajaran problem based learningdi terapkan. Aspek yang dinilai yaitu pengamatan aktivitas guru dan siswa selama kegiatan belajar menganjar berlangsung. Data hasil pengamatan tersebut dapat kita lihat pada lampiran 7 memperlihatkan bahwa siklus II terdapat 16 aspek terlaksana yang mendapatkan tanda centang (ya), sedangkan aspek yang tidak terlaksana terdapat 1 aspek. Hasil pelaksanaan tersebut dapat di ketahui bahwa guru sudah mampu untuk melaksanakan pembelajaran dengan baik. Dari hasil di atas dapat dilihat bahwa penerpan model problem based learning sudah dilaksanakan dengan baik.
- c. Pengamatan hasil belajar siswa pada siklus II
Hasil belajar siklus II dilaksanakan pada saat proses belajar menganjar dilakukan. Data hasil peserta didik selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 6 yang menunjukan bahwa hasil belajar siswa pada siklus II mengalami peningkatanyang sangat signifikan. Adapun nilai rata-rata siswa pada siklus II ini yaitu 87,2.
Tabel 3: Nilai statistik deskriptif hasil belajar siswa siklus II
Statistik Nilai Statistik Deskriptif
Subjek : 30
Nilai tertinggi :95
Nilai terendah : 70
Nilai rata-rata : 87,2
Jumlah siswa yang tuntas : 27
Jumlah siswa yang belum tuntas : 3
Prsentase ketuntasan kelas : 90%
Sumber : Data primer setelah diolah (2022)
Berdasarkan tabel diatas, jumlah siswa dalam penelitian ini yaitu 30, adapun yang mendapat nilai tertinggi dari para siswa yaitu 95, sedangkan untuk nilai yang rendah yang diperoleh dari para siswa yaitu 70. Jumlah siswa yang memperoleh nilai 70 yaitu
3 orang siswa, pada siklus II dapat diketahui bahwa nilai rata-rata siswa sebanyak
87,2 menunjukan adanya peningkatan nilai rata-rata siswa pada siklus I dan siklus II. Terdapat 27 siswa sudah mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM)yaitu nilai ≥ 75. Presentase ketuntasan siswa di siklus II sebesar 90% hal ini terlihat adanya peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa, jika di bandingkan dengan siklus I hasil presentase ketuntasan siswa hanya 60%. Pada siklus II dapat dikategorikan tuntas karena nilai ketuntasan siswa sudah memenuhi indikator yang sudah ditetapkan oleh sekolah yaitu 75%.
- d. Refleksi
Pada hasil pengamatan siklus pada II sudah menunjukkan bahwa adanya peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkannya pembelajaran model problem based learning. Pelaksanaan siklus II melalui model problem basedlearning siswa lebih aktif dan antusias dalam mengikuti proses pembelajaran dan mampu bekerjasama dalam menyelesaikan masalah serta rata-rata siswa sudah mulai berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Pada siklus II hasil belajar telah terlaksana dengan baik, terlihat dari ketuntasan siswa yaitu 90%, menujukkan bahwa yang tuntas telah memenuhi indikator keberhasilan sebesar 75%.
Berdasarkan refleksi di atas pada siklus II disimpulkan bahwa hasil belajar siswa telah mencapai indikator keberhasilan yang sudah ditetapkan oleh sekolah. Oleh karena itu peneliti mengakhiri penelitian ini karenakan telah mendapatkan tujuan yang diharapkan peneliti.
Lampiran 8 menunjukan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II, dimana pada hasil akhir tes siklus I hanya mencapai 60% yang berarti masuk dalam kategori tidak tuntas, sedangkan pada siklus II hasil tes akhir
90%, berada pada kategori tuntas. Hasil pembelajaran pada mata pelajaran Agama Hindu dan Budi pekerthi dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning yang dilaksnakan dalam dua bagian, yaitu siklus I dan siklus II mengalami peningkatan dari kategori tidak tuntas menjadi tuntas.
Pembahasan
Hasil pengamatan sebelum mengadakan penelitian dengan menerapkan model pembelajaran problem based learning. Guru menggunakan metode ceramah untuk mempermudah penyampain pembelajaran. Masih banyak siswa yang memilih untuk diam ketika guru memberikan sebuah pertanyaan serta tidak memperhatikan guru. Meningkatkan hasil belajar tidak datang begitu saja tetapi perlu diberi arahan dan bimbingan agar dapat berjalan maksimal.Melaksanakan proses pembelajaran Agama Hindu dan Budi Pekerthi terkhusus pada hasil belajar dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning ini, dimana nantinya siswa akan diberikan kesempatan untuk menyelesaikan suatu masalah dalam belajar khususnya pada mata pelajaran Agama Hindu dan Budhi Pekerthi.Penelitian yang berjudul ”Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Agma Hindu dan Budhi Pekerthi Pada Siswa Kelas VIIA SMPN 6 Abang, dengan menerpakan model pembelajaran tersebut presentase belajar siswa akan mengalami peningkatan.
Hasil belajar pada mata pelajaran Agama Hindu dan Budi pekerti diikuti oleh siswa yang berjumlah 30, nilai rata-rata pada siklus I yaitu 60 % yang masih berkategori (tidak tuntas). Hal ini terjadi karena siswa belum pernah belajar dengan menggunakan model pembelajaran serta masih banyak siswa yang masih malu untuk mengemukakan pendapatnya dan juga masih banyak siswa yang masih kurang paham dalammenggunakan langkah-langkah model pembelajaran problem based learning.
Berdasarkan proses pembelajaran pada siklus I menujukkan bahwa penelitian tersebut belum berhasil dari segi proses pembelajaran, disebabkan guru kurang memperhatikan langkah-langkah pembelajaran dan sebagian besar siswa kurang serius dalam mengikuti pembelajaran sehingga hasil belajar siswa masih kurang, belum mencapai indikator keberhasilan. Jumlah siswa yang mencapai KKM yaitu 18 siswa dengan presentase ketuntasan 60 % siswa yang belum mencapai KKM sedangkan nilai hasil pembelajaran nilai rata-rata siswa pada siklus II yaitu 87,2 (tuntas) jumlah siswa yang berhasil mencapai KKM yaitu 27 siswa dengan nilai presentase 90%.
Dilihat dari peningkatan nilai rata-rata hasil belajar siswa diketahui bahwa nilai rata-rata siswa adalah 64,8 dan presentase ketuntasan 60%. Hal tersebut menunjukan bahwa hasil belajar pada siklus I belum memperoleh kriteria ketuntasan minimal, sehingga berlanjut pada siklus II. Pada siklus II nilai rata-rata siswa mengalami peningkatan menjadi 87,2 serta presentase ketuntasan meningkatmenjadi 90%. Hasil belajar siklus II menunjukan nilai rata- rata siswa telah mencapai kategori ketuntasan. Pada siklus II mengalami peningkatan dikarenakan siswa sudah terbiasa serta sering dilatih oleh guru untuk menggunakan model pembelajaran problem based learning.
Hasil pembelajaran dalam penelitian ini mengalami peningkatan dari perbaikan siklus I
menuju siklus II dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning dimana siswa dibagi dalam beberapa kelompok serta menentukan masalah dalam proses pembelajaran sehingga siswa dapat menyelesaikan masalah tersebut, bersama dengan kelompoknya masing-masing kemudian mampu menjelaskan hasil belajar secara mandiri.
Peningkatan nilai rata-rata siswa serta ketuntasan siswa pada setiap siklusnya menunjukkan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran problem basedlearning hasil belajar siswa bisa meningkat, dan juga mampu membuat siswa untuk saling bekerjasma dalam kelompok serta mampu menyelesaikan masalah dalam proses pembelajaran. Dengan demikian model pembelajaran problem basedlearning ini bisa digunakan sebagai alternative dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan proses pembelajaran pada siklus II peneliti menyimpulkan bahwa penelitian tersebut sudah berhasil dari segi proses pembelajaran disebabkan karena guru sudah mulai memperhatikan langkah- langkah pelaksanaan pembelajaran yang disusun sebelumnya serta hasil belajar siswa sudah meningkat. Berdasarkan hasil observasi dan hasil belajar siswa, dapat dianalisis bahwa secara umum kegiatan pembelajaran pada siklus II ini sudah sesuai dengan yang diharapakan. Dalam pelaksanaan pembelajaran Agama hindu dan Budhi pekerti dengan penerapan model pembelajaran problem based learning, pencapaianindikator hasil belajar siswa memperoleh nilai rata-rata 87,2 berkategori tuntas. Hal ini menunjukan hasilbelajar siswa mengalami peningkatan dibandingkan dengan hasil belajar sebelumnya.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat di simpulkan bahwa hasilpenelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan ada II siklus, yaitu siklus I dan siklus II dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning untukmeningkatkan hasil belajar Agma Hindu Dan Budhi Pekerthi pada siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Abang. Pada siklus I hasil belajar yang dicapai siswa belum mencapai ketuntasan dengan memperoleh nilai rata- rata yaitu 64,8 yang masih berkategori (tidak tuntas), sedangkan pada siklus II mengalami peningkatan, peningkatantersebut memperoleh nilai rata-rata 87,2 dengan kategori (tuntas). Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran Agama Hindu dan Budhi Pekerthi dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Penulis :
- Putu Sukasari
- SMP Negeri 2 Abang
- Email: [email protected]













