Yayasan Puri Kauhan Ubud
Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana (tengah) saat memberikan keterangan pers pada Sabtu (6/7/2024). Sumber Foto : ads/bpn

BALIPORTALNEWS.COM, UBUD – Yayasan Puri Kauhan Ubud kembali menggelar ajang Sastra Saraswati Sewana untuk keempat kalinya pada tahun 2024. Acara yang akan berlangsung sepanjang bulan Juli ini mengangkat tema ‘Niti Raja Sasana’ atau ‘Tongkat Sastra Kepemimpinan Negeri’.

Tema ini dipilih untuk menyoroti kekayaan sastra dan ajaran kepemimpinan yang dimiliki Bali, serta relevansi ajaran tersebut dalam konteks kekinian.

Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana, menjelaskan bahwa sejak dimulai pada tahun 2021, Sastra Saraswati Sewana telah menjadi platform penting untuk menggali dan mengangkat nilai-nilai budaya Bali.

Pada edisi pertama, tema yang diangkat adalah “Pemarisuddha Gering Agung” untuk merespon dampak kemanusiaan akibat pandemi Covid-19. Tahun 2022, acara ini mengusung tema “Toya Uriping Bhuwana, Usadhaning Sangaskara” yang menekankan pentingnya konservasi air. Tahun lalu, tema “Wariga Usadha Siddhi” berfokus pada sistem perhitungan waktu dan ilmu pengobatan Bali.

“Tema tahun ini, ‘Niti Raja Sasana’, dipilih karena Bali memiliki kekayaan sastra dan ajaran kepemimpinan yang berlimpah. Terdapat banyak manuskrip yang berkaitan dengan kepemimpinan seperti Nitisastra, Dandhaniti, Raja Dharma, dan Arthasastra,” ungkap Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana saat memberi keterangan di hadapan awak media pada Sabtu (6/7/2024).

Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana. Sumber Foto : ads/bpn

Lontar-lontar bertema kepemimpinan yang diwarisi dari leluhur juga menjadi bagian penting dari tradisi ini. Sastra seperti Niti Praja, Nitisastra, dan Asta Brata yang berisi ajaran kepemimpinan dari kakawin Ramayana, menunjukkan betapa mendalamnya pengetahuan kepemimpinan yang dimiliki Bali.

“Acara ini juga relevan dengan momen penting pada tahun 2024, yaitu penyelenggaraan pemilu serentak di Indonesia,”tambahnya.

Dalam proses demokrasi ini, diharapkan terpilih pemimpin yang tidak hanya dipercaya rakyat tetapi juga mampu menjalankan pemerintahan dengan baik. Oleh karena itu, membicarakan nilai-nilai dan etika kepemimpinan berdasarkan sumber-sumber sastra menjadi sangat tepat sebagai persembahan kepada para pemimpin.

Tujuan Festival Sastra Saraswati Sewana 2024

  1. Menggali nilai-nilai dan sumber kepemimpinan Bali dari manuskrip dan sumber lisan warisan leluhur.
  2. Mengkaji relevansi nilai-nilai dan ajaran kepemimpinan Bali dalam konteks kekinian.
  3. Mengadaptasi dan merevitalisasi nilai-nilai dan ajaran kepemimpinan Bali sebagai panduan etik bagi para pemimpin terpilih.
  4. Meneruskan nilai-nilai dan ajaran kepemimpinan Bali pada generasi muda, khususnya Gen-Millennial dan Gen-Z.

Alur Kegiatan Festival Sastra Saraswati Sewana 2024

  • Sabtu, 6 Juli 2024 (Tilem): Dharma Panuntun dengan narasumber seperti Ida Pedanda Gede Putra Batuaji dan Bhikkhu Santacitto.
  • Sabtu, 20 Juli 2024 (Purnama): Pembukaan festival oleh Menkopolhukam, Marsekal TNI (Purn) Hadi Tjahjanto, serta pemberian Sastra Saraswati Sewana Nugraha kepada tokoh-tokoh berkontribusi besar pada pengembangan nilai-nilai kepemimpinan di Bali.
  • Minggu, 21 Juli 2024: Pengumuman pemenang Kompetisi Film Animasi bertema kepemimpinan, serta forum sharing session dengan Gary Bencheghib dan Ni Luh Pertama Djelantik.
  • Senin, 22 Juli 2024: Forum Niti Raja Gocara dengan sharing session dari tokoh-tokoh Bali di tingkat nasional dan tokoh lintas agama.
  • Selasa, 23 Juli 2024:Talkshow tentang Keris dan Wastra Puri sebagai pelengkap atribut kepemimpinan di masa lalu.
  • Melalui kegiatan ini, diharapkan semakin banyak program dan kegiatan yang membumikan ajaran kepemimpinan Bali, sehingga menjadi tongkat sastra bagi para pemimpin dan bermanfaat bagi masyarakat Bali, Nusantara, dan dunia. (ads/bpn)
Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News