Rawan Karhutla
Kalaksa BPBD Kabupaten Buleleng, Putu Ariadi Pribadi sebut ada 13 desa di tiga kecamatan yang rawan terjadi karhutla. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, BULELENG – Sebanyak 13 desa di Kabupaten Buleleng berpotensi mengalami Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla) mendekati musim kemarau. Desa yang berpotensi ini berada di tiga kecamatan yang wilayahnya di bawah pengelolaan UPTD. KPH Bali Utara.

Adapun desa-desa ini diantaranya Desa Tejakula, Les dan Tembok di Kecamatan Tejakula, Desa Sumberklampok, Pejarakan, Sumberkima, Pemuteran, Banyupoh, Musi, Patas dan Pengulon di Kecamatan Gerokgak, dan terakhir ada Desa Pangkung Paruk dan Unggahan di Kecamatan Seririt.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buleleng, Putu Ariadi Pribadi mengatakan, tahun 2024 khususnya di Bali Utara cukup rawan terjadi Karhutla.

Hal tersebut berdasarkan data yang ada Kabupaten Buleleng memiliki 37.159.21 hektar luasan kawasan hutan di bawah pengelolaan UPTD. Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bali Utara. Sementara luasan kawasan hutan di bawah pengelolaan Balai Taman Nasional Bali Barat (BTNBB) sebanyak 19.026,97 hektar.

Baca Juga :  Sekda Suyasa Minta Paskibraka Wajib Memahami Kekuatan Buleleng

“Hutan di Buleleng banyak, 13 desa yang tadi saya sebutkan ini berpotensi sangat rawan. Misalnya di Gerokgak, kalau musim kemarau, semua kering sekali. Sangat berpotensi terjadi kebakaran,” jelasnya saat ditemui pada Selasa (21/5/2024).

Menurutnya, faktor alam dan manusia bisa menjadi penyebab terjadinya karhutla. Ariadi mencontohkan kebiasaan masyarakat membuang puntung rokok sembarangan, juga menjadi faktor karhutla. Selain dengan pemakaian api dan asap dalam pencarian madu di hutan.

Juga faktor angin yang menyebabkan timbulnya gesekan antar ranting kayu di hutan, yang juga menjadi penyebab kebakaran. Juga sambaran petir sampai kenaikan suhu di hutan.

“Jadi harus dipastikan, kalau menggunakan api di hutan, dipastikan dulu benar-benar mati baru ditinggalkan. Mari kita seluruh masyarakat menjaga kegiatan di sekitar hutan untuk kurangi dampak karhutla,” lanjutnya.

Ariadi menambahkan, pihaknya kini sudah membentuk komunitas relawan untuk membantu dalam menangani karhutla. Komunitas itu disebut masyarakat peduli api, yang dibentuk bersama dengan KPH Bali Utara dan TNBB. Ke depan, relawan-relawan itu akan ikut membantu penanganan karhutla, bila terjadi di 13 desa tersebut.

“Relawan-relawan itu akan bantu penanganan secara kolaboratif,” singkatnya.(dar/bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News