tpid jembrana
TPID Kabupaten Jembrana Siap Menjaga Ketersediaan dan Stabilitas Harga Barang. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, JEMBRANA – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Jembrana menyelenggarakan High Level Meeting (HLM) pada Rabu (20/7/2022), dalam rangka menjaga ketersediaan serta harga bahan di Kabupaten Jembrana.

Rapat dilaksanakan secara langsung di Kantor Bupati Jembrana dan dipimpin oleh Bupati Jembrana. Kegiatan HLM dihadiri oleh Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, serta seluruh anggota TPID Kabupaten Jembrana.

Bupati Jembrana, I Nengah Tamba, menyampaikan High Level Meeting diharapkan dapat memberikan gambaran dan pedoman bagi TPID Kabupaten Jembrana dalam mengambil langkah stabilisasi ekonomi di Kabupaten Jembrana. Pasca pandemi Covid-19, masih terdapat beberapa pengaruh global, seperti harga minyak dan beberapa sektor migas lainnya terhadap daya beli masyarakat di Kabupaten Jembrana. Meskipun demikian, ekonomi Kabupaten Jembrana diyakini akan bergerak maju. Salah satu hal yang dilakukan adalah ground breaking pasar oleh yang akan dijadikan gedung pusat oleh-oleh Kabupaten Jembrana. Pembangunan pusat oleh-oleh Jembrana menjadi salah satu cara untuk menggerakkan UMKM Kabupaten Jembrana.

Bupati Tamba juga menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia yang melakukan hal serupa. Alat 52% Sekretaris Daerah Kabupaten Jembrana sebagai pelaksana harian TPID Kabupaten Jembrana, I Made Budiasa menyampaikan tingkat perkembangan harga konsumen di Kabupaten Jembrana.

Baca Juga :  Sistem Pembayaran Digital QRIS Alami Peningkatan

“Juni 2022, terdapat beberapa komoditas yang mengalami peningkatan seperti minyak goreng, daging ayam ras, telur ayam ras, cabai merah besar, cabai rawit merah, bawang merah, kacang panjang, kangkung, pisang ambon, gulaku/merek sejenis (putih), dan tepung terigu. Sedangkan, terdapat beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga, seperti beras medium, daging babi, bawang putih, jeruk lokal, ikan tongkol/pindang. Beberapa penyebab kenaikan harga tersebut antara lain (1) adanya faktor cuaca yang berpengaruh pada produksi bahan pokok, khususnya makanan yang mudah menguap, (2) ketersediaan pasokan Kabupaten Jembrana masih bergantung dari luar daerah, (3) adanya penyakit mulut dan kuku (PMK) yang mungkin terjadi mengganggu pasokan daging, (4) tahun ajaran baru menyebabkan beberapa kenaikan harga untuk kebutuhan sekolah, serta (5) kenaikan harga yang diatur pemerintah, seperti Tarif Dasar Listrik (TDL), BBM, dan gas,” ucap Bupati Tamba.

Lebih lanjut, Budiasa menyampaikan beberapa pelaksanaan kebijakan yang telah dilakukan, seperti (1) pengumpulan data dan informasi harga setiap hari, (2) melakukan informasi harga bahan pokok melalui videotron oleh Dinas Kominfo, (3) melaksanakan pasar murah, (4) edukasi masyarakat tentang inflasi dan belanja belanja dan lainnya.

Baca Juga :  Bank Indonesia Optimis Perekonomian Bali Tumbuh Positif Tahun 2021

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, G. A. Diah Utari menambahkan perlu peningkatan kewaspadaan mengingat Juni 2022, inflasi konsepsi (ytd) Bali sudah melampaui rentang target inflasi nasional (3 + 1 %) yakni sebesar 4,2 %.

Faktor eksternal yang turut mendorong kenaikan inflasi dalam negeri melalui X B BANK INDONESIA kenaikan harga bahan pangan , kenaikan harga energi dan pelemahan nilai tukar . Faktor – faktor tersebut yaitu (1) krisis geopolitik, (2) kebijakan proteksi pangan, (3) kebijakan zero covid di Tiongkok, (4) gangguan rantai pasok dan (5) kenaikan suku bunga di negara maju yang mendorong pergerakan aliran modal ke negara maju dan akhirnya berakibat pada pelemahan nilai tukar.

Tampilan Mobile Lebih lanjut, Diah menambahkan inflasi Juni 2022 di Provinsi Bali terutama bersumber dari kenaikan harga kelompok volatile food ( cabai rawit , cabai merah , dan bawang merah ). Hal ini disebabkan oleh curah hujan yang tinggi sehingga mempengaruhi pasokan komoditas tersebut.

“Penyumbang inflasi disusul Core Inflation yakni canang sari. Beberapa potensi ke depan yang perlu diwaspadai vakni pola historis volatile food dalam tren meningkat pada Agustus-September. Komoditas daging sapi juga perlu diwaspadai seiring dengan adanya potensi risiko penyebaran penyakit mulut dan Kuku (PMK  di Bali yang berpotensi mengganggu pasokan daging sapi,” kata Diah.

Baca Juga :  Tingkatkan Kualitas Pelayanan Publik, Bank Indonesia Provinsi Bali Resmikan BI Corner STAHN Mpu Kuturan

Lebih lanjut, Diah mengatakan, Sementara di sisi inflasi dari harga barang yang diatur Pemerintah, terdapat risiko kenaikan tarif dasar listrik , harga gas dan energi yang dapat menimbulkan dampak lanjutan pada peningkatan harga bahan makanan jadi dan kenaikan tarif tiket pesawat.

“Bank Indonesia memberikan beberapa rekomendasi yaitu perlunya upaya bersama yang intensif dalam jangka pendek untuk mengendalikan inflasi bahan pangan khususnya komoditas hortikultura ( 1 ) menjaga evaluasi stok bahan pangan untuk internal Bali diantaranya dengan mendorong KAD antara daerah yang surplus dengan defisit bahan pangan, ( 2 pangan) pertanian) distribusi untuk mengurangi biaya diantaranya dengan langsung produk oleh Perusda, (3) untuk mengintensifkan operasi pasar murah produk pangan agar lebih nyata terhadap inflasi, serta ( 4 ) mengintensifkan kembali gerakan tanam di pekarangan rumah dan memberikan bantuan bibit cabai untuk rumah tangga,” ucapnya. (bpn)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini