Bau Sampah
Mahasiswa UGM Buat Eco Lindi Cairan Penetral Bau Sampah. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, YOGYAKARTA – Air lindi atau cairan yang dihasilkan dari pemaparan air hujan di tumpukan sampah masih menjadi persoalan lingkungan. Tidak hanya menimbulkan bau tidak sedap, air lindi juga membahayakan lingkungan dan bisa berdampak kesehatan jika tidak diolah dengan benar.

Namun, ditangan Mahasiswa Fakultas Biologi UGM, Raina Nura Anindhita, air lindi berhasil disulap menjadi sesuatu yang bernilai guna. Raina berhasil mengolah air lindi menjadi formula untuk menetralkan bau sampah bernama Eco Lindi.

“Eco lindi ini dibuat dari air lindi dicampur dengan sisa air tebu (molase), asam sulfat, dan katalis organik dan hasilnya terbukti bisa menghilangkan bau tak sedap sampah,” jelasnya, Jumat (3/6/2022) saat bincang-bincang dengan wartawan di UGM.

Gadis asal Desa Prasung, Kecamatan Buduran, Sidoarjo ini memaparkan pembuatan eco lindi cukup sederhana dan mudah. Air lindi, molase, asam sulfat dan katalis dicampur dalam satu wadah kedap udara atau tangki. Dalam satu hari bisa memproduksi 10 ribu liter eco lindi.

Baca Juga :  JDM Funday Mandalika Time Attack 2024, Para Pembalap Siap Bertanding di Pertamina Mandalika International Circuit

Sementara untuk penggunaannya, lanjutnya, cairan hanya disemprotkan ke timbunan sampah. Dalam waktu kurang dari 10 menit eco lindi akan bereaksi menetralkan bau sampah.

“Reaksinya sekitar 3-10 menit setelah disemprotkan ke sampah tidak tercium bau lagi,” terangnya.

Eco lindi telah diujicobakan untuk mengatasi persoalan bau di tempat pembuangan akhir (TPA) dan lingkungan pasar. Selain itu juga di peternakan. Hasilnya, formula ini dinyatakan aman untuk ternak.

“Formula ini dapat diaplikasikan di semua limbah yang memproduksi bau selain itu juga bisa digunakan sebagai pupuk,” tuturnya.

Baca Juga :  Suzuki Baleno Banyak Diincar Pekerja Muda Produktif

Raina mengungkapkan pengembangan eco lindi ini hasil dorongan dari sang ayah yang kala itu menjabat sebagai Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Sidoarjo. Ia ditantang ayahnya untuk ikut mencari solusi atas persoalan sampah di TPA, terutama mengatasi bau sampah.

“Proses penetralan bau dan komposting yang biasa dilakukan memerlukan waktu sekitar 6-8 minggu.  Saya ditantang ayah untuk mempersingkat waktu menghilangkan bau dan setelah melalui diskusi dan berbagai kajian akhirnya ketemulah formulasi eco lindi ini,” katanya.

Baca Juga :  Pajak Atas Usaha Ekonomi Digital Tembus Rp24,12 Triliun

Inovasi yang dikembangkan Raina ini tidak hanya memberikan alternatif solusi dalam mengatasi persoalan lingkungan. Namun juga berhasil menyabet penghargaan Trash Control Heroes dari Bupati Sidoarjo, Ahmad Muhdlor.(bpn)

Dapatkan berita terbaru dari Baliportalnews.com di Google News