Telung Barung
Jadi Duta Denpasar, Sekaa Baleganjur Telung Barung Desa Adat Penatih Siap Berlaga di PKB XLIV. Sumber Foto : Istimewa

BALIPORTALNEWS.COM, DENPASAR – Sekehe Baleganjur Remaja Telung Barung, Desa Adat Penatih yang menjadi Duta Kota Denpasar pada Lomba Baleganjur Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIV Tahun 2022 dibina Tim Kesenian Provinsi Bali di Jaba Pura Desa, Desa Adat Penatih, Kamis (12/5/2022) malam. Pembinaan tersebut dihadiri langsung Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara bersama Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, Sekda Kota Denpasar, IB Alit Wiradana dan anggota DPRD Kota Denpasar Ketut Buda.

Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Jaya Negara memberikan apresiasi atas berbagai persiapan yang dilaksanakan duta kesenian Kota Denpasar, khususnya Sekaa Baleganjur Telung Barung, Desa Adat Penatih, Duta Kota Denpasar.

Baca Juga :  Siap Tampilkan Kisah “Ceti” di PKB Ke-39, Sekaa Arja Arsa Winangun Poh Gading Dibina

“Saya berharap seluruh duta kesenian Kota Denpasar yang akan berlaga di PKB, khususnya Sekaa Baleganjur Telung Barung ini dapat menjaga penjiwaan, emosi serta konsistensi penampilan, sehingga saat pentas nanti dapat memberikan hasil yang maksimal dan sesuai dengan pakem, uger-uger serta pembawaan seni itu sendiri. Serta seluruh seniman harus tetap semangat memberikan hasil maksimal, dan tetap jaga kesehatan,” ujarnya.

Sementara Kordinator Sekaa Baleganjur Telung Barung Gusti Putu Nuada mengatakan, Sajian pementasan dikemas apik dengan mengangkat cerita Karesian.

Dimana Karesian adalah sistem kelola air pada zaman bali kuno yang mengelola lima pokok sumber air; air laut, air danau, pancoran, telaga, dan sumber mata air / empul. Kelima sumber mata air ini identik dengan Panca Tirta. Panca Tirta terformulasi dalam “Siwambha” seorang pendeta melalui Japa, Mantra, Puja yang teraplikasikan pada elemen melodi, ritme, dinamika. Mudra diaplikasikan dengan gerak. Genta diaplikasikan sebagai penyelaras atau transisi. Semua itu merupakan gabungan dari Sapta Gangga menjadi Amerta (sumber kehidupan).

Maka dari itu seorang pendeta dalam memformulasi Sapta Gangga diistilahkan melaksanakan ‘Yoga Candi Air’ yang identik dengan Panca Rsi, sama halya dengan penggarap gending dan penggarap gerak dalam menciptakan karya balaganjur ini. Candi air sebagai sumber kehidupan berfungsi sama seperti sastra untuk memberikan pencerahan dan pembersihan pikiran yang kotor.

Baca Juga :  Fragmentari Kolaborasi Pesona Pura Sakenan Akan Hiasi Pawai PKB ke-39

“Jadi Karesian (tata kelola air/sastra), Karatuan (tata kelola pemerintahan), dan Karaman (tata kelola masyarakat). Ketiga tata kelola tersebut diejawantahkan dalam keseimbangan, keserasian dan keselarasan antara teori, penggarap, dan pendukung sebagai sumber hidupnya keindahan dalam karya seni balaganjur. Dan dalam persiapan pentas di PKB yang akan datang, kami telah menyiapkan penari dan penabuh generasi muda yang telah dipersiapkan sekitar 3 bulan yang lalu,” pungkasnya.(bpn)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini